NasionalPeristiwa

BNPB Catat 68 Korban Jiwa dan 2.119 Gempa Susulan Pasca-Gempa M 7,7 di NTT

Mataram (NTBSatu) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi Magnitudo 7,7 di NTT, mencapai 68 orang hingga Senin, 17 Agustus 2026.

Peristiwa gempa tersebut merusak ribuan bangunan rumah dan memicu evakuasi ribuan warga di beberapa kabupaten terdampak.

​Pemerintah daerah bersama tim gabungan penanggulangan bencana mengintensifkan penanganan darurat serta penyaluran bantuan di kawasan bencana. Kendati pendataan awal menunjukkan pemutakhiran angka korban jiwa, petugas di lapangan tetap memperketat penyisiran lokasi.

IKLAN

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyebutkan jumlah korban jiwa dari bencana tersebut. ​”Ada 68 jiwa yang meninggal,” katanya pada Senin, 17 Agustus 2026.

​Gempa Susulan Capai Ribuan Kali

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa aktivitas kegempaan susulan (aftershocks) di NTT masih terus berlangsung secara masif pasca-guncangan utama pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Hal ini sesuai penyampaian dari Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto.

​”Update gempa bumi susulan gempa Flores M 7,7 hingga tanggal 18 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, total gempa bumi susulan 2.119,” ujarnya.

IKLAN

​Wijayanto menjelaskan, kekuatan gempa susulan tersebut bervariasi dengan magnitudo terbesar mencapai M 6,2 dan terkecil M 1,3. BMKG merekam sebanyak 24 kali gempa susulan berkekuatan di atas Magnitudo 5,0. Sementara warga merasakan getaran secara nyata sebanyak 70 kali.

​Tingginya frekuensi gempa susulan ini menunjukkan proses pelepasan sisa energi tektonik pada struktur batuan di bawah permukaannya masih terus berlangsung hingga mencapai titik kesetimbangan baru.

Oleh karena itu, BMKG bersama tim gabungan mengimbau warga untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan menghindari bangunan berstruktur retak. Hal ini demi mencegah risiko bahaya reruntuhan akibat guncangan susulan.

Kerusakan Fasilitas Publik dan Penanganan Pengungsi

Dampak kerusakan fisik akibat guncangan tektonik meluas ke berbagai sektor sarana publik dan pemukiman warga. Data BNPB mengonfirmasi bahwa gempa merusak lebih dari 1.350 unit rumah warga dengan kategori kerusakan berat, sedang, hingga ringan.

Lebih dari 213 warga mengalami luka-luka dan menerima perawatan medis intensif. Sementara itu, lebih dari 5.000 jiwa bertahan di lokasi pengungsian darurat maupun titik pengungsian mandiri.

​Kerusakan juga berdampak pada lebih dari 160 unit fasilitas publik yang mencakup 90 gedung sekolah atau fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 unit gedung kantor pemerintah.

Kerusakan fisik pada bangunan utama rumah sakit bahkan memaksa tenaga medis memindahkan seluruh pelayanan darurat dan perawatan pasien ke tenda-tenda darurat di luar ruangan. ​

Di sisi lain, Berton memastikan bahwa saat ini pihak berwenang tidak lagi menerima laporan mengenai warga yang hilang pasca-gempa. Meski demikian, Tim Basarnas tetap menyiagakan personel secara penuh di lapangan untuk memantau situasi secara intensif.

​”Tim dari Basarnas masih siaga di tujuh kabupaten terdampak. Hingga saat ini, 17 Agustus, sudah tidak ada laporan warga yang hilang di wilayah terdampak. Namun demikian, tim Basarnas tetap melakukan upaya pencarian dan menerjunkan personel secara optimal di daerah-daerah terdampak,” ujar Berton. (*)

Artikel Terkait