Akademisi Unram: Pembangunan Ulang Sade Harus Libatkan Masyarakat
Lombok Tengah (NTBSatu) – Pembangunan kembali Rumah Adat Sade pascakebakaran, tidak boleh sekadar mengganti rumah yang hangus.
Akademisi Arsitektur Universitas Mataram (Unram), Liza Hani Saroya Wardi, S.T.,M.T., mendorong pemerintah melibatkan masyarakat dalam setiap tahapan pembangunan. Menurutnya, masyarakat Sade paling memahami nilai, aturan, dan karakter arsitektur adat mereka.
“Kami yang membuat rumah kami sendiri. Kami tahu aturannya,” kata Liza, mengingat kembali ucapan warga Desa Sade, Jumat, 28 Agustus 2026.
Ia mengatakan, masyarakat juga memiliki kemampuan membangun rumah secara mandiri. Selain itu, masyarakat Sade memiliki ketentuan terkait material bangunan. Mereka ingin mempertahankan material asli yang menjadi bagian dari karakter rumah adat.
“Masyarakat Sade tentunya tahu dan paham aturannya. Mereka tentunya tidak mau kalau tidak dengan material asli,” kata akademisi lulusan Universitas Brawijaya, Malang tersebut.
Nilai Adat Tak Boleh Hilang
Selain itu, Liza menilai pembangunan ulang tetap membutuhkan penyesuaian dengan kebutuhan masa kini. Namun, penyesuaian tersebut tidak boleh menghilangkan nilai utama dalam arsitektur Sade.
“Ada nilai yang tidak boleh dihilangkan, ada yang boleh diintervensi atau mengalami modifikasi,” jelas dosen yang juga merupakan peneliti desa Sade tersebut.
Namun, menurutnya, pemerintah dapat memasukkan sejumlah fasilitas pendukung dalam proses rekonstruksi. Fasilitas tersebut dapat menunjang kebutuhan warga sekaligus aktivitas wisatawan.
“Kalau ada perbaikan, ada rekonstruksi, kamar mandi untuk wisatawan bisa dimodifikasi,” katanya.
Selain kamar mandi, pemerintah juga perlu memperhatikan aspek keselamatan kawasan. Salah satunya dengan menyiapkan jalur evakuasi yang jelas dan mudah aksesnya.
“Kemudian yang kedua bagaimana jalur-jalur evakuasi,” ujarnya.
Liza juga mengusulkan fasilitas pendukung kegiatan ekonomi dan pelestarian budaya. Pemerintah dapat menyiapkan galeri untuk mendukung penjualan produk warga. Selain itu, pemerintah dapat menyediakan museum untuk menyimpan benda-benda pusaka masyarakat Sade.
“Bahkan kalau bisa ada museum untuk memasukkan barang-barang pusaka mereka,” katanya.
Modernisasi Perlu Dikendalikan
Di sisi lain, Liza melihat kebakaran tersebut sebagai momentum evaluasi bagi masyarakat Sade. Ia menyebut masuknya berbagai perangkat modern juga membawa risiko baru bagi permukiman tradisional.
“Modernisme itu sudah terlalu banyak masuk, listrik, gas, kompor gas, kulkas, TV dan sebagainya,” katanya.
Menurutnya, penggunaan listrik perlu mendapat perhatian serius dalam kawasan rumah tradisional. Sebab, instalasi dan penggunaan listrik dapat meningkatkan risiko kebakaran jika pengelolaannya tidak dengan baik.
Karena itu, pembangunan ulang Sade seharusnya tidak hanya mengejar bentuk fisik rumah. Pemerintah perlu menyatukan pelestarian adat, kebutuhan wisata, dan aspek keselamatan.
Liza menilai, masyarakat harus tetap menjadi aktor utama dalam proses tersebut. Dengan begitu, pembangunan kembali Sade tidak kehilangan identitas sekaligus mampu menjawab kebutuhan masa kini.(*)




