Lombok TimurSeni

Gawe Inan Duwe, Merawat Warisan Anyaman Bambu dari Desa Loyok

Lombok Timur (NTBSatu) – Di Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, anyaman bambu bukan sekadar kerajinan tangan. Bagi masyarakat setempat, anyaman bambu menjadi bagian dari identitas yang tumbuh dan bertahan dari generasi ke generasi.

Semangat menjaga warisan itu kembali hadir melalui Gawe Inan Duwe. Tahun ini, masyarakat Desa Loyok menggelar Gawe Inan Duwe untuk kedua kalinya sebagai ruang untuk merawat tradisi sekaligus memperkenalkan potensi desa kepada masyarakat yang lebih luas.

Ketua Panitia Gawe Inan Duwe, Lalu Arya Karma mengatakan, nama Inan Duwe sendiri memiliki makna yang erat dengan keberadaan kerajinan bambu di Desa Loyok.

IKLAN

“Dari bahasa, Inan Duwe itu adalah induk, sumber. Jadi duwe itu adalah kepunyaan. Jadi Inan Duwe itu dari segi bahasanya itu adalah induk kepunyaan kami yaitu kerajinan atau anyaman bambu ini,” ujarnya, Rabu, 9 September 2026.

Menurut Arya, masyarakat tidak sekadar menggelar kegiatan adat. Mereka ingin meneruskan apa yang telah dilakukan para leluhur sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat.

Arya mengatakan, Gawe Inan Duwe menjadi momentum untuk mengingat kembali warisan yang telah dijaga masyarakat sejak masa leluhur.

IKLAN

“Filosofinya adalah pertama kita mengucapkan terima kasih karena momentum Gawe Inan Duwe yang kedua ini,” katanya.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan kerajinan anyaman bambu di Desa Loyok.

Anyaman Bambu dan Jejak Desa Tua

Tradisi anyaman bambu di Loyok telah melewati perjalanan panjang. Masyarakat mewariskan keterampilan tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa mengenal tahun pasti kapan tradisi itu bermula.

Panitia kemudian merangkaikan Gawe Inan Duwe dengan ziarah makam. Bagi masyarakat, prosesi itu bukan sekadar kegiatan pelengkap, tetapi menjadi cara untuk mengingat kembali akar sejarah Desa Loyok.

Kerajinan anyaman bambu di Desa Loyok telah tumbuh dan bertahan dari generasi ke generasi. Panitia kemudian memasukkan ziarah makam dalam rangkaian Gawe Inan Duwe untuk menegaskan jejak sejarah Desa Loyok sebagai salah satu desa tua.

Rangkaian kegiatan juga menghadirkan prosesi penyerahan simbolis geben atau simbol Inan Duwe. Prosesi tersebut menggambarkan keterhubungan antara masyarakat, tradisi, dan pemerintah.

“Prosesi di lapangan itu adalah secara simbolik bahwa geben atau Inan Duwe atau simbol itu diserahkan oleh pemangku kebijakan atau pemerintah di sini,” tuturnya.

Perempuan Menjaga Keahlian Menganyam

Di balik berbagai produk anyaman bambu, terdapat proses panjang yang menuntut ketelitian. Pengrajin terlebih dahulu mengolah bambu sebelum mengubahnya menjadi anyaman.

Arya menjelaskan, pengrajin memulai proses dengan menguliti bambu. Setelah itu, mereka memilah dan membelah bambu menjadi kepingan-kepingan kecil. Pengrajin kemudian menghaluskannya sebelum mulai menganyam.

“Dari prosesnya itu pertama dari bambu, ada ngares atau mengulitinya. Yang kedua itu memilah, membelahnya jadi kepingan-kepingan bambu, dan baru di-arut untuk halus, dan baru dianyam,” ujarnya.

Menariknya, masyarakat Loyok memiliki tradisi yang menempatkan perempuan sebagai penganyam geben.

“Dan biasanya itu dilakukan di sini tradisinya untuk menganyam geben ini adalah perempuan, jadi jarang kita lihat laki-laki,” katanya.

Tradisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa keterampilan menganyam tidak hanya berbicara tentang produk. Di dalamnya terdapat pengetahuan, pembagian peran, dan cara masyarakat menjaga keterampilan leluhur.

Dari Kerajinan Jadi Pengalaman Wisata

Gawe Inan Duwe juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat. Arya melihat peningkatan pemesanan geben sebagai salah satu manfaat nyata dari kegiatan tersebut.

Sejumlah pengrajin bahkan menerima banyak pesanan geben untuk kebutuhan properti para peserta dan tamu undangan hingga kewalahan memenuhi permintaan.

Selain menggerakkan ekonomi, kegiatan ini juga membantu masyarakat menjaga keberlanjutan budaya anyaman bambu di Desa Loyok.

Menurut dia, kegiatan tersebut turut membantu memperkenalkan Desa Loyok kepada wisatawan.

“Dan untuk pariwisatanya alhamdulillah kita Desa Loyok ini semakin dikenal luas,” sambungnya.

Masyarakat tidak hanya menawarkan produk kepada wisatawan. Mereka juga membuka kesempatan bagi tamu untuk melihat langsung proses pembuatan anyaman bambu.

“Kita tawarkan itu adalah bagaimana kerajinan tangan itu diproses. Biasanya kita di sini daily tour biasanya itu ada program dari tamu luar untuk berkesempatan belajar mengenal kerajinan kita, prosesnya sampai jadi. Dan dia juga ikut belajar sendiri,” kata Arya.

Para pengrajin biasanya berkumpul di art shop. Pola itu memudahkan rombongan wisatawan yang ingin melihat sekaligus mempelajari proses pembuatan kerajinan.

Art shop menjadi salah satu ruang belajar bagi wisatawan yang ingin mengenal kerajinan bambu Loyok. Para pengrajin berkumpul di lokasi tersebut sehingga rombongan dapat melihat langsung proses pembuatan anyaman tanpa harus berpindah-pindah tempat.

Inan Duwe Ingin Masuk Kalender Event

Memasuki pelaksanaan kedua, panitia berharap Gawe Inan Duwe tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan masyarakat. Mereka ingin pemerintah memasukkan kegiatan tersebut ke dalam kalender event sehingga pelaksanaannya mendapat dukungan dan ruang promosi yang lebih luas.

“Harapan kami terutama masyarakat Desa Loyok mudah-mudahan pemerintah bisa mendukung untuk event kalender event ini bisa terlaksana tiap tahun dan lebih ditingkatkan, lebih dimeriahkan, dan lebih melibatkan lebih luas,” harap Arya.

Ia juga berharap penyelenggaraan berikutnya dapat melibatkan lebih banyak sektor, terutama kebudayaan dan pariwisata.

“Alhamdulillah kegiatan ini sudah dua kali kita laksanakan, ini yang kedua kalinya. Mudah-mudahan untuk ke depannya kita bisa melakukannya lebih meriah, lebih melibatkan banyak sektor terutama kebudayaan dan pariwisatanya,” pungkasnya.

Bagi masyarakat Desa Loyok, Gawe Inan Duwe pada akhirnya bukan hanya sebuah perayaan. Kegiatan itu menjadi ruang untuk mengingat leluhur, merawat keterampilan menganyam, mempererat hubungan warga, sekaligus membawa anyaman bambu Loyok semakin dekat dengan dunia pariwisata.

Di tangan para pengrajin, bambu tidak sekadar berubah menjadi sebuah produk. Ia membawa cerita tentang desa, tradisi, dan warisan yang terus menemukan cara untuk bertahan di tengah perubahan zaman. (*)

Artikel Terkait