Suhu di Bima Capai 37 Derajat Celsius, BMKG Ungkap Penyebabnya
Bima (NTBSatu) – Suhu udara di Bima mencapai 37 derajat Celsius di tengah kemarau panjang yang melanda Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan bukan penyebab langsung kondisi panas tersebut.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG NTB, Nuga Putrantijo mengatakan, analisis meteorologi belum menemukan bukti yang menghubungkan suhu ekstrem di Bima dengan asap karhutla Kalimantan.
“Belum ada bukti meteorologis yang cukup untuk menyimpulkan bahwa suhu 37°C di Bima disebabkan oleh asap karhutla Kalimantan,” kata Nuga kepada NTBSatu, Senin, 19 Oktober 2026.
Bahkan, berdasarkan pemantauan citra satelit BMKG, sebaran asap karhutla saat ini tidak terpantau di atmosfer NTB. Arah angin di wilayah tersebut juga masih dominan dari timur hingga tenggara.
Temuan ini sekaligus meluruskan informasi di media sosial yang menyebut asap karhutla menyebabkan kondisi panas di seluruh wilayah Indonesia termasuk Bima, NTB. BMKG meminta masyarakat memahami kondisi atmosfer berdasarkan hasil pemantauan, bukan sekadar dugaan.
El Niño dan Minimnya Awan Perkuat Panas
Menurut Nuga, suhu tinggi di Bima lebih berkaitan dengan sejumlah faktor atmosfer dan karakteristik wilayah. Faktor tersebut meliputi posisi semu Matahari, minimnya tutupan awan, pengaruh El Niño, serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
“Pada Oktober, posisi semu Matahari berada di selatan ekuator. Kondisi ini membuat NTB menerima penyinaran Matahari yang relatif intens,” jelas Nuga.
Selain itu, minimnya tutupan awan memungkinkan radiasi Matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal. Akibatnya, permukaan tanah dan udara mengalami pemanasan lebih kuat.
Pengaruh El Niño dan IOD positif juga dapat menekan pembentukan awan hujan. Kedua fenomena tersebut memperkuat kondisi kering di sebagian wilayah Indonesia.
“Berdasarkan analisis BMKG, El Niño sangat kuat, IOD positif, posisi Matahari, dan minimnya tutupan awan berkontribusi terhadap kondisi panas di Indonesia,” jelasnya.
Karakteristik lokal Bima turut memengaruhi suhu udara. Topografi, tutupan vegetasi, kelembapan tanah, dan sirkulasi angin lokal menjadi faktor tambahan.
Langit Mendung Belum Tentu Hujan
Kondisi panas ini berlangsung ketika sejumlah wilayah NTB masih menghadapi musim kemarau panjang. Warga juga mempertanyakan langit yang terlihat mendung, tetapi tidak menghasilkan hujan.
Nuga menjelaskan, keberadaan awan atau kondisi langit yang tampak mendung tidak otomatis menandakan hujan akan turun.
“Pembentukan hujan bergantung pada dinamika atmosfer dan perkembangan awan,” jelasnya.
Sebelumnya, BMKG memprediksi sebagian wilayah NTB mulai memasuki musim hujan pada akhir November 2026. Kota Mataram dan sebagian wilayah Lombok Barat diperkirakan memasuki musim hujan pada dasarian ketiga November.
Nuga menjelaskan, asap karhutla memang dapat memengaruhi keseimbangan radiasi atmosfer. Namun, dampaknya terhadap suhu tidak selalu berupa peningkatan panas.
Partikel asap yang tebal dapat mengurangi radiasi Matahari yang mencapai permukaan bumi. “Dalam kondisi tertentu, asap ini justru dapat menurunkan suhu permukaan pada siang hari,” jelasnya.
Sebaliknya, partikel asap yang menyerap radiasi dapat memicu pemanasan pada lapisan atmosfer tertentu. Karena itu, hubungan antara asap dan suhu membutuhkan analisis berdasarkan kondisi atmosfer setempat.
Berdasarkan pemantauan BMKG pada 17 Oktober 2026, sebaran asap terpantau di beberapa wilayah Indonesia. Arah pergerakannya dominan menuju barat laut hingga timur laut.
Meski demikian, citra satelit BMKG belum menunjukkan sebaran asap tersebut mencapai atmosfer NTB. (*)




