Pohon Kurma hingga Kafe Syariah, BRIDA KSB Uji Ekosistem Ekonomi di Masjid Agung Darussalam
Sumbawa Barat (NTBSatu) — Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) terus merancang inovasi baru untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Lembaga ini memanfaatkan kawasan Masjid Agung Darussalam sebagai pusat pengembangan ekosistem ekonomi syariah.
Langkah awal program ini bermula dari rencana penanaman bibit pohon kurma di area masjid. Namun, BRIDA menegaskan bahwa budi daya kurma bukan menjadi tujuan utama dari seluruh rangkaian kegiatan.
Pengelola program akan memadukan tanaman kurma dengan kolam ikan, kafe syariah, serta toko buku Islami. Selain itu, masyarakat juga dapat memasarkan beragam produk olahan lokal di kawasan tersebut.
Kepala BRIDA KSB, Mars Anugerainsyah, S.Hut., M.Si., CGCAE., menjelaskan arah pengembangan gagasan ekonomi di kawasan ibadah tersebut. Ia menegaskan fokus utama pemerintah daerah saat menjawab pertanyaan media.
“Tujuan utamanya bukan kurma. Jadi kita ingin membuat sebuah ekosistem ekonomi,” ujarnya, Jumat, 4 September 2026.
Lahir dari Gagasan Masjid
Gagasan ini lahir dari pemikiran bahwa kawasan masjid menyimpan potensi ruang yang sangat luas. Pengelolaan secara profesional akan mengubah masjid menjadi pusat aktivitas ekonomi warga di luar waktu salat.
Mars Anugerainsyah membayangkan teras masjid kelak menjadi ruang usaha bagi para pelaku UMKM. Ia memaparkan skema kunjungan warga luar daerah yang datang beraktivitas di kawasan masjid.
“Jadi ada ekosistem ekonomi yang kita coba kembangkan di masjid,” katanya.
Konsep ini sekaligus menghidupkan kembali fungsi sejarah masjid sebagai pusat peradaban umat. Masjid tidak sekadar menjadi tempat ibadah, tetapi juga wadah pendidikan, interaksi sosial, dan kegiatan ekonomi.
Untuk menguji konsep tersebut, tim menyiapkan 35 bibit kurma unggul hasil kultur jaringan dari Bogor. Tim Ukhuwah Datu dari Lombok Utara akan mendampingi proses penanaman hingga pemeliharaan tanaman.
Mars Anugerainsyah juga menyinggung upaya memanfaatkan seluruh potensi area masjid untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Ia membeberkan target pembentukan ruang usaha baru bagi warga sekitar.
“Klaster ekonomi baru. Ya kami coba lihat ruang-ruang sekecil apa pun yang kira-kira masyarakat bisa menghasilkan benefit,” jelas Mars.
Pemerintah daerah menyiapkan anggaran awal sekitar Rp200 juta melalui APBD Perubahan. Dana tersebut membiayai pengadaan bibit, proses penanaman, serta jasa tenaga ahli pendamping. (*)




