Ekonomi BisnisLombok Timur

Harga Sayur Sembalun Tak Semurah Dugaan, Ini Penjelasan Petani

Lombok Timur (NTBSatu) – Banyak wisatawan kerap mengernyitkan dahi saat melihat harga sayur atau stroberi di Sembalun. Daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung hortikultura di Lombok Timur itu, justru menawarkan harga yang nyaris sama, bahkan terkadang lebih tinggi dibanding pasar di bawah.

Royal, petani sayur di Sembalun, menilai anggapan tersebut muncul karena banyak orang hanya melihat harga di lapak pinggir jalan. Padahal, harga di tingkat petani tetap lebih rendah dibanding harga di pasar.

Menurutnya, selisih harga sayur di tingkat petani dengan pasar berkisar Rp2.000 hingga Rp4.000 per kilogram. Komoditas seperti cabai, tomat, kubis, hingga berbagai jenis sayuran lainnya tetap dijual lebih murah langsung dari petani.

IKLAN

“Kalau beli di petani pasti lebih murah. Yang sering orang lihat itu harga di lapak pinggir jalan,” ujarnya, kepada NTBSatu.

Royal menjelaskan, lapak wisata menerapkan harga berbeda, karena menyasar wisatawan yang datang langsung ke Sembalun. Banyak pengunjung memilih membeli hasil pertanian sebagai oleh-oleh, tanpa membandingkan harga dengan daerah lain.

Ia melihat kondisi tersebut sebagai bagian dari mekanisme pasar. Selama pembeli bersedia membayar, pedagang akan terus mempertahankan harga tersebut.

“Kalau ada yang beli, ya mereka tetap jual. Itu hukum bisnis,” katanya.

Menurut Royal, sektor pariwisata menjadi faktor terbesar yang membentuk harga di kawasan wisata. Wisatawan yang datang dari berbagai daerah rela mengeluarkan uang lebih demi membawa pulang produk khas Sembalun.

Di Balik Harga Stroberi

Fenomena itu juga terlihat pada buah stroberi. Meski kebun stroberi tersebar di banyak titik, harga buah tersebut justru lebih tinggi di Sembalun dibanding beberapa pasar di Mataram.

“Orang datang jauh-jauh ke Sembalun memang ingin membawa oleh-oleh dari sini. Itu yang membuat harganya berbeda,” jelasnya.

Selain permintaan wisatawan, Royal menyebut, pedagang juga menanggung risiko kerusakan produk.

Sayuran dan buah memiliki masa simpan yang pendek. Ketika sepi pengunjung, barang dagangan mudah rusak dan akhirnya terbuang.

Karena itu, pedagang memasukkan potensi kerugian tersebut ke dalam harga jual.

Royal juga menepis anggapan bahwa, harga mahal berasal dari tingginya biaya produksi petani. Menurutnya, harga di lahan tetap mengikuti kondisi panen.

Kenaikan harga justru terjadi setelah produk masuk ke lapak-lapak yang melayani wisatawan.

Meski demikian, ia menilai, wisatawan sebenarnya tetap memiliki pilihan. Mereka bisa membeli langsung kepada petani dengan harga yang lebih rendah.

Hanya saja, sebagian besar petani tidak membuka penjualan eceran di sawah karena mereka memanen dalam jumlah besar dan langsung memasok hasil panen kepada pengepul atau pedagang.

“Bukan berarti petani tidak mau menjual langsung. Kami memang tidak standby menunggu pembeli di sawah,” katanya.

Bagi Royal, harga di kawasan wisata akan terus bertahan selama permintaan tetap ada. Selama wisatawan terus berdatangan dan membeli hasil pertanian Sembalun, mekanisme pasar akan berjalan dengan sendirinya. (*)

Artikel Terkait