Opini

Quo Vadis Pasukan Kuning? (Mengetuk Kesadaran Warga Menjaga Kebersihan di Area Fasilitas Umum)

Oleh: Dr. Najamuddin Amy, S.Sos., MM. – Penggagas Talks Show CFD & Public Information Space (PIS CFD Kominfotik NTB) 2022 di CFD Udayana Mataram

Pagi ini, saya jalan kaki, bersepeda, dan menikmati Monas. Kebetulan libur panjang, suasananya lenggang. Saya tawaf dua kali mengelilingi tugu, lalu bersepeda menikmati hamparan halaman luas yang bersih. Nyaris tak ada sampah. Kecuali satu botol plastik bekas minuman di salah satu pot besar depan tugu Monas.

Saya bergumam: Hebat pasukan kuningnya. Mereka ada di setiap pojok. Ibu-ibu dengan sapu lidi panjang, bapak-bapak yang pangkas dahan, tim elektrik servis lampu taman, bahkan truk-truk sampah yang mengambil sampah organik dan non-organik. Saya minta berfoto sebagai apresiasi. Tapi di dalam hati, saya bertanya: tanpa mereka, apakah Monas akan sebersih ini?

IKLAN

Kenangan dari Bantar Gebang dan Jepang

Saya ingat tahun 2019. Saat itu saya menjabat Karo Humas dan Protokol Pemprov NTB. Saya memboyong rombongan pers trip wartawan ke Jakarta dan Bandung. Di sela agenda studi komparasi, saya sisipkan satu agenda penting: berkunjung ke puncak TPST Bantar Gebang.

Saya ingin para jurnalis punya pemahaman utuh. Bahwa sampah itu bukan akhir. Di Bantar Gebang, sampah dikelola sampai menghasilkan produk turunan, biogas, bahkan energi listrik. Sejak 2019, PLTSa Merah Putih di sana mampu mengolah 100 ton sampah per hari menjadi 700 kilowatt listrik. Saya sengaja membawa mereka ke sana agar sadar: pengelolaan sampah adalah urusan serius, bukan sekadar buang dan diangkut.

Tapi di sisi lain, saya juga ingat pengalaman di Jepang 2013. Di sana, saya harus mengantongi sisa plastik makanan dan bungkus permen saya sejauh-jauhnya sampai bertemu bak sampah. Bahkan saya bawa balik ke hotel dan buang di pojok sampah kamar. Bukan karena takut denda. Tapi karena memang itu budaya. Malu kalau ketahuan buang sampah sembarangan. Yang cukup lucu bagi saya. Ada smooking room pinggir jalan. Saya perhatikan saat asap mengepul seluruh box smoking room dari bening menjadi berembun putih kacanya.

IKLAN

Kegelisahan Saya di CFD Udayana Mataram

Sekarang, izinkan saya bicara tentang kampung sendiri. Sepanjang 2022 dan 2023, sewaktu saya di Kominfo NTB, saya menginisiasi halaman kantor yang berada di depan CDD Udayana sebagai Public Information Space. Saya beri tajuk “Talk Show CFD” dan “Bincang Gemilang” secara tematik. Kami hadirkan mitra kerja se-NTB, bahkan jadi ajang Right To Know Day Internasional dan Peringatan Nasional Keterbukaan Informasi Publik. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas.

Saya ingin bicara soal kesadaran warga. Setiap CFD di Mataram dan beberapa kabupaten di NTB, agendanya bagus. UMKM bergerak, ruang publik hidup, anak-anak bermain. Tapi setelah usai? Kasihan pasukan kuningnya. Mereka kewalahan membersihkan sampah-sampah yang seharusnya dibawa pulang oleh pengunjungnya sendiri.

Saya lihat masih banyak yang merokok sembarangan, padahal ada bayi, balita, dan ibu hamil. UMKM berjejal, limbah makanan dan minuman tak terkelola. Tusukan sate cilok, plastik minuman, puntung rokok, kertas flyer promo—berserakan.

Maaf, saya jadi malas merekomendasikan CFD ke anak dan keluarga sendiri. Bukan karena agendanya jelek, tapi karena kondisinya tidak ramah anak dan tidak bersih. Padahal pemda manapun selalu ingin dapat predikat Kota Layak Anak dan Ruang Terbuka Hijau yang fresh, nyaman dan menjadi pusat oksigen kota. Sebelum CFD dimulai, tempat itu bersih. Harusnya setelah acara selesai, juga bersih. Bukan cuma ngandalin pasukan kuning.

