Savana Bale Tepaq Kembali Memesona, Hamparan Rumput di Tengah Bendungan “Sedot” Wisatawan
Lombok Tengah (NTBSatu) – Hamparan padang rumput hijau yang membentang luas di timur Bendungan Batujai kembali menjadi wisata musiman di Lombok Tengah.
Savana Bale Tepaq, menyuguhkan panorama alam yang hanya bisa dinikmati saat musim kemarau ketika permukaan air bendungan surut.
Dari kejauhan, hamparan savana tampak menyelimuti dasar bendungan yang mengering. Luas, hijau, dan cantik. Tak heran, kawasan ini dipadati pengunjung yang datang untuk bersantai, menikmati matahari terbenam, hingga berburu foto.
Salah seorang pengunjung, Nia, mengaku sengaja datang setelah melihat video Savana Bale Tepaq yang viral di TikTok. Menurutnya, pemandangan di lokasi jauh lebih indah daripada yang ia lihat di media sosial.
“Pemandangannya lebih bagus, cantik, luas, dan bagus untuk foto-foto. Saya tahu tempat ini dari TikTok,” ujarnya kepada NTBSatu, Selasa 4 Agustus 2026.
Pengunjung lainnya, Ulan, juga mengaku terkesan dengan keindahan savana yang terbentang luas. Menurutnya, suasana alam yang masih asri menjadi daya tarik tersendiri sehingga membuat wisatawan betah berlama-lama.
Minta Fasilitas Penunjang
Meski demikian, keduanya berharap fasilitas penunjang dapat ditambah. Mereka mengusulkan penyediaan toilet umum dan peningkatan keamanan agar pengunjung semakin nyaman saat menikmati wisata musiman tersebut.
”Mungkin bisa adain toilet biar ga numpang di rumah warga ya” kata Nia.
Di balik ramainya wisatawan, Savana Bale Tepaq juga membawa berkah bagi warga sekitar. Pengelola parkir, Sarup, mengatakan pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk. Warga hanya menarik biaya parkir sebesar Rp5 ribu untuk sepeda motor dan Rp10 ribu untuk mobil.
“Kalau biaya masuk tidak ada. Kita hanya menarik biaya parkir saja, motor Rp5 ribu dan mobil Rp10 ribu,” katanya.
Menurut Sarup, pendapatan parkir setiap hari tidak menentu, tetapi rata-rata berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 50 sepeda motor yang datang setiap hari.
Ia menjelaskan, Savana Bale Tepaq merupakan destinasi wisata yang hanya muncul saat musim kemarau. Ketika air Bendungan Batujai surut, hamparan rumput liar tumbuh dan membentuk bentang alam yang luas sehingga menarik perhatian masyarakat.
“Begitu air surut dan rumput tumbuh, pemandangannya jadi luas dan bagus. Akhirnya banyak pengunjung datang,” tuturnya.
Sarup menyebut kawasan wisata ini mulai buka pada pekan terakhir Juli dan biasanya hanya bertahan hingga sekitar Agustus. Lama operasional sangat bergantung pada kondisi debit air bendungan.
“Tahun lalu tidak buka karena air bendungan tidak surut, hujan terus,” jelasnya.
Ia menambahkan, nama Bale Tepaq berasal dari nama kampung setempat sebagai bentuk identitas masyarakat. Pengelolaan kawasan warga sekitar mengelola wisata ini secara swadaya.
“Sangat bermanfaat, terutama untuk lingkungan kami. Karena memakai nama kampung kami, Bale Tepaq,” katanya.
Bagi masyarakat yang ingin menikmati panorama alam yang berbeda, Savana Bale Tepaq menjadi pilihan menarik selama musim kemarau. Namun, keindahan tersebut hanya hadir dalam waktu singkat, sebelum kawasan kembali tergenang saat Bendungan Batujai dipenuhi air pada musim hujan. (*)




