KesehatanLombok Timur

Penanganan Stunting Desa Sakra Selatan Masuk Penilaian Nasional

Lombok Timur (NTBSatu) – Desa Sakra Selatan, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, berhasil menurunkan kasus stunting dari 63 orang pada 2024 menjadi 29 orang hingga triwulan III 2026.

Capaian tersebut mengantarkan desa itu mewakili Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam Penilaian Desa Berkinerja Baik Tingkat Nasional Tahun 2026.

Penilaian itu berkaitan dengan konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan stunting. Tim penilai dari Sekretariat Presiden hingga Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menggelar wawancara secara daring bersama Pemdes Sakra Selatan, Selasa, 15 September 2026.

IKLAN

Kepala Desa Sakra Selatan Lalu Burhan mengatakan, desanya meraih peringkat pertama dalam penilaian tingkat kabupaten dan provinsi. Hasil tersebut membuat Sakra Selatan terpilih mewakili NTB pada penilaian tingkat nasional.

“Berdasarkan penilaian dari kabupaten, kemudian provinsi, alhamdulillah kami juara satu. Sehingga kami terpilih mewakili NTB dalam lomba Desa Berkinerja Baik tingkat nasional,” ujarnya, Selasa, 15 September 2026.

Cegah Pernikahan Anak

Burhan menjelaskan, pemerintah desa menjalankan sejumlah program untuk menekan angka stunting. Dua inovasi utama yang mereka kembangkan yakni Gerakan Tolak Merarik Kodek (Getak Mako) dan Percepatan Naikkan Gizi Keluargaku (Pangku).

IKLAN

Melalui program Getak Mako, pemerintah desa berupaya mencegah pernikahan anak yang sebelumnya cukup tinggi di Sakra Selatan.

Pemdes menilai, pencegahan pernikahan dini penting karena kehamilan pada usia anak dapat meningkatkan risiko persoalan kesehatan ibu dan anak.

“Pernikahan dini adalah salah satu sumber munculnya anak stunting. Sehingga ini yang menjadi fokus kita, mencegah sumbernya ini,” jelas Burhan.

Ia menyebut, pada 2024 terdapat lima kasus pernikahan anak di Sakra Selatan. Sementara itu, pemerintah desa belum menerima laporan kasus pernikahan anak sepanjang 2025 hingga 2026.

Selain pencegahan pernikahan anak, Pemdes Sakra Selatan juga memperkuat intervensi gizi melalui program Pangku. Program tersebut memberikan makanan siap saji kepada ibu hamil dan balita stunting setiap hari.

Burhan mengatakan, program Pangku telah berjalan sebelum pemerintah meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sebelumnya, Pemdes Sakra Selatan memberikan bantuan berupa beras, telur, minyak, gula, dan kebutuhan pangan lainnya kepada keluarga sasaran. Namun, pemerintah desa menilai cara tersebut belum efektif menekan kasus stunting.

“Makanya kami langsung ubah metodenya. Kami berikan makanan dan langsung dikawal oleh kader untuk memastikan makanan itu betul-betul dimakan oleh balita,” kata Burhan.

Perubahan metode tersebut juga muncul setelah pemerintah desa menerima informasi mengenai dugaan penerima yang menjual kembali bantuan pangan. Karena itu, kader kini mengawal langsung pemberian makanan kepada balita.

Selain program gizi, Pemdes Sakra Selatan membangun sumur resapan limbah rumah tangga di sembilan titik. Fasilitas itu bertujuan mengurangi risiko pencemaran air bersih dan lingkungan warga.

Burhan menyebut, pemerintah desa mengalokasikan sekitar Rp460 juta dari dana desa untuk mendukung program penanganan stunting. Anggaran tersebut antara lain mencakup insentif kader pembangunan manusia (KPM) dan kader posyandu.

“Untuk program penanganan stunting ini, dulu kami anggarkan lumayan besar, hingga sekitar Rp460 juta dari dana desa,” ujarnya.

Kasus Stunting Terus Menurun

Data pemerintah desa menunjukkan, jumlah kasus stunting di Sakra Selatan turun dari 63 orang pada 2024 menjadi 42 orang pada 2025. Hingga triwulan III 2026, jumlah kasus kembali berkurang menjadi 29 orang.

Sakra Selatan sebelumnya masuk zona hitam kasus stunting di Lombok Timur. Penurunan kasus tersebut menjadi salah satu capaian yang pemerintah desa bawa dalam penilaian tingkat nasional.

Desa berpenduduk 8.435 jiwa itu juga mendapat dukungan melalui gerakan orang tua asuh untuk pencegahan stunting (Genting) dari pemerintah kabupaten. Program tersebut melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Pemdes Sakra Selatan turut menjalin kemitraan dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Timur Sakra 3 untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat.

Sementara itu, Wakil Bupati Lombok Timur H. Moh. Edwin Hadiwijaya mengapresiasi kinerja Pemdes Sakra Selatan dan masyarakat dalam menjalankan program pencegahan serta percepatan penurunan stunting.

Edwin hadir dalam wawancara penilaian Desa Berkinerja Baik secara daring, Selasa (15/9), sebagai Ketua Tim Percepatan Pencegahan Penurunan Stunting (TP3S). Ia turut didampingi Kepala Bappeda, Kepala DP3AKB, pendamping keluarga, PLKB, dan jajaran PKK.

“Keberhasilan Sakra Selatan ini merupakan hasil kerja keras pemerintah desa, kader, dan seluruh masyarakat. Semua unsur bergerak bersama untuk mempercepat penurunan stunting,” kata Edwin.

Selain mengapresiasi capaian tersebut, Edwin juga memproyeksikan Sakra Selatan sebagai Desa Cinta Statistik (Desa Cantik). Menurutnya, ketersediaan data yang akurat menjadi bagian penting dalam menyusun perencanaan pembangunan.

“Data yang akurat sangat penting untuk menentukan arah kebijakan dan perencanaan pembangunan. Karena itu, kami berharap Sakra Selatan dapat menjadi salah satu desa yang mengembangkan program Desa Cantik,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait