AJI Mataram Tegaskan Film “Pesta Babi” sebagai Karya Jurnalistik Investigasi Isu Kemanusiaan Papua
Mataram (NTBSatu) – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram menyelenggarakan nonton bareng sekaligus diskusi film dokumenter “Pesta Babi”, pada Minggu malam, 17 Mei 2026 di Sekretariat AJI Mataram.
Kegiatan diselenggarakan melalui Kolaborasi AJI Mataram bersama Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ), Lembaga Studi dan Bantuan Hukum (LSBH) Mataram, Pusat Bantuan Hukum Mangandar (PBHM) NTB, dan Serikat Pekerja Lintas Media NTB ini berlangsung hangat dengan kehadiran jurnalis, aktivis, mahasiswa hingga perwakilan organisasi masyarakat sipil.
Mereka bersama-sama mengulas karya jurnalistik investigasi yang mengangkat persoalan lingkungan, dampak pembangunan, dan hak masyarakat adat di Papua.
Kegiatan yang dipandu jurnalis Suara NTB, Nurmita dibuka dengan monolog dan testimoni dari seorang pelajar kelas VII bernama Alisa. Ia hadir didampingi PBHM NTB, Yan Mangandar.
Dalam testimoninya, Alisa mengaku, telah menonton film “Pesta Babi” berulang kali. Ia menilai, film tersebut memperlihatkan potret dugaan pelanggaran HAM berat yang terjadi di Papua selama bertahun-tahun.
“Saya ingin menyampaikan bela sungkawa terhadap saudara kita di Papua. Di sana sudah terjadi pelanggaran HAM berat selama puluhan tahun,” ujar Alisa di hadapan peserta diskusi.
Diskusi ini menghadirkan Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan NTB, Dwi Sudarsono; Ketua AJI Mataram, Wahyu Widiantoro. Serta, Direktur LSBH Mataram, Badaruddin sebagai penanggap utama.
Para peserta diberikan ruang untuk menyampaikan pandangan dan tanggapan setelah pemutaran film selesai.
Ketua AJI Mataram, Wahyu Widiantoro menyebut, karya jurnalistik investigasi dalam “Pesta Babi” layaknya oase di tengah minimnya liputan mendalam mengenai isu kemanusiaan di Papua.
Menurutnya, film tersebut mampu menghadirkan persoalan secara utuh sekaligus membongkar berbagai bentuk ketidakadilan yang terjadi.
“AJI Mataram berkomitmen menjaga ruang kebebasan pers dan mendorong karya jurnalistik yang tajam, beretika, dan bermanfaat,” tegas Wahyu. (Arum)



