Restorasi Desa Sade, Pemprov NTB Bangun Hunian Pengganti
Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB merumuskan tiga tahap penting untuk merestorasi Desa Wisata Sade, Kabupaten Lombok Tengah, pascamusibah kebakaran. Pihaknya menyepakati rencana penataan dan rekonstruksi kawasan cagar budaya tersebut usai menggelar diskusi khusus bersama tokoh kebudayaan setempat.
Gubernur NTB, H. Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan langkah penanganan berawal dari penyediaan relokasi hunian pengganti bagi warga terdampak. Pemprov NTB mengambil kebijakan ini agar kawasan inti Dusun Sade tidak lagi padat oleh pemukiman harian, melainkan kembali ke fungsi utamanya sebagai situs budaya dan edukasi.
Ia menambahkan saat ini, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman tengah membangun 40 unit rumah. Sementara itu, Pemprov NTB bersama Pemkab Lombok Tengah terus mengupayakan tambahan 35 unit rumah lagi.
“Rencana kita dengan Desa Sade ada tiga langkah penting yang bisa kita lakukan. Pertama, menyiapkan housing, rumah pengganti. Diharapkan masyarakat kita tidak tinggal lagi di Sade sehingga Sade dapat dipelajari sebagai sebuah kampung,” kata Miq Iqbal, Jumat, 4 September 2026.
Pemulihan Ekonomi Lewat Museum Seni Permanen
Selanjutnya, Miq Iqbal mengatakan Pemprov NTB memprioritaskan percepatan pembangunan museum seni permanen yang ditandai dengan pemancangan tiang pertama. Pemprov menargetkan proyek ini selesai sebelum musim haji demi memulihkan ekonomi warga.
Museum tersebut kelak memajang rekam jejak Desa Sade tempo dulu, dokumentasi kebakaran, fase pemulihan, serta artefak yang berhasil diselamatkan. Selain itu, Miq Iqbal menjelaskan kompleks museum juga menyediakan sentra tenun dan panggung pertunjukan seni khas, seperti Gendang Beleq, Gamelan, dan Pereseian.
“Sehingga harapan kita sebelum musim haji, museum seni permanen ini sudah selesai dan wisatawan sebelum menuju ke tempat itu, setidaknya ekonomi Sade sudah berputar kembali di situ,” tambahnya.
Rekonstruksi Bangunan Sejarah Berbasis Komunitas
Pada tahap akhir, Pemprov NTB berfokus melakukan rekonstruksi fisik Dusun Sade secara terukur dan menyeluruh. Mengingat Sade merupakan kawasan cagar budaya, pihak Pemprov menjadikan pemulihan ini sebagai laboratorium rekonstruksi bangunan adat dengan melibatkan tim ahli dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Universitas Mataram (Unram), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Miq Iqbal melakukan penataan ulang tersebut memperhitungkan aspek keselamatan, kelistrikan, sanitasi, dan drainase tanpa mengubah bentuk arsitektur aslinya.
“Tetapi saya sampaikan bahwa yang akan kita rekonstruksi ini bukan bangunan biasa, bangunan ini bangunan sejarah, bangunan budaya, bangunan adat. Karena itu tidak boleh terburu-buru dan pendekatannya harus kritis sebetulnya,” lanjutnya.
Dalam seluruh prosesnya, Pemprov NTB menerapkan pendekatan berbasis komunitas community-based. Pemprov NTB menempatkan warga Sade di barisan terdepan, sekaligus mengelola setiap bantuan secara transparan dan akuntabel. (Japriani)




