Peringati HAN 2026, Gubernur Iqbal Ajak Orang Tua Hadir untuk Anak
Mataram (NTBSatu) – Keceriaan ratusan anak memenuhi Pendopo Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga sepanjang ruas jalan di depannya pada Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Tingkat Provinsi NTB Tahun 2026, Minggu, 26 Juli 2026.
Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, bersama Bunda PAUD Provinsi NTB, Sinta Agathia, hadir menyapa anak-anak dalam peringatan tersebut. Hadir juga unsur Forkopimda, para kepala perangkat daerah, organisasi nonpemerintah (NGO) yang bergerak di bidang perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan, serta berbagai tamu undangan.
Di tengah suasana penuh kegembiraan itu, Gubernur menegaskan satu pesan yang menjadi ruh peringatan Hari Anak Nasional tahun ini: setiap anak berhak tumbuh dalam kasih sayang orang tua. Pasalnya, kasih sayang adalah fondasi utama lahirnya generasi yang sehat, tangguh, dan bahagia. Termasuk bagi anak-anak yang orang tuanya bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Bagi Iqbal, Hari Anak Nasional bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum mengingatkan semua pihak bahwa anak-anak tidak hanya membutuhkan pendidikan, kesehatan, dan perlindungan. Namun juga kehadiran orang tua yang menghadirkan rasa aman, dicintai, dan didengar.
“Tugas kita bersama memastikan anak-anak kita tumbuh ceria. Kita penuhi seluruh kebutuhannya, dan kebutuhan yang paling penting adalah kasih sayang. Karena itu, pesan saya kepada seluruh orang tua, hadirlah untuk anak-anak kita,” ujar Gubernur.
Sebagai wujud nyata pesan tersebut, Iqbal tidak hanya menyampaikannya dari atas panggung. Di hadapan ratusan anak, ia mengajak mereka menyaksikan dialog langsung melalui sambungan Zoom dengan sejumlah orang tua asal NTB. Di mana mereka tengah bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia.
Suasana seketika berubah haru ketika para orang tua menyapa anak-anak mereka dari negeri seberang. Iqbal memanfaatkan momentum itu untuk mengingatkan bahwa keberhasilan mencari nafkah tidak boleh mengurangi perhatian dan kasih sayang kepada keluarga.
“Peran ayah dan ibu tidak pernah tergantikan oleh jarak. Gunakan waktu senggang atau di luar jam kerja untuk menghubungi anak-anak. Sapaan yang sederhana, perhatian yang tulus, dan komunikasi yang rutin akan membangun kehangatan, kedekatan, semangat. Sekaligus kebanggaan anak kepada orang tuanya,” pesan Iqbal kepada para PMI.
Pentingnya Komunikasi
Menurutnya, komunikasi yang terjaga akan membuat anak tetap merasa dicintai, dihargai, dan memiliki tempat untuk berbagi cerita. Meskipun orang tua berada ribuan kilometer jauhnya.
Ia mengakui, salah satu tantangan sosial NTB saat ini adalah tingginya jumlah masyarakat yang bekerja sebagai PMI. Kondisi tersebut menyebabkan tidak sedikit anak tumbuh tanpa pendampingan langsung dari ayah atau ibunya. Sehingga berpotensi menghadapi persoalan psikologis maupun sosial apabila tidak ada perhatian yang memadai.
“Kita tidak ingin melahirkan generasi yang menyimpan kegelisahan yang tidak terselesaikan hingga menjadi persoalan sosial di masa depan,” tegasnya.
Menyadari besarnya tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi NTB tengah mengembangkan Sekolah Rakyat di Kabupaten Lombok Timur. Sekolah tersebu telah memperoleh persetujuan Menteri Sosial dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Program ini menjadi ruang pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan bagi anak-anak pekerja migran secara gratis di bawah tanggung jawab negara.
Namun demikian, Gubernur Iqbal menegaskan bahwa kehadiran negara tidak akan pernah menggantikan peran keluarga.
