Jauh di Hutan Selatan Rinjani, Ada Mayung Polak dan Cerita Kijang Patah
Lombok Timur (NTBSatu) – Suara aliran sungai menjadi teman perjalanan menuju Air Terjun Mayung Polak di kawasan selatan Gunung Rinjani, Lombok Timur (Lotim).
Dari area parkir, pengunjung masih harus berjalan kaki sekitar 30 hingga 40 menit. Jalurnya membawa wisatawan masuk ke dalam hutan, menyusuri aliran sungai, melewati bebatuan hingga sejumlah tebing dengan medan yang cukup terjal. Perjalanan panjang itu justru menjadi bagian dari daya tarik Mayung Polak.
Salah seorang pengunjung asal Kecamatan Sakra, Khairul Majdi, mengaku sudah beberapa kali mengunjungi air terjun tersebut. Ia bahkan mengenal Mayung Polak sejak kawasan itu belum mendapat pengelolaan seperti sekarang.
Menurutnya, Mayung Polak memiliki suasana yang berbeda dari destinasi air terjun lainnya. Lokasinya yang jauh dari permukiman membuat kawasan itu masih terasa alami.
“Untuk sampai di air terjun kita harus berjalan sekitar 30-40 menit dari gerbang atau parkiran. Lokasi air terjunnya cukup jauh. Tidak sedikit pengunjung yang balik karena tidak sanggup berjalan,” ujarnya, Kamis, 3 September 2026.
Sepanjang perjalanan, wisatawan tidak langsung berhadapan dengan air terjun utama. Beberapa air terjun kecil muncul di sejumlah titik. Pengunjung bisa berhenti sejenak, menikmati aliran air yang jernih sekaligus melepas lelah.
Terdapat Empat Air Terjun
Khairul menyebut, sedikitnya ada empat air terjun kecil sebelum wisatawan tiba di Mayung Polak. Air terjun utama menjadi penutup perjalanan. Airnya mengalir deras dari ketinggian sekitar 30 hingga 40 meter. Suara jatuhan air berpadu dengan suasana hutan yang masih asri.
Bagi pencinta alam, perjalanan panjang menuju lokasi bukan persoalan. Justru jalur tersebut memberi pengalaman tersendiri sebelum menikmati kesegaran air Mayung Polak.
Pengunjung juga bisa bersantai di sekitar air terjun sambil menikmati bekal, kopi, atau makanan. Pada akhir pekan, kawasan ini ramai oleh wisatawan.
Pengelola mematok tiket masuk sekitar Rp25 ribu. Sebelum berjalan, pengunjung mendapat peta sebagai panduan agar tidak tersesat di tengah jalur hutan.
Namun, bagi sebagian masyarakat sekitar, Mayung Polak memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar destinasi wisata.
Menembus Hutan Menuju Mayung Polak
Amak Kahtum, 65 tahun, warga Desa Pengadang Barat, Kecamatan Pringgasela, sudah puluhan kali datang ke tempat tersebut. Ia mengenal Mayung Polak sejak jalur menuju lokasi masih berupa hutan dan semak belukar.
“Jalan ini dulu masih belum ada. Betul-betul hutan belantara dan dipenuhi semak belukar. Saat masih muda saya sudah sering ke sini, baik sendiri maupun bersama teman-teman di kampung,” ujar Amak Kahtum.
Kahtum tidak selalu datang untuk menikmati pemandangan. Ia datang dengan tujuan lain, yakni mandi di bawah aliran air terjun.
Masyarakat sekitar sejak dulu mempercayai air Mayung Polak sebagai bagian dari ikhtiar untuk mengobati berbagai penyakit. Kepercayaan itu kemudian melekat dalam cerita yang berkembang dari generasi ke generasi.
“Kalau kita sakit-sakit pasti ke sini berobat. Makanya orang-orang dulu bilang pergi berobat ke Mayung Polak. Bukan pergi wisata,” katanya.
Kisah Kijang di Balik Nama
Nama Mayung Polak sendiri juga menyimpan cerita. Dalam kisah yang berkembang di tengah masyarakat, seekor mayung atau kijang pernah jatuh dari atas air terjun hingga mengalami patah tulang.
Setelah terendam di aliran air Mayung Polak, kijang tersebut kemudian sembuh dan kembali berlari. Cerita itulah yang kemudian melahirkan nama Mayung Polak, yang berarti kijang patah.
Kepercayaan terhadap khasiat air tersebut pun terus bertahan. Masyarakat terutama mengaitkannya dengan berbagai keluhan yang berhubungan dengan tulang, seperti sakit pinggang dan kaki. Namun, sebagian warga juga datang dengan harapan kesembuhan dari penyakit lainnya.
“Tergantung niat untuk kesembuhan apa. Tidak mesti penyakit pinggang atau penyakit yang menyangkut tulang, penyakit lainnya juga bisa,” tutur Kahtum.
Ia sendiri merasakan tubuhnya lebih ringan setiap kali selesai mandi di air terjun. Rasa pegal pada kaki juga menurutnya berkurang.
Bagi Kahtum dan sebagian masyarakat sekitar, pengalaman tersebut menjadi alasan untuk terus kembali ke Mayung Polak.
Sesekali, ia datang bersama keluarga. Mereka membawa makanan, membakar ayam, lalu mandi di sekitar air terjun sebelum pulang pada sore hari.
“Semua tergantung keyakinan. Kalau kami di sekitar sini percaya dengan itu. Sesekali kami berkumpul bersama keluarga untuk bakar ayam di sekitar air terjun, setelah itu kami mandi, nanti sore baru pulang,” tandasnya.
Di tengah perkembangan wisata alam di kawasan Rinjani, Mayung Polak akhirnya memiliki dua wajah. Wisatawan datang untuk menikmati hutan, sungai dan air terjun.
Sementara masyarakat sekitar masih menjaga cerita lama tentang air yang mereka percaya membawa kesembuhan.
Perjalanan menuju Mayung Polak pun bukan hanya soal mencapai sebuah air terjun. Di balik jalur panjang dan suara deras air, tersimpan cerita yang membuat destinasi ini tetap hidup di tengah masyarakat. (*)




