Nasional

Fenomena Matahari Merah di Kalimantan Tengah, BMKG Ungkap Pemicunya

Mataram (NTBSatu) – Kemunculan fenomena Matahari berwarna merah pekat di langit Palangka Raya, Kalimantan Tengah, memicu perhatian publik. Hal ini semakin gempar setelah pemandangan menyerupai bola api terlihat jelas di atas pemukiman warga.

Prakirawan BMKG Palangka Raya, Chandra mengatakan, peristiwa visual tersebut terjadi akibat interaksi radiasi cahaya Matahari dengan partikel aerosol yang terkandung di dalam asap Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) di wilayah tersebut.

​”Benar. Bisa dipengaruhi kabut asap karhutla yang sedang terjadi di wilayah Kalimantan Tengah,” ujarnya, mengutip detikNews pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

IKLAN

​Akumulasi partikel padat di lapisan atmosfer rendah memengaruhi spektrum cahaya yang mampu menembus permukaan bumi. Secara fisika, partikel mikroskopis dalam asap memblokir serta membiaskan gelombang cahaya biru yang berukuran lebih pendek.

Sementara gelombang warna merah dan jingga yang memiliki panjang gelombang lebih besar tetap mampu menerobos kerapatan asap hingga sampai ke mata pengamat.

Mekanisme Hamburan Cahaya di Atmosfer

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) turut memberikan penjelasan teknis mengenai mekanisme hamburan atmosferik tersebut melalui dokumentasi Astronomy Picture of the Day.

IKLAN

​”Cahaya yang kita lihat dari Matahari tampak lebih redup dan lebih merah daripada biasanya,” tulis NASA dalam Astronomy Picture of the Day pada 30 Juli 2026.

​Efek visual semakin menguat tatkala posisi Matahari berada semakin rendah di langit atau mendekati garis cakrawala. Jarak tempuh sinar Matahari melintasi lapisan atmosfer menjadi jauh lebih panjang. Sehingga intensitas penyerapan gelombang pendek seperti warna biru meningkat pesat.

Debu, polusi, serta keberadaan lapisan asap yang cukup tebal secara langsung memperkuat efek visual tersebut.

Temuan Ilmiah Aerosol Karhutla Indonesia

Penelitian J.L. Gras bersama tim risetnya dalam jurnal Geophysical Research Letters (1999) mengonfirmasi aerosol dari kebakaran hutan di Indonesia memiliki daya hambur cahaya yang sangat tinggi.

Pengukuran langsung di tanah Kalimantan membuktikan kenaikan kadar kelembapan udara secara signifikan. Selanjutnya, hal ini meningkatkan kemampuan partikel asap dalam membiaskan sinar Matahari.

​Riset lanjutan dari Teruyuki Nakajima memperkuat temuan tersebut melalui analisis pencitraan satelit dan stasiun pemantau darat. Asap karhutla di Indonesia mengandung percampuran kompleks antara partikel karbon padat dan sulfat. Selanjutnya, hal ini yang memengaruhi bagaimana radiasi Matahari berinteraksi dengan lapisan asap.

Oleh karena itu, fenomena ini murni akibat perubahan dinamika optik di atmosfer, bukan karena adanya perubahan fisik pada Matahari itu sendiri. (*)

Artikel Terkait