Fakta di TPA Kebon Kongo Tidak Bisa Ditawar

Ini data yang membuat saya miris. Kota Mataram menghasilkan sekitar 230 hingga 250 ton sampah per hari. TPA Regional Kebon Kongok, tempat sampah-sampah itu bermuara, sudah overload. Kapasitasnya hanya mampu menampung sekitar 40 persen dari total sampah harian.

Akibatnya, sampah tidak terangkut dari TPS di perkotaan. Ironisnya, untuk menjalankan proyek PLTSa seperti di Bantar Gebang, investor butuh pasokan 1.000 ton sampah per hari. Sementara yang masuk ke Kebon Kongok hanya sekitar 450 ton.

Artinya? Sampah kita banyak, tapi tidak terkelola dengan baik. Dan sampah dari CFD yang tercampur antara organik, plastik, dan residu berbahaya hanya memperparah masalah di hulu. Saya tanya: siapa yang paling dirugikan? Ya kita sendiri. Dan lingkungan anak cucu kita.

Dibutuhkan Strengt Willingness untuk menghasilkan kebijakan tepat untuk menuntaskan hal ini. Contoh baik sudah banyak. Mau atau tidak menerapkan Best Practices itu?

Tapi Ada Contoh Baik yang Bisa Kita Tiru

Saya tidak hanya mau mengeluh. Saya ingin menawarkan solusi dari praktik baik yang sudah ada.

Di Cianjur, Dinas Lingkungan Hidup membuka pos penukaran sampah saat CFD. Dengan 50 botol plastik bekas, warga bisa mendapat minyak goreng, gula, atau mie. Hasilnya? Sampah plastik yang terkumpul naik dari 10-20 kg per minggu menjadi 50 kg per minggu. Warga yang tadinya buang, sekarang ngumpulin. Saya pikir ini bisa ditiru di Mataram.

Di Tangerang, CFD di tingkat RW jadi ajang edukasi Pola Hidup Bersih dan Sehat. Wali Kota-nya turun langsung menyerahkan truk sampah hasil pajak warga. Rasa memiliki fasilitas bersama itu tumbuh. Warga jadi tahu: ini uang saya, ini tanggung jawab saya.

Saya sendiri dulu sudah mencoba dan memulainya dengan menjadikan halaman kantor Kominfo sebagai ruang informasi publik. Saya ingin edukasi itu hidup. Tapi tanpa dukungan kesadaran warga, semua akan sia-sia.

Penutup: Ini Soal Harga Diri

Ini fakta empirik di fasilitas publik kita. Kita ingin udara segar, tapi asap rokok yang ada. Kita ingin pemandangan bersih, tapi kita sendiri yang buang sampah sembarangan. Termasuk puntung rokok, tusukan sate, plastik, dan kertas-kertas flyer. Saya jadi ingat kebakaran baru-baru ini pemicu utamanya adalah buang puntung rokok sembarangan dan apinya masih ada.

Fasilitas publik itu aset bersama. Tempat tumbuh bersama. Sekolah perjumpaan dan wadah silaturahmi warga yang rileks, nyaman, dan meneduhkan. Belajar dari kebersihan Monas dan dari budaya disiplin dan malu di Jepang dan beberapa kota di dunia dan daerah lainnya yang sukses. Sekarang giliran kita belajar dari kesalahan sendiri.

Jangan tanya quo vadis pasukan kuning. Mereka akan tetap bekerja. Yang harus bertanya quo vadis pada dirinya sendiri adalah kita, para pengunjung CFD, para perokok di ruang publik, para pembeli cilok yang buang tusukannya sembarangan. Para perokok yang merokok bukan di area merokok dan membuang puntungnya sembarangan.

Karena pasukan kuning itu punggungnya sudah bungkuk. TPA Kebon Kongo sudah sesak. Dan anak-anak kita menonton semua perilaku kita. Bersih itu bukan cuma tugas mereka. Bersih adalah tugas fitrah manusia. Tugas iman setiap orang. Menjaga kebersihan disebut sebagian dari iman. Dan karenanya mari jaga kebersihan itu sebagai bagian dari harga diri kita. (Jakarta14526_drna76)

Artikel Terkait

Back to top button