Lombok Timur

Saat Asrama Selaparang Menjadi Rumah bagi Anak Rantau

Lombok Timur (NTBSatu) – Koper belum sepenuhnya terbuka ketika Awwalus Sanatil Hijriati mulai memikirkan satu hal, akan tinggal di mana?

Datang ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan membuat mahasiswa asal Pringgasela, Lombok Timur, itu harus beradaptasi dengan kehidupan baru.

Kota yang jauh dari kampung halaman menghadirkan banyak hal yang belum ia kenal.Termasuk soal tempat tinggal.

IKLAN

Bagi mahasiswa yang baru pertama kali merantau, mencari kos di kota orang tentu bukan perkara sederhana. Apalagi jika belum mengenal lingkungan sekitar.

Namun, Awwalus beruntung. Saat itu kuota daerah untuk Asrama Putri Selaparang Lombok Timur masih tersedia. Ia pun bisa langsung masuk ke asrama khusus mahasiswa Lombok Timur yang berkuliah di Yogyakarta tersebut.

Bukan hanya tempat tidur yang ia temukan. Awwalus menemukan ruang untuk pulang.

IKLAN

Asrama Putri Selaparang memiliki ruang tamu yang cukup luas. Ruang itu bahkan dapat menjadi tempat singgah bagi mahasiswa baru yang belum mendapatkan kos.

Mereka bisa tinggal sementara sembari mencari tempat tinggal.

“Kalau kita baru sampai di Jogja dan belum punya tempat tinggal, di Aspuri itu punya ruang tamu. Kita bisa tinggal beberapa minggu sambil mencari kos,” kata Awwalus, Minggu, 6 September 2026.

Hal sederhana itu terasa begitu berarti bagi mahasiswa yang baru menginjakkan kaki di tanah perantauan. Sebab, ketika belum tahu harus ke mana, setidaknya ada satu pintu yang bisa diketuk.

Menemukan Keluarga di Tanah Rantau

Yogyakarta mempertemukan Awwalus dengan banyak orang dari berbagai daerah. Ada mahasiswa dari Jawa, Papua, Makassar, hingga daerah lainnya.

Namun, di tengah keberagaman itu, keberadaan sesama mahasiswa Lombok Timur membuatnya merasa lebih mudah beradaptasi.

Candaan, obrolan, hingga kegiatan bersama perlahan membuat jarak dengan kampung halaman terasa lebih pendek.

Para penghuni asrama saling merangkul. Mereka tidak hanya tinggal di tempat yang sama, tetapi juga membangun rasa kekeluargaan. Lingkungan sekitar pun ikut membuka ruang bagi mahasiswa Lombok Timur.

Mahasiswa Asrama Putri Selaparang kerap mendapat ajakan mengikuti berbagai kegiatan. Mulai dari perlombaan hingga kegiatan keagamaan seperti Maulidan.

Dari sana, Awwalus merasa kehadiran mereka diterima.

“Jadi kita di sini merasa diterima. Orang-orang Lombok juga saling merangkul,” ujarnya.

Kebersamaan itu semakin kuat ketika mahasiswa mengikuti kegiatan seperti Selaparang Fest.

Musik, permainan, dan berbagai aktivitas mempertemukan mahasiswa Lombok Timur dari berbagai latar belakang.

Bagi Awwalus, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda tahunan. Ada perasaan menjadi bagian dari keluarga besar mahasiswa Lombok Timur yang tumbuh di sana.

Ada Senior yang Selalu Bisa Dihubungi

Keluarga yang Awwalus temukan di Yogyakarta ternyata tidak hanya berasal dari teman sebaya. Ada para senior yang sudah lebih dulu menjalani kehidupan di kota tersebut.

Mereka bukan sekadar mahasiswa tingkat atas. Sebagian merupakan orang Lombok yang sudah lama menetap di Yogyakarta. Ada yang menjadi dosen, akademisi, hingga pelaku usaha.

Pengalaman para senior menjadi bekal bagi mahasiswa yang baru memulai perjalanan di tanah rantau. Ketika ada persoalan akademik, kegiatan organisasi, hingga kebutuhan lain, mahasiswa bisa bertanya kepada mereka.

Bahkan, ketika mahasiswa mengalami kesulitan menyelesaikan skripsi, ada senior yang dapat membantu memberikan arahan. Para senior juga tidak segan membantu kegiatan mahasiswa Lombok Timur.

“Setelah masuk IKPM, ternyata senior kita banyak yang tinggal di Jogja dan sering membantu kalau ada kegiatan Lombok Timur. Networking kita jadi jalan,” tutur Awwalus.

Bagi Awwalus, jaringan itu menjadi salah satu hal berharga yang tidak selalu bisa mahasiswa dapatkan ketika tinggal sendiri di kos.

Satu Masalah Menjadi Masalah Bersama

Rasa kekeluargaan di Asrama Putri Selaparang paling terasa ketika salah satu penghuni menghadapi masalah.

