Dari Ruang Jahit Sederhana, Disabilitas Berdaya
Lombok Timur (NTBSatu) – Dua lampu menerangi ruang kerja sederhana di Desa Sikur, Kecamatan Sikur. Ruangan yang tidak terlalu besar itu dipenuhi tumpukan kain dan bahan jahitan. Di tengah keterbatasan tersebut, Yono Dedy Wibowo, penyandang disabilitas daksa, tetap tekun menggerakkan usaha menjahit yang telah ia rintis sejak 2011.
Warga akrab menyapanya Dedy. Hampir setiap hari, ia menghabiskan waktu di ruangan tersebut, mengolah kain menjadi berbagai jenis pakaian sesuai pesanan pelanggan.
Suara mesin jahit menjadi bagian dari kesehariannya, sekaligus penanda perjuangannya untuk terus berkarya dan menghidupi keluarga.
Namun, bagi Dedy, usaha menjahit bukan sekadar pekerjaan untuk memperoleh penghasilan. Dari ruang sederhana itu, ia juga membuka kesempatan bagi sesama penyandang disabilitas untuk belajar, bekerja, dan mendapatkan penghasilan dari keterampilan yang mereka miliki.
Berawal dari Pertemuan di Solo
Perjalanan Dedy membangun usaha tersebut bermula setelah ia menetap di Sikur sekitar 2011. Pria asal Demak, Jawa Tengah, itu memutuskan tinggal di Lombok Timur setelah bertemu dengan Ratna Jauhari, perempuan yang kemudian menjadi istrinya, saat mengikuti pelatihan di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD) Prof. Dr. Soeharso, Surakarta.
Dua bulan setelah menikah, Dedy dan Ratna mulai membuka usaha menjahit. Saat itu, mereka hanya mengandalkan satu mesin jahit, yakni mesin peninggalan almarhum mertuanya.
Mesin tersebut sebelumnya tidak terpakai. Dedy kemudian memperbaikinya sendiri agar bisa kembali digunakan untuk bekerja.
“Usaha menjahit ini saya rintis mulai dari tahun 2011. Setelah menikah dua bulan, langsung kita buka usaha menjahit itu,” ujarnya, Sabtu, 12 September 2026.
Dengan satu mesin, Dedy dan istrinya menjalankan usaha secara perlahan. Mereka menerima berbagai pesanan, mulai dari permak pakaian hingga jahitan dalam jumlah banyak. Seiring waktu, mereka mulai membeli mesin tambahan dari hasil usaha.
Dedy menegaskan, mesin pertama yang menjadi modal awal usaha bukan berasal dari bantuan pemerintah maupun instansi. Ia memilih memperbaiki mesin peninggalan keluarga karena proses pengajuan bantuan menurutnya cukup rumit.
“Bukan dikasih dari pemerintah atau instansi. Soalnya ribet banget kalau kita minta bantuan sama pemerintah. Prosedur ini, prosedur itu,” katanya.
Kerap Diragukan Pelanggan
Keterbatasan peralatan sempat membuat calon pelanggan meragukan kemampuan Dedy. Salah satunya terjadi ketika sekelompok ibu-ibu datang untuk menanyakan kemungkinan pengerjaan pesanan dalam jumlah besar.
Dedy mengaku, sanggup mengerjakan pesanan tersebut. Namun, pelanggan sempat ragu karena ia hanya memiliki satu mesin jahit. Pesanan itu akhirnya tidak jadi. Setelah beberapa waktu, kelompok tersebut kembali datang dan memberikan kepercayaan kepada Dedy.
Keraguan pelanggan tidak hanya muncul karena keterbatasan mesin. Dedy juga pernah menghadapi kesulitan ketika mendapat pesanan pakaian perempuan. Saat mengikuti pelatihan di Solo, ia lebih banyak mempelajari teknik menjahit pakaian laki-laki.
Sementara itu, pelanggan di Lombok banyak memesan pakaian perempuan, termasuk kebaya yang digunakan dalam berbagai kegiatan adat. Dedy sempat melakukan kesalahan ketika mengerjakan salah satu pesanan tersebut.
“Semuanya salah yang saya kerjakan itu. Mulanya mau kita buang, tapi oleh istri dikasih masukan. Kita permak lagi, terus kita kombinasi, lalu kita jual,” tuturnya.
