Diterjang Angin Kencang, Puluhan Pendaki Tertahan di Jalur Letter E Gunung Rinjani
Mataram (NTBSatu) – Puluhan pendaki tertahan dan kesulitan melanjutkan perjalanan menuju puncak (summit attack) Gunung Rinjani, NTB. Khususnya saat melintasi jalur rawan yang dikenal sebagai kawasan Letter E.
Cuaca ekstrem berupa terpaan angin kencang dan badai debu yang menerjang kawasan jalur rawan Letter E dalam beberapa hari terakhir memaksa para pendaki menghentikan langkah demi keselamatan.
Seorang warganet membagikan kondisi terkini saat berada di Letter E pada 7 Agustus 2026. Ia mengabarkan cuaca buruk memaksa sebagian pendaki mengurungkan niat menuju puncak.
”Letter E tanggal 07 agustus sedang di terpa badai, harap para pendaki berhati hati. Karena cuaca buruk banyak pendaki yg tidak bisa sampai summit. Turun juga tidak brani jalan” tulisnya, mengutip akun Instagram @yot_rinjani pada Sabtu, 8 Agustus 2026.
Situasi dan Kondisi di Jalur Letter E
Dalam rekaman video yang beredar di media sosial, terpaan angin di kawasan Letter E tampak sangat kuat hingga menerbangkan material pasir dan kerikil halus di sepanjang jalur pendakian. Medan pasir yang terjal dan licin memperparah keadaan, sehingga jarak pandang para pendaki sangat terbatas.
Suasana di lokasi memperlihatkan ketegangan para pendaki yang berusaha menjaga keseimbangan tubuh di tengah tiupan angin kencang. Sebagian pendaki memilih berhenti, menunduk, hingga duduk merapat ke permukaan tanah untuk menahan terpaan badai.
Beberapa di antaranya berpegangan pada tiang atau sesama pendaki agar tidak merosot ke bawah. Para pendaki mengenakan jaket tebal, masker, dan kacamata pelindung untuk mengantisipasi pasir yang beterbangan.
Penjelasan BMKG Soal Angin Kencang
Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Sub Bagian Tata Usaha (KSBTU) Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Astekita Ardiaristo, mengatakan para pendaki masih berstatus aman. Ia juga mengimbau sebelum mendaki harus memastikan informasi yang tersedia.
“Selalu kami sampaikan terkait cuaca di Rinjani. Dan untuk pendaki, insya Allah aman,” ujarnya kepada NTBSatu pada Sabtu, 8 Agustus 2026.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi (Stamet) Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) mengonfirmasi wilayah NTB saat ini memang berada dalam kondisi waspada terhadap potensi peningkatan kecepatan angin.
Prakirawan BMKG, Juliani Intan Sari menjelaskan, aktifnya angin monsun Australia merupakan salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan kecepatan angin di NTB selama bulan Agustus. Selain monsun, faktor topografi kawasan pegunungan seperti Gunung Rinjani turut memperkuat intensitas terpaan angin di ketinggian.
”Pada kondisi dataran rendah, gesekan di permukaan dapat memperlambat angin. Sementara di kawasan dataran tinggi seperti Rinjani dan jalur pendakiannya, penghalang lebih sedikit sehingga pengaruh gesekannya lebih kecil. Hal ini menyebabkan kecepatan angin di ketinggian bisa lebih besar,” katanya kepada NTBSatu pada Sabtu, 8 Agustus 2026.
Juliani menambahkan, bentuk topografi Rinjani yang ekstrem memaksa aliran angin naik dan membelok mengikuti kontur pegunungan. Proses dinamika atmosfer ini memicu percepatan aliran angin (funneling effect) pada titik-titik tertentu di sepanjang jalur pendakian.
Ia mengimbau para pendaki dan pemandu wisata untuk terus memantau pembaruan cuaca berkala sebelum melintas di area terbuka pegunungan guna mengantisipasi risiko bahaya akibat cuaca ekstrem. (*)




