Cegah Modal Mangkrak, Peternak KSB Mulai Skema Agribisnis Bergulir
Sumbawa Barat (BTBSatu) — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa Barat melalui Dinas Pertanian setempat terus mengoptimalkan sektor peternakan lokal. Langkah ini menjadi jurus ampuh untuk memangkas risiko dana usaha yang mengendap tanpa hasil.
Oleh karena itu, Dinas Pertanian meluncurkan skema agribisnis bergulir bagi para peternak di seluruh wilayah penerima manfaat. Program ini bertujuan mengubah pola bantuan lama agar dana publik terus memberi dampak ekonomi berkelanjutan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa Barat, Jamilatun, S.Pt., M.M.Inov., menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mengawal keberlanjutan modal usaha peternak tersebut.
“Kami ingin modal usaha ini terus berputar dan memberi manfaat bagi kelompok peternak lain,” ujar Jamilatun, Kamis, 6 Agustus 2026.
Melalui pola baru ini, kelompok penerima diwajibkan mengembalikan nilai modal awal setelah menyelesaikan satu siklus produksi. Selanjutnya, pengelola program akan menyalurkan kembali dana tersebut kepada kelompok peternak berikutnya secara bergiliran.
Standar Teknis Bobot Ternak
Selain itu, skema ini juga menetapkan standar teknis bobot ternak yang jelas, seperti sapi Bali berbobot 250–350 kg atau sapi Limosin berbobot hingga 600 kg. Sebagai gambaran, sapi silangan berbobot 600 kg diproyeksikan mampu menghasilkan karkas 312 kg dan daging murni sekitar 224,6 kg.
Namun, untuk mencapai target bobot ideal tersebut, peternak wajib memberikan pakan hijauan sebanyak 10% dari bobot sapi (40–50 kg/hari) serta konsentrat 4–8 kg per hari.
Jamilatun menjelaskan bahwa mekanisme terukur ini menjadi jawaban atas evaluasi bantuan hibah masa lalu yang kerap habis tanpa bekas.
“Peternak harus mengelola bantuan ini sebagai modal produktif, bukan sekadar hibah lepas,” kata Jamilatun.
Guna memastikan efektivitas program, Dinas Pertanian juga menerjunkan tim pendamping teknis ke setiap kelompok peternak di lapangan. Petugas tersebut bertugas mendampingi peternak dalam mengelola tata keuangan, memantau bobot harian, serta menjaga kesehatan hewan ternak secara berkala.
Dengan demikian, Jamilatun menambahkan bahwa keberhasilan program ini sangat menentukan perluasan jangkauan bantuan bagi peternak lainnya.
“Keberlanjutan modal menjadi kunci utama dalam memperkuat ketahanan pangan wilayah Sumbawa Barat,” jelas Jamilatun.
Hasilnya, masyarakat menyambut positif langkah pendampingan ini untuk membangun ekosistem peternakan yang jauh lebih profesional dan mandiri. Pasalnya, Jamilatun optimistis skema baru ini mampu memicu pertumbuhan populasi ternak secara konsisten dan terukur.
“Kami yakin model agribisnis bergulir ini menjadi pilar baru ekonomi daerah,” pungkas Jamilatun. (*)