Hasil permak tersebut ternyata mendapat respons baik dari pembeli. Bahkan, pakaian yang sebelumnya dianggap gagal itu justru laku dengan harga lebih baik.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi Dedy agar lebih teliti dalam menerima dan mengerjakan pesanan.
Libatkan Sesama Penyandang Disabilitas
Dalam menjalankan usaha, Ratna juga ikut membantu. Dedy biasanya menangani jahitan yang membutuhkan ketelitian, sedangkan istrinya membantu ketika pesanan sedang ramai.
Untuk pesanan seragam dan jilbab, Ratna lebih banyak mengerjakan pemotongan bahan.
Selain melibatkan istrinya, Dedy juga memberdayakan sejumlah penyandang disabilitas. Mereka berasal dari lingkungan sekitar, termasuk tetangga dan teman-teman sesama penyandang disabilitas yang memiliki kemampuan menjahit.
Dedy tidak ingin kondisi disabilitas menjadi alasan untuk memperlakukan pekerja secara berbeda, termasuk dengan tidak memberikan upah. Ia memastikan setiap pekerjaan memiliki perhitungan dan imbalan.
“Bukannya mentang-mentang kursus di sini, free tidak. Semua ada hitungannya,” tegasnya.
Menurut Dedy, upah yang ia berikan kepada pekerja disabilitas juga lebih tinggi dibandingkan hitungan konveksi pada umumnya.
Jika pekerja konveksi menerima sekitar Rp2.500 untuk setiap baju, Dedy memberikan sekitar Rp10.000 untuk pekerjaan yang dikerjakan teman-teman disabilitas.
“Kalau di konveksi kan Rp2.500 per baju, kalau di sini Rp10.000,” jelasnya.
Pemberdayaan tersebut berjalan menyesuaikan jumlah pesanan. Ketika mendapat borongan pakaian, Dedy bisa melibatkan sekitar delapan orang penyandang disabilitas.
Sementara untuk pesanan masker, tas, atau produk lainnya, jumlah pekerja yang terlibat bisa lebih banyak.
Menjahit untuk Berbagai Pesanan
Produk yang mereka kerjakan juga beragam. Dedy menerima pesanan jaket, seragam, pakaian organisasi, pakaian mahasiswa, pakaian untuk kelompok seni, tote bag, hingga kemeja yang dibuat dari kain sarung.
Salah satu pesanan yang paling banyak datang dari Sumbawa. Dedy pernah menerima pesanan sekitar 250 setelan pakaian.
Ia juga pernah mengerjakan pesanan dari sejumlah wilayah di Lombok Timur, seperti Labuhan Lombok, Keruak, hingga Jerowaru.
Untuk pesanan tertentu, pelanggan membawa bahan sendiri. Dedy pernah menerima 40 sarung untuk diubah menjadi kemeja.
Awalnya, pelanggan tersebut tidak yakin kain sarung bisa diolah menjadi pakaian yang layak jual. Setelah melihat hasilnya, pelanggan itu kembali membawa sarung dalam jumlah banyak.
“Dia bawa 40 sarung di sini untuk dibikin baju. Saya kira dipakai sendiri, ternyata dijual,” ungkap Dedy.
Produksi Jutaan Masker
Jangkauan usaha Dedy juga tidak hanya berada di Lombok. Saat pandemi Covid-19, ia pernah mengerjakan pesanan masker dalam jumlah besar untuk dikirim ke Selandia Baru atau New Zealand. Total pesanan tersebut mencapai sekitar satu juta masker.
Selain memenuhi pesanan luar negeri, Dedy juga membuat masker untuk masyarakat sekitar ketika pandemi mulai masuk ke Lombok. Saat itu, kebutuhan masker meningkat sehingga banyak warga datang untuk memesan maupun meminta bantuan.
“Pas begitu covid masuk sini. Berbondong-bondong orang di sini minta masker,” ujarnya.
Untuk pengiriman, Dedy menyesuaikan jarak tujuan. Pesanan di sekitar Lombok biasanya ia antar sendiri.
Sementara pesanan ke Sumbawa dikirim menggunakan travel. Untuk pengiriman ke wilayah seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur, ia menggunakan jasa ekspedisi.
Meski usahanya terus berjalan, Dedy masih menghadapi kendala permodalan. Sampai sekarang, ia mengaku belum menerima bantuan modal dari pemerintah.
Untuk menjalankan produksi, ia biasanya meminta uang muka dari pelanggan, terutama untuk pesanan dalam jumlah besar.
