Refleksi 33 Tahun Kota Mataram: Merawat Capaian, Menjawab Tantangan, Menumbuhkan Harapan
Mataram (NTBSatu) – Memasuki usia ke-33, Kota Mataram tidak hanya merayakan berbagai capaian pembangunan, tetapi juga menghadapi tantangan perkotaan yang semakin kompleks.
Momentum hari jadi menjadi ruang bagi pemerintah untuk melakukan refleksi sekaligus menyiapkan fondasi pembangunan bagi generasi berikutnya.
Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana mengatakan, perjalanan 33 tahun Kota Mataram merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat. Pembangunan, menurutnya, merupakan estafet yang harus terus berlanjut dan terjaga kesinambungannya.
“Tiga puluh tiga tahun adalah perjalanan panjang. Ada yang memulai, ada yang meneruskan, ada yang memperbaiki, dan ada yang menjaga agar apa yang sudah ada tidak kembali ke titik awal,” ujar Mohan pada upacara peringatan HUT ke-33 Kota Mataram, Senin, 31 Agustus 2026.
Berbagai indikator menunjukkan perkembangan positif. Pada 2025, ekonomi Kota Mataram tumbuh 5,43 persen dengan inflasi 3,21 persen. Prevalensi stunting turun menjadi 5,53 persen, kemiskinan 7,15 persen, sementara IPM mencapai 82,37 dan masuk kategori sangat tinggi.
Mataram juga mencatat sejumlah prestasi nasional. Mataram sebagai Percontohan Kota Antikorupsi 2025 dengan skor 91,85 kategori istimewa.
Predikat Kota Sangat Inovatif melalui IGA Award 2025, masuk 10 kota paling maju berdasarkan Indeks Daya Saing Daerah 2025, serta kembali meraih opini WTP atas LKPD 2025. Raihan tersebut memperpanjang catatan WTP menjadi 12 kali berturut-turut.
Tantangan Kota Mataram
Namun, Mohan mengingatkan capaian tersebut tidak boleh membuat pemerintah berpuas diri. Menurutnya, semakin berkembang sebuah kota, semakin kompleks pula persoalan yang harus ada.
Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapatkan atensi serius. Meningkatnya jumlah penduduk berimplikasi terhadap kebutuhan perumahan, pelayanan publik, infrastruktur, lapangan pekerjaan, hingga lingkungan. Karena itu, pertumbuhan ekonomi harus mampu menciptakan kesempatan kerja dan memperluas peluang usaha, terutama bagi generasi muda.
Persoalan lingkungan juga menjadi perhatian. Peningkatan aktivitas masyarakat berpengaruh terhadap volume sampah, pengelolaan air limbah, sanitasi, serta kualitas lingkungan. Mohan menilai, pengelolaan sampah harus berlangsung secara terpadu. Mulai dari pengurangan dan pemilahan pada sumber hingga pengolahan dan penanganan residu.
Keterbatasan lahan juga menjadi tantangan tersendiri. Perkembangan kawasan permukiman dan pembangunan perlu diimbangi dengan perlindungan lahan baku sawah serta penyediaan ruang terbuka hijau. Menurutnya, pembangunan tidak boleh menghilangkan keseimbangan antara kebutuhan ruang kota, lingkungan, dan ketahanan pangan.
Mohan juga menyoroti pentingnya infrastruktur publik yang inklusif. Transportasi publik yang aman, nyaman, dan terjangkau perlu hadir, termasuk memastikan akses yang ramah bagi perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
Sebagai kota yang memiliki kawasan pesisir, Mataram juga menghadapi tantangan abrasi dan perubahan lingkungan. Perlindungan kawasan pesisir, peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir, serta penguatan mitigasi bencana menjadi bagian penting dalam pembangunan ke depan.
Selain itu, keamanan dan ketertiban masyarakat menjadi faktor penting. Mohan menilai kota yang maju bukan hanya terlihat pembangunan fisik, tetapi juga oleh rasa aman yang dirasakan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Pembangunan untuk Masa Depan
Karena itu, Pemkot Mataram mengusung tema “Merawat Kota, Menumbuhkan Harapan.” Tema tersebut menjadi semangat untuk mempertahankan capaian sekaligus memperbaiki berbagai persoalan yang masih dihadapi.
“Merawat berarti menjaga yang telah baik, memperbaiki yang masih kurang, membuka ruang bagi kritik dan aspirasi, serta memastikan tidak ada warga yang tertinggal,” kata Mohan.
Ia menegaskan, pembangunan harus dipersiapkan dalam perspektif jangka panjang. Pemerintah tidak hanya berkewajiban menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga memastikan generasi berikutnya memperoleh fondasi yang kuat untuk melanjutkan pembangunan.
“Ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya apa yang kita bangun hari ini, tetapi seberapa kuat fondasi yang kita siapkan agar pembangunan dapat berlanjut pada generasi berikutnya,” tandasnya. (*)




