Kota MataramPemerintahan

TPA Kebon Kongok Penuh, Pemkot Mataram Putar Otak Atur 325 Ton Sampah per Hari

Mataram (NTBSatu) – Persoalan sampah di Kota Mataram semakin pelik, ketika Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Regional Kebon Kongok mulai kehabisan daya tampung. Karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB membatasi ritase pembuangan sampah dari Kota Mataram.

Kebijakan tersebut membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram harus mencari cara agar produksi sampah yang mencapai sekitar 325 ton per hari tetap tertangani.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi mengatakan, pembatasan ritase sudah berjalan sekitar satu pekan terakhir. Armada Mataram yang sebelumnya mendapat kuota empat ritase kini hanya boleh mengangkut satu ritase menuju TPA Regional Kebon Kongok setiap hari.

IKLAN

“Kami mengikuti instruksi dari DLH Provinsi untuk membuang sampah hanya satu ritase per hari. Alasannya karena TPA Kebon Kongok saat ini sudah penuh, sementara pembangunan landfill ketiga belum bisa dieksekusi oleh pihak provinsi,” ujar Denny, Rabu, 16 September 2026.

325 Ton Sampah, Hanya 70 Ton Terangkut

Pembatasan tersebut membuat kemampuan pengangkutan sampah turun cukup drastis. Satu ritase hanya mampu membawa sekitar 64 hingga 70 ton sampah menuju Kebon Kongok. Sementara produksi sampah Mataram mencapai sekitar 325 ton setiap hari.

Kondisi itu membuat ratusan ton sampah harus mendapat penanganan lain sebelum Pemkot kembali memperoleh kesempatan membuang sampah ke TPA.

IKLAN

“Kami sedang mencoba melobi DLH Provinsi agar Mataram bisa diberikan izin membuang minimal dua ritase per hari. Jika hanya satu ritase, sisa sampah yang ratusan ton itu terpaksa harus kami simpan dan alihkan sementara,” jelas Denny.

Pemkot Mataram kini mencari ruang penampungan sekaligus mengatur ulang pola pengangkutan agar persoalan tersebut tidak berujung pada penumpukan sampah kawasan permukiman.

Salah satu langkah yang ditempuh DLH Mataram ialah mengaktifkan kembali TPS Bintaro lama sebagai tempat penampungan sementara.

Area tersebut kini mendapat pagar keliling untuk mengurangi dampak visual dan menjaga kenyamanan warga sekitar.

“Satu-satunya opsi penampungan sementara saat ini hanya Bintaro. TPS Bintaro kami perkirakan mampu menampung sampah untuk tiga sampai lima bulan ke depan,” kata Denny.

Sementara TPS Sandubaya tetap menjalankan fungsi pengolahan sampah. DLH tidak menggunakan lokasi tersebut sebagai tempat penampungan.

Menunggu Landfill Ketiga

Persoalan tidak akan selesai jika pembangunan landfill ketiga TPA Kebon Kongok berjalan lambat.

Denny memperkirakan pembatasan ritase bisa berlangsung hingga sekitar sembilan bulan apabila proyek tersebut baru terealisasi pertengahan tahun depan.

Situasi ini membuat Pemkot Mataram berharap Pemprov NTB segera mengambil langkah untuk menambah kapasitas pembuangan sekaligus memberi ruang lebih besar bagi armada Mataram.

Sebab, produksi sampah terus bertambah setiap hari, sementara kemampuan membuang sampah menuju TPA justru berkurang.

Pemkot Mataram kini mengupayakan tambahan ritase agar sebagian besar produksi sampah harian dapat segera keluar dari kawasan kota.

“Kami berharap ada kelonggaran. Minimal dua ritase per hari, sehingga pengangkutan bisa lebih maksimal dan penumpukan tidak semakin besar,” pungkas Denny. (*)

Artikel Terkait