Namun, sistem tersebut tidak selalu berjalan lancar. Dedy pernah menerima pesanan senilai sekitar Rp20 juta, tetapi pelanggan hanya memberikan uang muka Rp5 juta.
Setelah Dedy membeli bahan dan menyelesaikan pekerjaan, pelanggan tersebut tidak kunjung mengambil pesanannya.
Kondisi itu membuat Dedy menanggung kerugian karena pakaian yang sudah jadi tidak mudah dijual kepada orang lain.
Terlebih, beberapa produk memiliki tulisan, identitas sekolah, organisasi, atau kelompok tertentu.
“Kalau seharusnya bayar Rp20 juta, terus dia kasih Rp5 juta dulu, sudah kita belikan barang, kadang dia tidak mengambil. Nah, ruginya banyak ke kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, pakaian yang tidak diambil pelanggan sulit dijual kembali karena memiliki ukuran dan identitas khusus. Karena itu, Dedy harus lebih berhati-hati ketika menerima pesanan dalam jumlah besar.
Ajarkan Keterampilan Menjahit
Di tengah tantangan tersebut, Dedy tetap membuka kursus menjahit. Ia mulai menerima peserta kursus secara privat sekitar 2013.
Peserta datang langsung ke tempat usahanya untuk belajar teori dan praktik menjahit.
Saat ini, terdapat tiga orang yang mengikuti kursus tersebut. Dedy menerapkan metode belajar yang sederhana dan berorientasi pada kemampuan praktik. Ia menargetkan peserta mampu membuat pakaian dalam waktu singkat.
Dedy menargetkan peserta bisa membuat baju dalam waktu sekitar satu minggu. Setelah itu, peserta diharapkan mampu membuat baju dan celana paling lambat dalam satu bulan.
“Selama saya pakai teori itu, satu minggu harus bisa bikin baju dulu. Paling lama sebulan harus bisa bikin baju sama celana,” katanya.
Dedy menyadari persaingan usaha menjahit semakin ketat. Kehadiran penjualan daring membuat pelanggan memiliki lebih banyak pilihan.
Selain itu, masyarakat kini bisa membeli pakaian jadi melalui berbagai platform digital tanpa harus datang langsung ke penjahit.
“Kalau kalah saing itu jelas sih, apalagi sekarang ada online,” ungkapnya.
Meski begitu, Dedy tidak ingin berhenti mengembangkan usahanya. Selain mempertahankan jasa jahit dan kursus, ia berencana membuka usaha penyewaan pakaian.
“Selain kursus, kita rencananya mau bikin baju-baju sewaan, TNI atau apalah. Yang penting bisa disewa,” jelasnya.
Aktif Berkontribusi bagi Sesama
Di luar aktivitas menjahit, Dedy juga aktif dalam organisasi penyandang disabilitas. Ia pernah menjabat sebagai ketua dan kini menjalankan tugas sebagai wakil. Awalnya, Dedy ingin mengundurkan diri dari organisasi agar bisa lebih fokus mengembangkan usaha.
Namun, kebutuhan teman-teman penyandang disabilitas membuatnya mengurungkan niat tersebut.
Ia tetap bertahan karena masih banyak anggota yang membutuhkan pendampingan, terutama ketika berhadapan dengan instansi pemerintah.
“Awalnya saya mau mundur dari organisasi. Kita fokus ke pekerjaan saja, tapi teman-teman masih membutuhkan,” tuturnya.
Bagi Dedy, perjuangan penyandang disabilitas tidak cukup hanya dengan membuka lapangan pekerjaan.
Mereka juga perlu memiliki kemampuan berkomunikasi dan memahami cara memperjuangkan hak di hadapan lembaga maupun instansi.
Karena itu, ia berupaya melatih teman-temannya agar mampu berkomunikasi secara mandiri, menyampaikan kebutuhan, dan memperjuangkan hak mereka.
“Langkah kita juga melatih teman-teman untuk bisa berkomunikasi di instansi-instansi, untuk memperjuangkan teman-teman,” pungkasnya.
Dari ruang jahit sederhana di Desa Sikur, Dedy tidak hanya menghasilkan pakaian. Ia juga membangun ruang belajar, membuka kesempatan kerja, dan menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak harus membatasi kemampuan seseorang untuk berkarya serta memberdayakan orang lain. (*)




