Headline NewsHukrim

Kepala SPPG di Lombok Tengah Dilaporkan, Diduga Hamili Perempuan-Palsukan Identitas Anak

Mataram (NTBSatu) – Oknum Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Batunyala, Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah inisial IMR dilaporkan ke Polda NTB. Laporan itu berkaitan dengan dugaan kekerasan seksual dan pemalsuan identitas anak.

Pelapor, Joko Jumadi mengatakan melaporkan kejadian tersebut ke Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak Dan Pemberantasan Perdagangan Orang (Dit Res PPA dan PPO) Polda NTB pada pekan lalu.

“Dua-duanya. Kasus kekerasan seksual dan pemalsuan identitas anak sudah kami laporan secara bersamaan,” katanya, Senin, 7 September 2026.

IKLAN

Joko menyebut, kasus kekerasan seksual itu terjadi pada tahun 2024. IMR dan korban sudah menjalani hubungan (pacaran) sejak tahun 2018 hingga 2023. Keduanya saling mengenal saat kuliah. 

Dari kejadian tersebut, korban kemudian hamil, mengandung anak terduga pelaku. “Setelah hamil, terduga pelaku menjanjikan korban. Bahkan sejak awal mereka berhubungan badan, ada janji untuk menikah,” ucapnya.

Hingga korban melahirkan, pelaku tetap menjanjikan menikahi korban. Keduanya akhirnya bersepakat menikah secara sirih. Namun, pelaku tidak menginginkan ada dokumentasi dan menandatangani surat pernikahan.

IKLAN

Karena perempuan (korban) tidak menyetujui hal tersebut, pernikahan keduanya batal terlaksana. Belum selesai urusannya, kata Joko, pelaku justru menikahi perempuan lain.

“Sisi lain, pelaku meminta bayi yang dilahirkan korban. Kakak pelaku kemudian mengasuh bayi tersebut,” beber Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram ini.

Di sini lah persoalan lain muncul. Dugaanya, kakak korban yang kini tinggal di Lombok Timur melakukan pemalsuan identitas anak yang dilahirkan korban. Pelaku dan keluarganya tidak memperbolehkan ibu kandungnya menjenguk dan melihat anak.

“Jadi, itu yang kami laporkan Polda NTB,” terang akademisi Universitas Mataram (Unram) ini.

Terpisah, Direktur PPA dan PPO Polda NTB, Kombes Pol Ni Made Pujawati mengaku belum mendapatkan informasi. “Saya cek dulu,” katanya. (*)

Artikel Terkait