Bule Kritik Sampah di Bukit Pergasingan, Pengelola Tutup Pendakian Sementara
Mataram (NTBSatu) – Seorang wisatawan asing mengkritik tajam keadaan tumpukan sampah yang berserakan di Bukit Pergasingan, Sembalun, Lombok Timur, NTB. Bule tersebut menyampaikan kritik tersebut pada Selasa, 29 Juli 2026.
Wisatawan perempuan tersebut meluapkan rasa kecewanya saat menyaksikan langsung kondisi kelestarian alam yang tercemar oleh limbah plastik dan sisa perbekalan pendaki di sepanjang jalur hingga puncak bukit.
”Gua enggak tahu lagi mau bilang apa. Gua benar-benar sedih dan malu melihat gunung secantik dan setinggi itu kotor oleh sampah. Kita hancurin apa yang alam kasih,” ujarnya, mengutip akun Instagram @lucy_lari_lari pada Rabu, 30 Juli 2026.
Keluhan Wisatawan Asing Terkait Tumpukan Sampah
Dalam rekaman video tersebut, wisatawan tersebut meluapkan rasa kecewanya saat menyaksikan langsung kondisi kelestarian alam di Bukit Pergasingan. Ia mengaku sangat prihatin melihat pemandangan indah di sepanjang jalur pendakian hingga kawasan puncak.
Pemandangan tersebut harus tercemar oleh limbah plastik dan sampah sisa kegiatan berkemah. Wisatawan tersebut mengimbau seluruh pengunjung untuk membangun kesadaran bersama dalam menjaga kebersihan alam.
Menurutnya, perilaku merusak dan mengotori kawasan wisata alam menunjukkan kurangnya rasa tanggung jawab dari para pengunjung. Sorotan jujur wisatawan asing ini pun mendadak viral di media sosial dan memicu gelombang desakan dari masyarakat agar segera menata kelola kebersihan.
Tanggapan Pengelola Bukit Pergasingan
Menanggapi kritik keras dari wisatawan asing tersebut, pengelola kawasan wisata Bukit Pergasingan membenarkan bahwa penumpukan sampah di area puncak memang menjadi persoalan mendesak. Pihak pengelola memutuskan untuk menghentikan sementara operasional pendakian.
Pengelola Bukit Pergasingan, Royal, mengungkapkan saat ini pihaknya akan fokus melakukan pembersihan total dan merombak sistem pengelolaan kawasan.
”Kami mengambil inisiatif untuk menutup sementara Bukit Pergasingan guna menata manajemennya lebih baik. Terutama terkait pengelolaan sampah,” ujarnya kepada NTBSatu pada Rabu, 30 Juli 2026.
Royal menyayangkan perilaku sebagian pendaki yang datang hanya demi kebutuhan konten media sosial tanpa perbekalan etika dasar pecinta alam. Kebiasaan pengunjung yang enggan membawa pulang kembali sisa perbekalan mereka merupakan penyebab utama penumpukan limbah di area perkemahan.
Sebagai langkah evaluasi ke depan, Royal akan menerapkan aturan yang jauh lebih ketat bagi seluruh pendaki. Pengelola berencana mengadopsi sistem zero waste melalui prosedur repacking atau pemeriksaan barang bawaan di pintu masuk.
Pelaksanaan aturan ini nantinya akan berlangsung sebagaimana standar pengelolaan sampah yang sudah Taman Nasional Gunung Rinjani terapkan. (*)




