Antara Kawah Candradimuka dan Stagnasi Bangkom ASN: Sebuah Catatan Kolaborasi dan Ikhtiar dari NTB
Oleh: Dr. Najamuddin Amy, S.Sos., MM. – Alumni Doktoral PSDM Unair Surabaya/Alumni MSDM STIA LAN Bandung
Kemarin, saya “pulang” ke almamater. Bukan sekadar nostalgia, tapi seperti menengok titik nol perjalanan intelektual saya. Di kampus yang dulu bernama STIA LAN, kini Politeknik STIA LAN, saya menamatkan D3 Administrasi Kepegawaian dan kemudian merampungkan Sarjana MSDM di kampus LAN Bandung. Tempat yang mengawali pengetahuan dan mengasah soft skill saya semasa mahasiswa.
Lucu sekaligus mengharukan, di sebuah acara di LAN Jakarta, saya bertemu dua deputi. Deputi I, sesama alumni, justru dulu yang mengalungkan medali sebagai salah satu dari 9 peserta Lulusan Terbaik Istimewa saat saya menempuh PKN 2 Tahun 2019. Deputi III, dosen sekaligus penguji saya kala itu. Waktu benar-benar terbang jauh.
Namun di balik haru dan bangga itu, kegelisahan justru mencekik. Saat saya kini berada di “Kawah Candradimuka” pengembangan kompetensi ASN di NTB, saya melihat gambaran besar yang justru memilukan. Betapa banyak ASN kita stagnan. Jarang mengikuti pelatihan, ogah mengembangkan diri, dan kapasitas pelayanan publiknya mandek.
Paradoksnya, saat saya menuntaskan magister dan doktoral, banyak rekan ASN lain yang tidak mendapat kesempatan serupa. Ribetnya izin belajar, minimnya dukungan anggaran, hingga ketidakpastian pengakuan gelar—semua itu menjadi juru bisu yang mendorong kemalasan kolektif. Lebih dari lima tahun pasca pemisahan BKD dan BPSDM Provinsi NTB, manajemen berjalan autopilot. Analisis Kebutuhan Pelatihan (AKPK) dan pola karier nyaris tanpa intervensi perencanaan dan penganggaran. Akibatnya, pengembangan karier yang terencana dan terukur bagai pelita di tengah gelap, padahal ASN sangat merindukan apresiasi atas kinerjanya. Gerusan politik dari periode ke periode kepemimpinan hanya menambah sisi kelam pola karier dan pengembangan SDM.
Dari kacamata ilmiah pengembangan SDM, saya menilai NTB stagnan. Pengembangan kompetensi kita selama ini hanya berkutat pada Latsar, PKP, PKA, dan PKN. Polesan jabatan fungsional hampir tak pernah terjadi. Pengembangan kompetensi teknis masih sebatas seremonial. Human Capital Development Plan (HCDP) dan Individual Development Plan (IDP) nyaris absen, baru akan disusun seiring penerapan Manajemen Talenta berbasis meritokrasi oleh BKN. Waktu berharga kita melayang sia-sia.
Tapi seperti kata orang bijak, selalu ada harapan di ujung jalan. Di sinilah letak urgensi kolaborasi. Kemarin, saya mendampingi Kepala BPSDM NTB, Bapak Drs. H. Fathurrahman, M.Si., dalam pertemuan marathon dengan tiga deputi LAN RI, Rabu (13/5). Kami membahas tiga agenda besar:
- Percepatan pengembangan kompetensi ASN melalui pelatihan tiga jabatan fungsional (Widyaiswara, Analis Pengembangan Kompetensi, Analis Kebijakan Publik) serta uji kompetensi dengan skema perpindahan. Termasuk ikhtiar memperbanyak pelatihan teknis dan fungsional melalui optimalisasi Transformasi Pembelajaran (ASN Future Skill, Digital Talent Scholarship/DTS, Pelatihan Kolaborasi DJP/Kemenkeu dan Bidang Kesehatan serta Pemanfaatan LMS K/L lainnya. Termasuk di dalamnya pengayaan Manajemen Pengetahuan melalui optimalisasi Corporate University dalam pengembangan kompetensi ASN. Mengaktifkan kembali Jurnal Ilmiah e_Bestari sebagai wadah mengasah kemampuan menulis, penguatan nalar, publikasi hasil penelitian dan kajian dari setiap proses pembelajaran;
- Persiapan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II, yang akan digelar Juni 2026 di BPSDM NTB. Penekanannya pada sarana-prasarana, tema yang selaras dengan resiliensi program prioritas nasional-daerah, serta penyiapan fasilitator internal Widyaiswara NTB melalui workshop dan sitting in. PKN 2 diharapkan mampu memberi dampak pada penuntasan triple agenda dan berkontribusi pada percepatan program dalam RPJMD dan RPJMN;
- Penjaminan mutu untuk PKP, PKA, hingga PKN II, dengan target tahun 2028 BPSDM NTB terakreditasi penuh dan mampu menyelenggarakan PKN II secara mandiri. Termasuk juga mengawal akreditasi bagi akreditasi pembelajaran bagi Pengembangan Kompetensi Jabatan Teknis dan Sosio Kultural dan Jabatan Fungsional lainnya.
Saya optimis, karena komitmen serius Pemerintah Provinsi dan BPSDM NTB tidak main-main. Peningkatan kompetensi ASN yang berkelanjutan dan berstandar nasional adalah keniscayaan. Komitmen penyelesaian HCDP dan IDP Pemprov NTB akan segera dituntaskan akhir tahun ini. Kolaborasi stakeholders diperkuat. Penjaminan mutu bersama lembaga terkait diramu dan mulai diperketat. Kerjasama dengan stakeholders dan mitra juga diperluas termasuk untuk pemanfaatan LMS sebagai salah satu strategi transformasi pembelajaran, saat alokasi anggaran terbatas.
Memang, kita kehilangan banyak waktu. Tapi belum terlambat. Kawah Candradimuka pengembangan ASN bukanlah kutukan, melainkan ruang pembakaran semangat untuk berbenah. Harapan itu kini saya genggam erat: bahwa suatu saat nanti, ASN NTB tidak lagi stagnan, melainkan adaptif, kompeten, dan memberikan pelayanan publik yang berdampak nyata—sesuai amanat RPJMN dan RPJMD Provinsi Nusa Tenggara Barat. (drna76)




