Tak Hanya Jajanan, “Temerodok” Jadi Identitas Desa Sakra
Lombok Timur (NTBSatu) – Temerodok kini tak lagi hanya bisa ditemukan di Desa Sakra, Kecamatan Sakra, Lombok Timur. Jajanan tradisional yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Sakra itu mulai muncul di berbagai daerah, termasuk Lombok Tengah hingga Kota Mataram.
Kondisi tersebut justru membuat Pemerintah Kabupaten Lombok Timur mempercepat upaya pengakuan Temerodok sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tingkat nasional.
Pemerintah khawatir daerah lain yang ikut memproduksi dan memasarkan Temerodok akan mengaburkan identitas kuliner asli Sakra.
Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur, Abdul Hayyi mengatakan, penyebaran Temerodok menjadi alasan utama pihaknya mengusulkan penetapan di tingkat pusat.
“Sekarang kalau kita ke Lombok Tengah, Temerodok ada. Kita ke Mataram, Temerodok ada. Kemana-mana sekarang Temerodok ini ada,” ujarnya, Kamis, 10 September 2026.
Menurutnya, masyarakat Sakra perlu segera mendapatkan pengakuan atas tradisi pembuatan Temerodok yang mereka wariskan secara turun-temurun.
Bagi Hayyi, penetapan WBTB bukan sekadar memberikan label budaya, tetapi juga menjaga asal-usul dan keberlanjutan keterampilan masyarakat dalam membuat Temerodok.
“Kalau kita tidak segera tetapkan, ini akan menjadi hilang. Padahal itu asli Desa Sakra yang punya Temerodok,” ujarnya.
Dari Kue Timba hingga Temerodok
Temerodok memiliki perjalanan panjang dalam kehidupan masyarakat Sakra. Berdasarkan kajian yang dihimpun Dikbud Lombok Timur, makanan ini berkaitan dengan pengaruh kuliner kue se’ro-se’ro dari Bugis-Makassar, yang dibawa pendatang dari Tanjung Luar sekitar 1920-an.
Pada masa awal, masyarakat mengenalnya sebagai kue timba karena bentuknya menyerupai timba. Kue tersebut muncul dalam sebuah gawe sultan atau hajatan besar yang digelar pemekel adat di Dusun Dalem Lauk.
Juru masak bernama Papuq Sarwiti kemudian mempelajari cara membuat kue tersebut dari pendatang Bugis. Keterampilan itu lalu diteruskan kepada generasi berikutnya, salah satunya Papuq Sarwiti.
Masyarakat Sakra selanjutnya mengembangkan resep, teknik pembuatan, hingga bentuknya sesuai dengan lingkungan dan kebiasaan setempat.
Bentuk akhirnya menyerupai tenggorokan atau “temeroko” dalam istilah masyarakat Sasak. Dari situlah nama Temerodok kemudian berkembang.
Dulu, masyarakat hanya menyajikan Temerodok untuk kalangan bangsawan, datu, pemekel, serta tamu kerajaan dalam acara adat dan keagamaan.
Kini, masyarakat umum dapat menikmatinya dalam berbagai hajatan, kegiatan keagamaan, hingga menjadikannya produk ekonomi kreatif dan oleh-oleh khas Sakra.
Variasi Makin Banyak
Perkembangan Temerodok kini bergerak lebih jauh. Produsen mulai menghadirkan berbagai variasi bahan dan rasa. Hayyi menyebut tepung tetap menjadi bahan utama, tetapi masyarakat juga mulai membuat varian berbahan durian.
“Sekarang sudah banyak pembuat-pembuat Temerodok. Bahan bakunya dari tepung, bahkan ada dari durian juga,” katanya.
Di sisi lain, munculnya produsen Temerodok di luar Sakra membuat pemerintah semakin berkepentingan menjaga keterampilan asli masyarakat Sakra.
Hayyi menyebut, tim penilai di tingkat pusat telah memberikan rekomendasi agar Temerodok masuk sebagai WBTB. Rekomendasi itu keluar dalam sidang pada Jumat, 4 September 2026.
“Para panelis di pusat sudah merekomendasikan untuk ditetapkan. Kita tinggal tunggu sertifikat dari Kementerian,” jelasnya.
Jika sertifikat tersebut terbit, masyarakat Sakra memiliki pijakan yang lebih kuat untuk menjaga Temerodok sebagai bagian dari identitas budaya mereka.
Bagi Hayyi, pengakuan tersebut juga harus berjalan beriringan dengan praktik pelestarian. Sebab, Temerodok sebagai WBTB tidak hanya menempatkan jajanan sebagai warisan, tetapi juga mengakui keterampilan masyarakat dalam membuatnya, serta upaya mereka mewariskan keterampilan tersebut kepada generasi berikutnya.
“Harapannya dengan ditetapkannya menjadi objek warisan budaya, pelestariannya terjamin, baik oleh pemerintah ataupun masyarakat,” pungkasnya. (*)




