Kawasan Selatan Rinjani Dikembangkan Jadi Agro Eduwisata
Lombok Timur (NTBSatu) – Kawasan selatan Rinjani mulai mengembangkan konsep Agro Eduwisata yang memadukan potensi pertanian, wisata alam, dan edukasi. Program tersebut menyasar empat desa, yakni Desa Timbanuh, Desa Pengadangan, Desa Pengadangan Barat, dan Desa Jurit Baru.
Guru Besar Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Universitas Mataram, Prof. Diswandi mengatakan, kawasan selatan Rinjani memiliki hamparan pertanian yang dapat menjadi ruang wisata sekaligus pembelajaran.
“Jadi kita mengembangkan agrowisata yang berbasis pendidikan,” ujarnya, Kamis, 13 Agustus 2026.
Konsep Agro Eduwisata akan mengajak wisatawan menikmati alam sekaligus mengenal aktivitas pertanian masyarakat.
Pelajar dapat mengikuti kegiatan edukasi, sedangkan wisatawan umum bisa menikmati camping, outbound, hingga soft trekking menuju perkebunan masyarakat.
Petani juga akan mengambil peran dalam pengalaman wisata. Mereka akan mendapat pelatihan untuk menceritakan komoditas yang mereka tanam, mulai dari proses budidaya hingga pengolahan hasil panen.
“Sehingga tidak akan merubah profesi petani. Cuman akan menambah income dari storytelling tadi,”ujarnya.
Program tersebut mulai berjalan sejak Juni 2026 dan menargetkan pengembangan selama tiga tahun. Timbanuh menjadi titik awal sebelum pengembangan berlanjut ke Pengadangan, Pengadangan Barat, dan Jurit Baru.
Tim pengembang kini telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Mereka selanjutnya menyiapkan sumber daya manusia, menyusun paket wisata, membangun infrastruktur pendukung, lalu memasarkan paket tersebut.
Petik Sayur hingga Live Cooking
Ia mengatakan, pengelola akan mengembangkan paket wisata berdasarkan komoditas unggulan di setiap wilayah. Wisatawan nantinya dapat memetik hasil pertanian sekaligus mengolahnya langsung di lokasi.
Konsep tersebut dapat menghadirkan wisata petik sayur, wisata kuliner, hingga live cooking. Wisatawan juga dapat mempelajari proses budidaya dan pengolahan komoditas langsung dari petani.
“Kalau di utara petik stroberi, kalau di selatan petik sayuran,” katanya.
Lanskap Rinjani juga menjadi bagian dari konsep storytelling. Pengelola dapat mengenalkan bentang alam Rinjani kepada wisatawan, sekaligus menyampaikan cerita mengenai kondisi kawasan tersebut dari sudut pandang masyarakat setempat.
Untuk tahap awal, tim akan menguji coba paket wisata dengan mengundang komunitas dan keluarga untuk camping. Mahasiswa KKN juga dapat membantu masyarakat mempromosikan potensi Agro Eduwisata melalui media sosial.
“Tidak perlu jauh-jauh ke Sembalun. Cukup ke wilayah Timbanuh dan sekitarnya,” ujarnya.
Ke depan, Prof. Diswandi menargetkan pihaknya mengembangkan platform digital yang menghubungkan wisatawan dengan berbagai paket wisata di empat desa tersebut.
Platform itu nantinya menyediakan pilihan trekking, camping, wisata kuliner, hingga aktivitas pertanian.
“Wisata tinggal memilih apa paket yang akan diambil,” katanya.
Namun, Prof Diswandi menyebut, platform tersebut masih menjadi rencana jangka panjang. Untuk tahap awal, pihaknya fokus menyiapkan masyarakat dan menjalankan Agro Eduwisata di kawasan selatan Rinjani. (*)




