Pemerintahan

Pemprov NTB Siapkan Konsep MBG Jadi Captive Market Pangan Lokal untuk Dongkrak Ekonomi Daerah

Mataram (NTBSatu) – Menindaklanjuti arahan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, Pemerintah Provinsi NTB melalui Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda NTB tengah menyiapkan sebuah konsep implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tujuannya, agar salah satu program prioritas Presiden Prabowo ini, tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas gizi peserta didik. Namun juga menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi daerah melalui penguatan pangan lokal.

Konsep tersebut disusun sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan manfaat Program MBG. Sehingga, setiap belanja pemerintah tidak hanya menghasilkan generasi yang sehat dan cerdas, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang dinikmati oleh petani, nelayan, peternak, koperasi, BUMDes, UMKM, hingga pelaku usaha lokal di NTB.

IKLAN

Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTB, Izzuddin mengatakan, konsep tersebut disiapkan sesuai arahan Gubernur NTB. Tujuannya, agar program nasional dapat memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat daerah.

“Sesuai arahan Bapak Gubernur, kami diminta menyiapkan sebuah konsep agar Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berhasil dari sisi pemenuhan gizi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang luas bagi masyarakat NTB. Karena itu, kami sedang menyusun desain MBG sebagai captive market pangan lokal NTB,” ujar Izzuddin di Mataram.

Menurutnya, selama ini tantangan terbesar pembangunan sektor pangan bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi memastikan hasil produksi masyarakat memiliki pasar yang berkelanjutan.

IKLAN

“Petani kita mampu menghasilkan beras, sayuran, buah-buahan. Peternak menghasilkan telur dan daging. Nelayan menyediakan ikan segar. Persoalannya sering kali bukan produksi, melainkan kepastian pasar. Melalui MBG, kita melihat peluang untuk menghadirkan pasar yang stabil dan berkelanjutan bagi produk pangan lokal,” katanya.

Rumus Sederhana Pertumbuhan Ekonomi NTB

Sebagai dasar penyusunan konsep tersebut, Biro Perekonomian merumuskan sebuah pendekatan ekonomi yang sederhana dan mudah dipahami.

Pertumbuhan Ekonomi NTB = Produksi Pangan Lokal × Konsumsi melalui MBG × Investasi × Perputaran Uang Lokal.

Izzuddin menjelaskan, rumus tersebut bukan merupakan persamaan matematis, melainkan kerangka berpikir pembangunan ekonomi daerah.

Di mana produksi harus meningkat. Produksi harus memiliki pasar yang pasti. Kepastian pasar akan mendorong investasi.

Selanjutnya, uang hasil transaksi diupayakan tetap berputar di NTB sehingga menciptakan efek berganda bagi perekonomian.

“Kalau beras dibeli dari petani NTB, telur dari peternak NTB, ikan dari nelayan NTB, sayuran dari petani NTB, kemudian semuanya dimasak di dapur MBG, maka uang itu tidak langsung keluar dari daerah. Uang tersebut akan terus berputar menjadi pendapatan masyarakat. Inilah yang menjadi inti konsep yang sedang kami siapkan,” jelasnya.

Menurutnya, apabila rantai pasok tersebut dapat dibangun secara terintegrasi, maka Program MBG tidak hanya menjadi program peningkatan gizi, tetapi juga menjadi instrumen pembangunan ekonomi daerah.

Tahun 2026 Disiapkan Peta Kebutuhan Pangan Dapur MBG

Izzuddin menjelaskan, sesuai arahan Gubernur NTB, konsep tersebut dirancang dan dilaksanakan secara bertahap.

Pada tahun 2026, fokus diarahkan pada penyusunan peta kebutuhan pangan dapur MBG NTB oleh seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) teknis sesuai kewenangannya.

Peta tersebut akan menjadi dasar dalam menghitung kebutuhan setiap komoditas pangan untuk seluruh dapur MBG. Mulai dari beras, telur, ayam, ikan, daging sapi, susu, sayuran, buah-buahan, hingga komoditas pangan lainnya.

Selain itu, peta tersebut juga akan memuat sentra produksi pangan di setiap kabupaten dan kota, kalender tanam dan panen, kemampuan produksi daerah, kebutuhan investasi, pengembangan industri pengolahan pangan, serta sistem distribusi yang efisien.

“Kita ingin seluruh kebijakan berbasis data. Karena itu, yang pertama harus disiapkan adalah peta kebutuhan pangan. Dari situ kita mengetahui kebutuhan setiap dapur MBG dan kemampuan produksi masing-masing daerah. Dengan demikian, sejak awal kita dapat menyusun strategi agar kebutuhan tersebut dipenuhi semaksimal mungkin oleh produksi masyarakat NTB,” ujarnya.

Menurutnya, penyusunan peta tersebut akan melibatkan perangkat daerah yang membidangi pertanian, peternakan, kelautan dan perikanan, ketahanan pangan, perindustrian, perdagangan, koperasi dan UMKM serta OPD teknis lainnya.

Tahun 2027 Mulai Implementasi Bertahap

Setelah seluruh data dan desain selesai disusun, konsep tersebut diharapkan dapat mulai diimplementasikan secara bertahap pada tahun 2027.

Melalui konsep tersebut, dapur-dapur MBG diharapkan menjadi captive market bagi komoditas pangan lokal yang memenuhi standar mutu, keamanan pangan, harga yang kompetitif, dan kontinuitas pasokan.

Menurut Izzuddin, apabila konsep tersebut berjalan, maka petani akan memperoleh kepastian pasar, peternak meningkatkan produksi, nelayan memperoleh pembeli tetap, koperasi dan BUMDes menjadi penghubung antara produsen dan dapur MBG, UMKM berkembang, sementara industri pengolahan pangan memperoleh permintaan yang berkelanjutan.

“Yang ingin kami bangun sebenarnya bukan hanya dapur MBG. Yang ingin dibangun adalah sebuah ekosistem ekonomi. Dapur MBG menjadi simpul yang menghubungkan petani, nelayan, peternak, koperasi, UMKM, industri pengolahan, dunia usaha, dan masyarakat penerima manfaat. Semua bergerak dalam satu rantai ekonomi yang saling menguatkan,” katanya.

Ia menambahkan, konsep tersebut juga diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan daerah, meningkatkan nilai tambah produk lokal, membuka lapangan kerja baru, memperbesar investasi sektor pangan, sekaligus meningkatkan perputaran uang di NTB.

Harapan Gubernur NTB

Izzuddin mengatakan, konsep tersebut merupakan ikhtiar untuk menerjemahkan arahan Gubernur NTB agar Program Makan Bergizi Gratis memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Harapan Bapak Gubernur sederhana. Beliau ingin anak-anak NTB mendapatkan makanan bergizi setiap hari. Di saat yang sama, beliau juga berharap petani memiliki pasar yang pasti, nelayan semakin sejahtera, peternak semakin berkembang, UMKM semakin maju, dan uang yang dibelanjakan pemerintah sebanyak mungkin berputar di NTB. Jika konsep ini nantinya dapat diwujudkan, maka MBG tidak hanya membangun generasi yang sehat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi rakyat dan memperkuat terwujudnya NTB Makmur Mendunia,” tutup Izzuddin. (*)

Muhammad Yamin

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait