Disperindag NTB Perketat Pengawasan Pasar dan Pasokan Pangan Jelang Nataru
Mataram (NTBSatu) – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB mulai memperketat pengawasan distribusi barang kebutuhan pokok dan energi jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Pemerintah mengambil upaya antisipasi awal ini untuk menekan laju inflasi daerah yang sempat menyentuh angka 4,03 persen. Sedikit di atas target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) di kisaran 2–4 persen.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB, H. Lalu Wiranata, mengaku telah memetik pelajaran berharga dari fluktuasi harga pada triwulan ketiga. Terutama lonjakan harga daging ayam akibat peningkatan permintaan pasar pada perayaan Maulid.
Guna mengantisipasi lonjakan permintaan serupa pada perayaan akhir tahun, ia dan pemerintah provinsi memperluas jangkauan pemantauan. Serta, mengasah keakuratan ramalan atau forecasting kebutuhan barang di seluruh kabupaten dan kota.
“Ini kita mau hadapi Natal dan Tahun Baru bentar lagi. Jadi dari sekarang kita sudah persiapkan. Kalau sekarang semua produk kita di APBD Perubahan ini, Bappeda sudah memberikan anggaran kepada kami untuk menambah pengawasan,” ujarnya kepada NTBSatu, Minggu 13 September 2026.
Ia menambahkan, alokasi penambahan anggaran tersebut untuk memantau kelancaran distribusi barang kebutuhan pokok harian hingga komoditas vital pertanian, seperti pupuk bersubsidi jelang musim tanam.
Menurutnya, pengawasan ketat ini bertujuan mencegah munculnya isu kelangkaan barang yang kerap memicu kenaikan harga secara tidak wajar di tingkat pedagang eceran.
Perilaku Spekulatif dan Panic Buying
Lalu Wiranata mengungkapkan, selain fluktuasi pasokan daging ayam saat bulan Maulid, persepsi atau asumsi liar di tingkat pedagang juga memicu lonjakan inflasi daerah.
Menurutnya, banyak pedagang menaikkan harga secara sepihak hanya berdasarkan rumor tanpa melihat fakta ketersediaan stok barang di tingkat distributor.
“Ini kan tergantung asumsi sekarang ini. Kalau mereka berasumsi harga naik di tempat lain, langsung mereka naikkan di tempatnya. Padahal kemarin waktu dia beli barang itu belum naik, masih harga stabil. Jadi mereka naikkan berdasarkan asumsi,” tambahnya.
Ia menjelaskan, kepanikan masyarakat yang terburu-buru memborong barang secara berlebihan atau panic buying semakin memperparah perilaku spekulatif pedagang. Ia memastikan, cadangan pangan dan energi pokok di seluruh wilayah NTB berada dalam kondisi sangat melimpah serta mencukupi kebutuhan harian warga.
“Stok ini kan tetap kita rilis sama Bulog. Misalnya kayak beras itu sampai 24 bulan ke depan masih aman. Kemudian Minyakita itu sampai 60 hari ke depan masih aman. Kemudian sama Pertamina kita sampaikan, mereka enggak memotong kuotanya,” lanjutnya.
Operasi Pasar dan Sidak Bersama APH
Guna memutus rantai spekulasi dan menjaga stabilitas harga pasar, Lau Wiranata menyiapkan sejumlah upaya dengan menggandeng berbagai pihak. Seperti Bulog, Pertamina, serta dinas perdagangan di tingkat kabupaten/kota.
Pihaknya terus menggencarkan penyelenggaraan pasar murah secara berkala sebagai panduan harga wajar bagi masyarakat. Sehingga pedagang eceran di pasar tradisional tidak bisa sembarangan menaikkan harga.
Selain itu, Lalu Wiranata turut memprioritaskan pengawasan pada jalur distribusi vital, salah satunya dengan mempercepat proses bongkar muat kapal pengangkut pupuk di pelabuhan demi mendukung musim tanam para petani lokal.
Sebagai upaya untuk memberikan efek jera, Lalu Wiranata bersama pihaknya mengagendakan sidak mendadak ke seluruh kabupaten dan kota bersama Satgas Pangan serta Aparat Penegak Hukum (APH) untuk menindak tegas oknum yang nekat menimbun barang kebutuhan pokok.
Upaya ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan harga agar petani dan produsen tetap untung, sementara daya beli masyarakat tetap terjangkau. (Japriani)




