Kenapa Cuaca di NTB Terasa Lebih Panas? Berikut Penjelasan BMKG
Mataram (NTBSatu) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi (Stamet) Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) meminta masyarakat di NTB mengantisipasi peningkatan suhu udara yang melanda wilayah ini sepanjang periode kemarau.
Prakirawan BMKG ZAM, Anggi Dewita, menegaskan fenomena cuaca yang terasa sangat terik saat ini merupakan kondisi wajar yang biasa terjadi pada periode kemarau di kawasan NTB.
“Saat ini wilayah NTB masih berada di periode musim kemarau. Pada periode ini, massa udara kering yang bertiup dari BBS menyebabkan berkurangnya pertumbuhan awan. Sehingga radiasi matahari akan lebih banyak mencapai bumi. Karena tidak ada tutupan awan,” ujarnya kepada NTBSatu pada Jumat, 18 September 2026.
Dinamika Massa Udara Kering
Anggi memaparkan ketiadaan tutupan awan membuat radiasi sinar matahari menembus langsung hingga ke permukaan tanah tanpa hambatan atmosferik.
”Radiasi tersebut secara langsung akan meningkatkan suhu udara di permukaan bumi. Sehingga merupakan hal yang normal bila suhu udara saat ini menjadi panas,” lanjutnya.
Fenomena cuaca panas menyengat di kawasan Lombok dan Sumbawa bersumber dari pergerakan dinamika atmosfer yang berlangsung selama musim kemarau.
Aliran massa udara kering yang bergerak konstan dari Belahan Bumi Selatan (BBS) menahan dan meminimalkan potensi pertumbuhan awan hujan di seluruh wilayah NTB.
Minimnya akumulasi tutupan awan membuat pancaran sinar matahari jatuh secara optimal ke daratan.
Kondisi inilah yang mendorong kenaikan suhu udara secara signifikan. Sehingga masyarakat merasakan sengatan panas yang jauh lebih kuat baik saat berada di luar maupun di dalam ruangan.
Mitigasi Dampak Suhu Ekstrem
BMKG menekankan pentingnya perlindungan diri secara mandiri bagi warga yang harus menjalankan mobilitas di luar gedung atau tempat terbuka. Penggunaan alat pelindung diri seperti tabir surya, topi, maupun pakaian tertutup menjadi sarana efektif untuk menangkal paparan radiasi ultraviolet secara langsung.
Selain perlindungan fisik, BMKG juga menginstruksikan masyarakat untuk selalu menjaga asupan cairan tubuh demi menghindari ancaman dehidrasi di tengah paparan udara kering.
“Betul, kurangi paparan di bawah matahari terik dan cukup minum untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi,” imbaunya.
Ia mengimbau masyarakat agar membatasi aktivitas fisik berat di area terbuka, khususnya pada jam-jam siang hari saat intensitas radiasi matahari mencapai puncaknya. Langkah penyesuaian sederhana ini sangat penting untuk menjaga kebugaran tubuh serta mencegah gangguan kesehatan akibat sengatan cuaca terik. (*)




