AdvertorialSumbawa Barat

AMMAN Dampingi Petani Desa Tatar Kelola Pertanian Organik Berkelanjutan

Sumbawa Barat (NTBSatu) — PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) memperluas cakupan Program Pengembangan Pertanian Organik hingga ke Desa Tatar, Kecamatan Sekongkang, Sumbawa Barat.

Langkah strategis ini bertujuan memperkuat struktur nafkah rumah tangga petani melalui penerapan sistem Pertanian Sehat, Ramah Lingkungan, dan Berkelanjutan (PSRLB). Kehadiran program ini menjadi babak baru dalam memulihkan kondisi sosio-ekologis lahan warga setempat.

Ekstensifikasi program diawali melalui Studi Assessment untuk memetakan potensi lokal serta tantangan lahan konvensional. Pemetaan menyeluruh tersebut menjadi landasan penting dalam merancang pola pendampingan yang tepat sasaran bagi warga.

Selanjutnya, rangkaian pendampingan berlanjut dengan Pelatihan Ekologi Tanah (PET) pada 4–10 Oktober 2026. Sebanyak 84 partisipan dari unsur warga, Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar Merah, hingga petani milenial tampak antusias menyerap ilmu baru.

PT AMNT bersama mitra pelaksana Aliksa Organik SRI Consultant berkomitmen mendampingi para petani secara telaten. Kolaborasi ini berfokus pada pemulihan kesuburan tanah yang sempat terdegradasi akibat paparan zat kimia secara terus-menerus.

Manager Partnership Social Impact AMMAN, Anindya Praharsacitta Nirbito menjelaskan, program ini dirancang untuk membangun kapasitas teknis dan kelembagaan petani secara mandiri. Langkah tersebut berorientasi pada efisiensi biaya produksi sekaligus peningkatan produktivitas hasil panen.

“Kami berharap program ini dapat memberikan pengetahuan baru mengenai pertanian organik dan dapat diperluas jangkauan serta capaiannya ke depan,” ujar Anindya Praharsacitta Nirbito, Minggu, 18 Oktober 2026. 

Sentuhan Tangan Perempuan Tatar

Sebelum menyapa Desa Tatar, program serupa telah menorehkan jejak manis di Kecamatan Maluk, khususnya Desa Benete dan Maluk. Hasil panen padi organik di wilayah tersebut melonjak tajam hingga mencapai rata-rata 7,34 ton per hektar dari sebelumnya 4 ton per hektar.

Keberhasilan itu kini menular ke Desa Tatar melalui pembangunan Rumah MOL Komunal dan Rumah Kompos Komunal. Sebanyak 13 petani wanita yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar Mekar belajar memproduksi Mikroorganisme Lokal (MoL) serta pupuk organik secara mandiri dari bahan alami sekitar. 

Proses pembuatan MoL ini memanfaatkan bahan-bahan organik lokal seperti buah maja atau bonggol pisang yang dicampur dengan air kelapa, air beras, serta gula merah sebagai pengawet alami. Seluruh bahan dicampur merata dan melalui proses fermentasi selama 14 hari, sebelum akhirnya disaring dan dapat disimpan hingga satu tahun. 

Pengembangan di Desa Tatar menyiapkan lahan seluas 142 Are untuk target budidaya periode Desember 2026 hingga Maret 2027. Alokasi tersebut mencakup Padi SRI Organik seluas 105 Are, sayuran SORGA seluas 35 Are, serta Tanaman Obat Keluarga (TOGA) seluas 2 Are.

Ketua Presidium Pertanian Organik Tatar, Nikmah mengungkapkan, warga kini semakin bersemangat mengolah lahan tanpa ketergantungan pupuk kimia. 

“Kami di sini walaupun perempuan semua, jadi tergiur dan semakin semangat ingin berkembang,” tuturnya.

Di sisi lain, Kepala Desa Tatar, M. Yunus, menegaskan komitmen penuh pihak pemdes untuk mengawal keberlanjutan program melalui regulasi desa. 

“Kami melihat ini sebagai investasi jangka panjang untuk memulihkan tanah kami dan mengembalikan kesehatan masyarakat,” tegas Yunus.

Beras Organik Laris Manis 

Kualitas dan cita rasa hasil panen organik yang unggul mendorong perluasan pasar hingga wilayah Benete dan Maluk. Konsumen bahkan langsung memborong beras organik hasil olahan warga hingga pembeli harus mengantre melalui sistem pre-order (PO).

“Beras ini saking langkanya sampai harus PO, karena rasanya yang wangi dan enak,” ungkap Presidium Pertanian Organik Maluk, Hamzah. 

Melalui sinergi bersama Pemerintah Desa Tatar, Penyuluh Pertanian (BPP), dan Maluk Ecopile, AMMAN optimistis kedaulatan pangan warga makin kokoh. Koperasi Lebah Emas nantinya memasarkan seluruh hasil panen dan produk turunannya secara kolektif.

Pada akhirnya, riak semangat warga Desa Tatar menjadi bukti bahwa merawat bumi dengan cara alami sanggup menghidupkan harapan baru. Kedaulatan pangan pun tak lagi sebatas wacana, melainkan nyata bersemi dari peluh dan senyum para petani lokal. (*)

Artikel Terkait