TPST Kebon Talo Rp97 Miliar Mulai Dibangun Juni 2026
Mataram (NTBSatu) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram memastikan, kelanjutan pembangunan fisik fasilitas pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) TPST Kebon Talo di Kelurahan Ampenan.
Proyek strategis yang mendapat dukungan pusat senilai Rp97 miliar, akan menjadi solusi permanen untuk mengatasi krisis sampah Ibu Kota Provinsi NTB.
Kepala DLH Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi mengungkapkan, seluruh proses administrasi dan lelang proyek tersebut tuntas pada akhir Mei ini.
“Informasinya, sekarang sedang proses tender. Selesai tender itu sekitar 29 Mei. Kemudian pembangunannya itu akan mulai pada tanggal 9 Juni 2026,” ujar Denny, Selasa, 12 Mei 2026.
Teknologi Dry Jet dan Nilai Ekonomis Sampah
Fasilitas yang mendapatkan dana Pemerintah Pusat tersebut akan menerapkan teknologi Dry Jet. Sistem ini memungkinkan sampah rumah tangga diproses melalui pengeringan dan pemanasan hingga menjadi bahan bakar alternatif layak jual.
“Sampah yang ada di sana itu melalui proses pengeringan, sehingga sampah itu bisa menjadi RDF dan kita jual ke PLN Jeranjang,” jelasnya.
Denny menilai, kerja sama dengan PLN Jeranjang menjadi nilai tambah bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram. Sampah tidak lagi menjadi beban biaya angkut, namun berubah menjadi komoditas energi yang memiliki nilai ekonomi.
Pangkas Pembuangan ke TPA Kebon Kongok
Jika digabungkan dengan fasilitas lain seperti TPST Sandubaya dan program pengolahan sampah organik di tingkat lingkungan, volume sampah yang dibuang ke TPA Kebon Kongok akan berkurang drastis.
“Kalau kita konversi, 60 sampai 70 ton di Kebon Talo, kemudian di TPST Sandubaya 45 ton, berarti sudah 105-an. Kemudian di TPST Sandubaya insinerator itu bisa 20 ton karena kita punya dua. Ditambah lagi pembangunan di setiap lingkungan Tempah Dedoro itu bisa mengurangi minimal 10 ton sampah organik,” papar Denny.
Ia pun merinci, total pengolahan mandiri di dalam kota bisa mencapai 150 ton per hari dari total produksi sampah harian Mataram. “Berarti itu sudah 150-an (ton). Berarti yang sisanya itu sekitar 100 (ton), itu yang masih kita buang ke Kebon Kongok,” tutup Denny. (*)




