Gubernur Iqbal Tutup Training ESQ di Unizar, Tekankan Penguatan Karakter dan Kesejahteraan Guru
Mataram (NTBSatu) – Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal menutup Training ESQ Peduli Pendidikan bertemakan “Untukmu Guru” di kampus Universitas Islam Al-Azhar (Unizar) Mataram, pada Kamis, 7 Mei 2026.
Sekitar 220 guru dari berbagai jenjang pendidikan di seluruh Provinsi NTB mengikuti kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 6-7 Mei 2026 itu.
Dalam sambutannya, Gubernur Iqbal menegaskan, pentingnya penguatan karakter guru di tengah tantangan era disrupsi digital yang menurutnya telah mengikis identitas dan jati diri generasi muda. Ia menilai, keseragaman perilaku akibat media sosial membuat karakter lokal semakin tergerus.
“Sekarang ini karena tontonannya sama di medsos (media sosial), akhirnya perilakunya jadi sama. Kita kehilangan karakter,” ujarnya.
Gubernur Iqbal juga menekankan peran guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembentuk karakter dan teladan bagi siswa. “Jadilah guru yang layak dicium tangannya oleh murid-muridnya,” katanya.
Gaji Guru PPPK Paruh Waktu di NTB
Dalam kesempatan itu, Gubernur Iqbal menyinggung persoalan kesejahteraan guru PPPK Paruh Waktu di NTB. Ia secara terbuka mengakui, kesalahan kebijakan atau policy error yang menyebabkan penurunan penghasilan signifikan.
Ia menjelaskan, sebelumnya ada guru yang menerima sekitar Rp2,5 juta sesuai UMP. Namun kemudian, turun drastis menjadi Rp40 ribu hingga Rp80 ribu per bulan.
“Saya sadar ada policy error. Ada teman-teman guru PPPK Paruh Waktu yang tadinya penghasilannya Rp2,5 juta sesuai UMP, tiba-tiba hanya menerima Rp40 ribu per bulan,” ujarnya.
Gubernur Iqbal memastikan, pemerintah provinsi menyiapkan langkah perbaikan. Mulai September 2026, guru PPPK Paruh Waktu akan menerima penghasilan minimum Rp500 ribu per bulan di luar Jumlah Jam Mengajar (JJM).
Ia menyebut kebijakan itu menjadi langkah awal di tengah keterbatasan fiskal daerah, sekaligus akan dievaluasi untuk peningkatan bertahap ke depan. “Mudah-mudahan kita lihat fiskal di tahun yang akan datang, nanti kita bisa naikkan setahap demi setahap,” katanya.
Gubernur Iqbal juga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada para guru atas kondisi tersebut. “Saya mohon maaf, dengan kebijakan kami yang membuat bapak atau ibu akhirnya harus berada dalam situasi seperti itu,” katanya.
Ia turut menyoroti persoalan mendasar pendidikan di NTB, termasuk kesenjangan kualitas sekolah antara wilayah perkotaan dan daerah pelosok. Ia menyebut ketimpangan itu membuat sistem zonasi tidak lagi efektif.
Sebab, banyak orang tua tetap berupaya memasukkan anaknya ke sekolah favorit di kota. “Setiap penerimaan siswa baru, saya bisa menerima puluhan WhatsApp minta tolong masuk ke SMA tertentu,” ungkapnya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Pemprov NTB tengah mengkaji program Golden Ticket dan Silver Ticket. Yakni, skema penempatan guru dan kepala sekolah berprestasi ke wilayah pelosok dengan insentif khusus.
Gubernur Iqbal berharap, kebijakan itu dapat mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan antara kota dan daerah terpencil dalam beberapa tahun ke depan.
Tiga Kecerdasan Pendidikan Karakter
Sementara itu, Founder ESQ Leadership Center, Ary Ginanjar Agustian dalam sambutannya melalui Zoom Meeting menegaskan, pentingnya pendidikan karakter melalui tiga kecerdasan, yakni intelektual, emosional, dan spiritual. Ia menyebut, NTB sebagai daerah dengan kekuatan spiritual yang kuat dan dikenal sebagai “Pulau Seribu Masjid”.
Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya mengisi otak, tetapi juga harus menyentuh hati dan membentuk kesadaran diri peserta didik. “Pendidikan intelektual itu hanya mengisi otak, tapi tidak mengisi hati,” ujarnya.
Ary juga menekankan pentingnya peran guru dalam membantu siswa memahami jati diri, arah hidup, dan tujuan masa depan di tengah perubahan zaman yang cepat. Ia berharap, kegiatan Training ESQ Peduli Pendidikan menjadi ruang penguatan karakter dan refleksi bagi para guru di NTB, sekaligus mendorong kolaborasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah. (*)




