Lombok TengahPendidikan

Yayasan Buka Suara soal Dugaan Tabungan Siswa Mengendap: Hanya Tersisa Rp200 Juta

Lombok Timur (NTBSatu) – Pengurus Yayasan As-Saggaf NW Bengkaung, Makrif, memberikan klarifikasi terkait polemik tabungan siswa yang belum seluruhnya dibagikan kepada wali murid. Ia menegaskan, dana yang belum disalurkan bukan mencapai Rp425 juta seperti yang beredar, melainkan sekitar Rp200 juta lebih dan hanya menyangkut siswa SD kelas 1 hingga kelas 5.

Makrif menyebut, total tabungan siswa SD dan SMP mencapai sekitar Rp425 juta. Dari jumlah tersebut, yayasan telah mengembalikan sebagian besar dana, termasuk melunasi seluruh tabungan siswa SMP kelas 1 hingga kelas 3 serta siswa kelas 6 SD.

“Yang belum dibagikan itu sekitar Rp200 juta lebih sedikit. Itu pun hanya untuk siswa SD kelas 1 sampai kelas 5. Kalau SMP sudah lunas semua, begitu juga kelas 6 SD,” ujarnya, Rabu, 1 Juni 2026.

IKLAN

Ia menjelaskan, persoalan tersebut bermula ketika yayasan mengetahui dana tabungan tidak lagi utuh sekitar sepekan sebelum jadwal pembagian.

Selama ini, kata dia, yayasan mempercayakan seorang oknum guru untuk menyetorkan uang tabungan siswa ke koperasi. Namun belakangan diketahui dana yang tersedia jauh lebih sedikit dari total tabungan yang seharusnya ada.

“Kami baru mengetahui sekitar satu minggu sebelum pembagian tabungan bahwa uang itu ternyata tidak ada sesuai jumlah seharusnya. Selama kurang lebih 15 tahun pengelolaan tabungan, tidak pernah ada persoalan seperti ini sehingga kami tidak pernah menaruh curiga,” katanya.

IKLAN

Tawarkan Pencairan Awal 40 Persen

Akibat keterbatasan dana yang tersedia, yayasan kemudian menawarkan pencairan tahap awal sebesar 40 persen kepada seluruh wali murid.

Yayasan memilih skema tersebut agar seluruh siswa tetap menerima sebagian hak mereka sambil menunggu penyelesaian sisa dana.

“Solusi terbaik menurut kami saat itu adalah membagi rata sebesar 40 persen kepada semua siswa. Jadi siapa pun tetap menerima sebagian tabungannya karena mungkin ada yang membutuhkan untuk membeli perlengkapan sekolah,” jelasnya.

Makrif mengatakan, sebagian besar wali murid telah menerima pembayaran 40 persen tersebut. Namun, sejumlah wali murid memilih menunggu hingga yayasan membayarkan tabungan mereka secara penuh.

Ia menegaskan, yayasan tetap bertanggung jawab mengembalikan seluruh dana tabungan siswa.

Makrif menyebut, keluarga oknum guru itu siap bertanggung jawab dengan mengembalikan seluruh dana tabungan siswa secara utuh tanpa ada pengurangan sedikit pun.

Namun hingga kini belum ada kepastian mengenai waktu penyelesaian seluruh sisa dana.

“Yayasan memastikan satu rupiah pun hak siswa tidak akan hilang. Keluarga yang bersangkutan sudah menyatakan siap bertanggung jawab, bahkan ada yang menawarkan aset untuk dijual. Hanya saja kami belum bisa memastikan kapan seluruhnya selesai,” ujarnya.

Tidak Ada Intimidasi

Makrif juga membantah adanya intimidasi terhadap wali murid saat proses mediasi berlangsung. Menurut dia, pihak yayasan meminta wali murid tidak langsung menyebarluaskan persoalan tersebut guna menghindari kesalahpahaman di tengah masyarakat. Kepala dusun hadir sebagai penengah dalam mediasi.

Makrif menyatakan yayasan sudah merencanakan pemberian sanksi terhadap oknum guru tersebut. Namun, untuk saat ini yayasan masih memprioritaskan penyelesaian hak para wali murid.

“Fokus kami saat ini adalah menyelesaikan tanggung jawab kepada wali murid terlebih dahulu. Setelah itu baru kami mengambil langkah terhadap oknum yang bersangkutan,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait