Porprov 2026: Kabupaten Bima Kalah di Lapangan, Gagal di Sistem?

Hasil Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB 2026 kembali membuka ruang evaluasi besar terhadap wajah olahraga Kabupaten Bima. Dengan capaian yang belum mampu menembus papan atas klasemen, Kabupaten Bima harus menerima kenyataan bahwa potensi besar yang selama ini dibanggakan belum sepenuhnya berubah menjadi prestasi nyata.
Ironisnya, Bima bukan daerah yang miskin bakat. Dari tanah Dana Mbojo telah lahir banyak atlet yang mampu bersaing di tingkat nasional. Namun, pertanyaan besarnya adalah: mengapa daerah dengan gudang talenta besar masih kesulitan menjadi kekuatan utama olahraga NTB?
Jawabannya tidak cukup hanya menyalahkan atlet, pelatih, atau keterbatasan anggaran. Masalah yang lebih mendasar berada pada sistem pengelolaan olahraga prestasi.
Porprov seharusnya menjadi cermin. Dan cermin itu memperlihatkan bahwa olahraga Kabupaten Bima masih menghadapi persoalan klasik: pembinaan yang belum konsisten, perencanaan yang belum berbasis data, serta pengelolaan organisasi olahraga yang sering kali lebih ramai dalam dinamika kepentingan dibandingkan strategi peningkatan prestasi.
Sebagaimana pernah disoroti dalam tulisan tentang dinamika politik dan olahraga Kabupaten Bima, persoalan olahraga tidak boleh berhenti pada pergantian figur atau perebutan posisi dalam organisasi. Olahraga tidak akan maju hanya karena memiliki pengurus baru, gedung baru, atau seremoni pelepasan atlet yang meriah. Prestasi lahir dari kerja panjang yang tidak terlihat: pembinaan usia dini, kompetisi berjenjang, kualitas pelatih, penerapan sport science, dan evaluasi yang objektif.
Selama olahraga masih diperlakukan sebagai panggung pencitraan, maka prestasi hanya akan menjadi target musiman menjelang event besar.
Kita sering terjebak dalam budaya olahraga yang bersifat reaktif. Ketika Porprov mendekat, semua bergerak cepat: mencari atlet, menyiapkan kontingen, dan berharap medali datang. Tetapi setelah pertandingan selesai, evaluasi mendalam sering tidak dilakukan. Akibatnya, daerah mengulang pola yang sama pada setiap event: berharap hasil berbeda dengan cara kerja yang sama.A
Padahal olahraga modern tidak bekerja seperti itu.
Daerah-daerah yang menjadi kekuatan olahraga bukan karena mereka memiliki atlet lebih berbakat, tetapi karena mereka memiliki sistem yang mampu menemukan, membina, dan mempertahankan atlet berbakat.
Kabupaten Bima sebenarnya memiliki modal besar. Jumlah penduduk, budaya olahraga masyarakat, serta tradisi melahirkan atlet menjadi kekuatan yang tidak dimiliki semua daerah. Namun modal tersebut membutuhkan tata kelola yang profesional. Tanpa itu, potensi hanya menjadi cerita lama yang terus diwariskan.
Pergantian kepemimpinan dalam organisasi olahraga harus menjadi titik balik, bukan sekadar pergantian kursi. Pengurus baru harus berani melakukan evaluasi menyeluruh: cabang olahraga mana yang benar-benar memiliki program pembinaan, bagaimana distribusi anggaran dilakukan, bagaimana indikator prestasi ditetapkan, dan siapa yang bertanggung jawab terhadap capaian setiap cabang olahraga.
Sudah saatnya olahraga Kabupaten Bima meninggalkan pola lama: besar dalam wacana, kecil dalam perencanaan.
Prestasi tidak lahir dari pidato, tetapi dari program yang terukur. Tidak lahir dari kedekatan politik, tetapi dari profesionalisme. Tidak lahir dari banyaknya pengurus, tetapi dari kuatnya sistem.
Porprov 2026 bukan sekadar tentang posisi Kabupaten Bima di klasemen. Lebih jauh, ini adalah alarm bahwa ada pekerjaan besar yang harus dilakukan. Jika tidak ada perubahan mendasar, maka Bima hanya akan terus menjadi daerah yang kaya talenta tetapi miskin prestasi.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi “mengapa atlet Bima kalah?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apakah sistem olahraga Kabupaten Bima sudah benar-benar dibangun untuk menang?”
Karena pada akhirnya, atlet adalah hasil dari sistem. Jika sistemnya kuat, prestasi akan datang. Tetapi jika sistemnya lemah, bakat terbaik sekalipun akan berjalan tanpa arah. (*)




