PendidikanSumbawa

LDK KALAM UTS Tolak Normalisasi LGBT di Depan Mahasiswa Baru

Sumbawa Besar (NTBSatu) – Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Keluarga Mahasiswa Islam (KALAM) Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), menegaskan penolakan terhadap normalisasi Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di hadapan mahasiswa baru UTS 2026.

LDK KALAM menyampaikan sikap tersebut pada hari terakhir penerimaan mahasiswa baru UTS, Kamis, 3 September 2026. Sejumlah organisasi dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) juga menampilkan kegiatan masing-masing dalam agenda tersebut.

Ketua Umum LDK KALAM UTS, Faris Firdaus Bil Fakih mengatakan, pihaknya tidak membawa isu LGBT karena sentimen sesaat. LDK KALAM lebih dulu mengkaji isu tersebut dari sisi hukum negara dan ajaran agama.

IKLAN

“Sebagai Ketua Umum LDK KALAM UTS, kami menegaskan bahwa sikap menolak normalisasi LGBT bukan lahir dari sentimen sesaat. Sikap ini merupakan hasil kajian matang dari sisi hukum negara maupun ajaran agama,” ujarnya kepada NTBSatu, Kamis, 3 September 2026.

LDK KALAM Soroti Nilai Hukum dan Agama

Faris menjelaskan, LDK KALAM berpijak pada nilai Ketuhanan dalam Pancasila. Ia juga merujuk pada aturan perkawinan yang berlaku di Indonesia.

Menurut Faris, aturan tersebut mengatur perkawinan antara pria dan wanita. Sementara dari sisi agama, LDK KALAM merujuk pada pandangan ulama lintas mazhab. Faris menyebut, pandangan tersebut mengharamkan perilaku LGBT berdasarkan nash yang mereka yakini tegas.

IKLAN

Karena itu, LDK KALAM memilih momentum penerimaan mahasiswa baru untuk menyampaikan sikapnya. Faris menilai mahasiswa baru sedang memasuki lingkungan dengan berbagai pengaruh dan nilai.

“Sebagai lembaga dakwah kampus, KALAM berkepentingan menjaga mahasiswa baru. Khususnya pada masa orientasi yang rentan terhadap pengaruh nilai dari normalisasi yang bertentangan dengan hukum dan moral bangsa,” katanya.

Faris menegaskan, sikap LDK KALAM tidak bertujuan membenci individu tertentu. Mereka ingin menjaga nilai yang mereka yakini sejak mahasiswa baru mulai menjalani kehidupan kampus.

“Ini bukan soal membenci siapa pun. Kami ingin menjaga kejernihan nilai sejak mahasiswa baru menapaki kampus,” ujarnya.

LDK KALAM Juga Serukan Free Palestine

Selain menolak normalisasi LGBT, LDK KALAM UTS turut menyuarakan Free Palestine. Mereka membawa pesan tersebut dalam penampilan di hadapan mahasiswa baru.

Faris mengatakan, LDK KALAM melihat persoalan Palestina dari sisi kemanusiaan dan solidaritas umat Islam. Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan politik.

“Lebih dari itu, membela Al-Quds dan saudara kita di Palestina adalah bagian dari ukhuwah Islamiyah yang tidak bisa kami diamkan,” katanya.

Faris kemudian mengaitkan kedua pesan tersebut dengan semangat yang ingin LDK KALAM tanamkan kepada mahasiswa baru.

“Dua sikap ini sebenarnya satu jiwa, yaitu menegakkan kebenaran. Ke dalam diri sendiri maupun ke luar sebagai bentuk kepedulian pada umat,” ujarnya.

Menurut Faris, LDK KALAM ingin mahasiswa baru memahami nilai tersebut sejak awal memasuki lingkungan kampus. “Itu yang ingin kami tanamkan sejak mahasiswa baru masuk ke kampus ini,” katanya. (*)

Artikel Terkait