“Bayarnya bukan dengan uang, tetapi dengan komitmen melakukan video call kepada anak sekurang-kurangnya satu kali dalam seminggu. Dengan begitu komunikasi tetap terjalin dan anak-anak tetap merasakan perhatian serta kasih sayang orang tuanya,” jelasnya.
Selain memperkuat peran keluarga, Pemerintah Provinsi NTB juga terus membangun lingkungan yang aman bagi anak melalui kolaborasi bersama Forkopimda, Kantor Wilayah Kementerian Agama, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, media, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Ajak Anak-anak Hormati Orang Tua
Menurut Gubernur, pemerintah mungkin tidak selalu mampu menghadirkan orang tua secara fisik di sisi anak, tetapi negara memiliki kewajiban memastikan setiap ruang tempat anak belajar, bermain, dan bertumbuh menjadi lingkungan yang aman, ramah anak, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
“Kita akan memastikan tempat-tempat di mana anak-anak berada menjadi tempat yang aman. Proses ini membutuhkan kerja bersama dan dukungan seluruh pihak, termasuk media,” katanya.
Suasana Hari Anak Nasional semakin hangat ketika Gubernur Iqbal turun dari panggung dan duduk bersama ratusan anak untuk mendongeng. Tawa riang beberapa kali pecah ketika tokoh-tokoh dalam cerita diperankan dengan penuh ekspresi.
Di balik kisah sederhana itu, Gubernur menyisipkan pesan-pesan penting tentang kehidupan. Ia mengajak anak-anak untuk selalu menghormati dan mendengarkan nasihat orang tua sebagai bentuk bakti kepada keluarga. Ia juga mengingatkan agar anak-anak tidak mudah mempercayai atau mengikuti ajakan orang yang tidak dikenal. Hal ini sebagai salah satu cara melindungi diri dari kekerasan seksual maupun berbagai bentuk kejahatan terhadap anak.
Menurutnya, pendidikan karakter tidak selalu lahir dari ruang kelas. Menyampaikan cerita sederhana dengan kasih sayang pun mampu menanamkan nilai-nilai kehidupan yang akan melekat dalam ingatan anak hingga mereka dewasa.
Bukan Hanya Seremonial
Sementara itu, Bunda PAUD Provinsi NTB, Sinta Agathia, mengatakan Hari Anak Nasional bukan sekadar peringatan seremonial. Namun menjadi ruang bagi anak-anak untuk bertemu, belajar, berbagi pengalaman, dan membangun rasa percaya diri melalui interaksi dengan teman-teman dari berbagai daerah di NTB.
“Anak-anak memperoleh banyak pengetahuan ketika bertemu dengan teman-temannya. Mereka saling berbagi cerita, saling mengenal, dan belajar satu sama lain. Itulah kebahagiaan yang ingin kita hadirkan melalui Hari Anak Nasional,” ujarnya.
Mengakhiri peringatan Hari Anak Nasional 2026, Gubernur Iqbal mengajak seluruh masyarakat menjadikan keluarga sebagai tempat pertama menanamkan kasih sayang, akhlak, dan karakter kepada anak-anak.
Menurutnya, sekolah dapat mengajarkan ilmu pengetahuan dan negara dapat menghadirkan berbagai program perlindungan. Namun kehangatan keluarga tetap menjadi fondasi utama yang membentuk kepribadian seorang anak.
“Membangun jalan, sekolah, dan infrastruktur adalah investasi pembangunan. Namun membangun anak-anak yang tumbuh dalam kasih sayang adalah investasi peradaban,” tegasnya.
Sebab, masa depan NTB dan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa megah infrastruktur yang hari ini, tetapi oleh seberapa utuh kasih sayang yang diterima setiap anak sejak mereka tumbuh di dalam keluarga. Dari keluarga yang hangat akan lahir generasi NTB yang sehat, berkarakter, berdaya saing, dan siap mewujudkan Indonesia Emas 2045. (*)