Awwalus masih mengingat ketika salah seorang temannya mengalami kecelakaan. Saat itu, mahasiswa lain tidak tinggal diam. Mereka datang dan ikut mendampingi.

Bagi Awwalus, momen tersebut menunjukkan bahwa tinggal di asrama membuat mahasiswa merasa memiliki banyak orang di belakang mereka.

Ada yang membantu ketika menghadapi masalah. Ada yang mendampingi ketika berada dalam situasi sulit.

“Jadi kita merasa dilindungi sama yang lebih besar. Kita tidak takut menghadapi dunia luar,” katanya.

Hal serupa berlaku ketika penghuni asrama sakit. Kas asrama dapat membantu meringankan kebutuhan mahasiswa. Tidak besar, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa mereka tidak menghadapi persoalan seorang diri.

Rasa memiliki itu kemudian tumbuh melalui kegiatan-kegiatan sederhana. Setiap minggu, mahasiswa mengikuti Yasinan bersama Asrama Putra. Sebulan sekali, mereka juga memasak bersama.

Bagi mahasiswa yang sedang rindu kampung halaman, masakan khas Sasak menjadi pengobat rindu.

Di tengah kesibukan kuliah dan kehidupan perantauan, sepiring makanan kampung halaman bisa menjadi alasan sederhana untuk kembali berkumpul.

Asrama, Ruang Berbagi dan Singgah

Kehidupan di asrama juga membuka akses terhadap informasi yang dibutuhkan mahasiswa.

Sebagian penghuni bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika ada peluang kerja, informasi itu bisa dibagikan kepada mahasiswa lain.

Mahasiswa tidak perlu mencari semuanya sendiri. Mereka memiliki teman untuk bertanya.

“Kalau kita mau kerja part-time, bisa diinformasikan. Jadi lebih mudah mengakses informasi karena sebelumnya sudah ada yang bisa kita tanyai,” ujar Awwalus.

Manfaat asrama bahkan terasa ketika keluarga datang ke Yogyakarta. Momen wisuda menjadi salah satunya.

Orang tua yang datang tidak selalu harus mengeluarkan biaya untuk menyewa hotel. Asrama memiliki ruang tamu yang cukup luas, lengkap dengan dapur, kamar mandi, sofa, dan fasilitas lainnya.

Orang tua mahasiswa bisa singgah di sana. Mahasiswa dari Lombok Timur yang datang ke Yogyakarta untuk keperluan tertentu juga bisa memanfaatkan ruang tersebut.

Bagi Awwalus, fasilitas itu membuat Asrama Putri Selaparang memiliki arti yang lebih besar. Asrama bukan hanya tempat mahasiswa tidur setelah seharian kuliah.

Asrama juga menjadi tempat orang tua datang ketika anaknya wisuda. Menjadi tempat teman dari Lombok Timur singgah ketika berada di Yogyakarta. Menjadi tempat mahasiswa saling membantu ketika menghadapi persoalan.

Lombok Timur di Mata Perantau

Keberadaan Asrama Putri Selaparang membuat Awwalus memiliki cerita yang bisa ia banggakan ketika bertemu mahasiswa dari daerah lain di NTB.

Ia kerap mendengar teman dari daerah lain membicarakan keinginan memiliki fasilitas serupa. Ketika teman bertanya tempat tinggalnya, Awwalus menjawab bahwa ia tinggal di asrama.

Dari situ, ia menceritakan bagaimana mahasiswa Lombok Timur (Lotim) bisa memiliki ruang tinggal sekaligus ruang berkumpul di Yogyakarta.

Menurutnya, mahasiswa dari Lombok Barat, Lombok Tengah, maupun Sumbawa juga akan merasakan manfaat besar jika memiliki fasilitas seperti itu.

Sebab, merantau tidak hanya membutuhkan keberanian untuk meninggalkan rumah. Mahasiswa juga membutuhkan tempat untuk merasa aman ketika jauh dari keluarga.

Dan bagi Awwalus, Asrama Putri Selaparang telah mengisi ruang itu. Ia datang ke Yogyakarta sebagai mahasiswa yang harus belajar hidup jauh dari rumah.

Kini, setelah menjalani hari-harinya di sana, ia menemukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar tempat tinggal.

Ia menemukan keluarga. Sebab rumah, bagi seorang perantau, tidak selalu berupa bangunan tempat seseorang dilahirkan.

“Saya merasa tidak sendiri. Apalagi kalau terjadi sesuatu hal yang tidak terduga di luar, kita semua saling merangkul,” katanya.

Kadang, rumah adalah tempat seseorang tahu bahwa ketika ia jatuh, ada tangan yang akan membantunya berdiri. Itulah yang Awwalus temukan di Asrama Putri Selaparang Lombok Timur. (*)

Artikel Terkait