AdvertorialPendidikan

FEB UB Perkuat Kepemimpinan dan Pelayanan Prima di Hotel KEK Mandalika

Mataram (NTBSatu) – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (UB) kembali menjalankan program Pengabdian kepada Masyarakat dengan menyasar sektor perhotelan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok.

Program tersebut berlangsung selama dua hari, 1-2 Juli 2026, di JM Hotel Lombok dengan melibatkan para manajer hotel, supervisor, hingga general manager dari berbagai hotel kawasan Mandalika.

Pelatihan mengusung tema “Penguatan Etika Kerja dan Profesionalisme Pelayan Perhotelan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika melalui Pelatihan Partisipatif.”

IKLAN

Kegiatan ini bertujuan memperkuat kepemimpinan, etika kerja, dan budaya pelayanan prima sebagai fondasi utama industri perhotelan pada destinasi wisata unggulan nasional.

FEB UB menyusun program tersebut berdasarkan hasil kajian mengenai kualitas layanan hotel di kawasan Mandalika. Akademisi menilai kawasan itu memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata kelas dunia.

Namun, potensi tersebut memerlukan dukungan kualitas pelayanan yang konsisten pada seluruh lini operasional hotel.

IKLAN

Wisatawan saat ini tidak hanya menikmati keindahan alam Mandalika. Mereka juga menilai pengalaman pelayanan sejak proses penyambutan, pelayanan selama menginap, hingga meninggalkan hotel.

Karena itu, kepemimpinan, profesionalisme, etika kerja, dan budaya service excellence menjadi faktor penting dalam menjaga kepuasan tamu sekaligus memperkuat citra pariwisata NTB.

Program ini lahir melalui Pusat Riset Kepemimpinan dan Organisasi FEB Universitas Brawijaya sebagai bagian dari diseminasi hasil penelitian lapangan. Tim peneliti menemukan hubungan kuat antara pola kepemimpinan pada proses pengelolaan internal hotel dengan kualitas pelayanan yang akhirnya tamu rasakan.

Hasil penelitian tersebut kemudian berkembang menjadi modul pelatihan praktis agar manajemen hotel maupun karyawan garis depan dapat menerapkannya secara langsung.

Pelatihan Partisipatif Dorong Budaya Service Excellence

Sebagai narasumber utama, Prof. Dodi Irawanto memaparkan pentingnya kepemimpinan pelayanan prima yang memadukan visi jangka panjang dengan eksekusi operasional yang disiplin di lantai kerja.

Ia menekankan kepemimpinan transformasional untuk membangun budaya service excellence, serta kepemimpinan situasional yang adaptif terhadap kesiapan staf harian.

Menurutnya, pemimpin hotel tidak cukup hanya mengandalkan standar operasional prosedur (SOP). Pemimpin hotel harus menjadi teladan, menginspirasi, serta melatih staf melalui briefing singkat, coaching cepat, dan apresiasi atas kinerja.

Pendekatan tersebut membuat nilai kejujuran, tanggung jawab, ketepatan waktu, serta rasa hormat kepada tamu hadir dalam setiap layanan.

Pemateri lainnya, Dian Ari Nugroho, SE., MM., menjelaskan profesionalisme pelayan hotel berawal dari kebersihan area, kerapian seragam, kesopanan berkomunikasi, dan kecepatan merespons kebutuhan tamu. Seluruh aspek tersebut menjadi bagian penting dalam konsep internal marketing perhotelan.

Berbeda dengan pelatihan konvensional, kegiatan ini mengutamakan metode partisipatif. Peserta mengikuti simulasi briefing, praktik penanganan keluhan tamu, observasi layanan hotel, serta diskusi kelompok membahas tantangan unit kerja masing-masing.

Peserta juga berlatih memberikan coaching kepada staf junior sebagai upaya membangun budaya pembinaan yang berkelanjutan.

FEB UB turut menggandeng asosiasi hotel dan restoran kawasan KEK Mandalika agar materi pelatihan selaras dengan kebutuhan industri.

Kolaborasi tersebut mendorong setiap hotel menerapkan hasil pelatihan melalui penguatan budaya apresiasi kepada karyawan serta peningkatan kualitas pelayanan secara konsisten.

Melalui kegiatan ini, FEB Universitas Brawijaya berharap lahir pemimpin hotel yang adaptif, mampu menjaga standar pelayanan, serta menghadirkan pengalaman terbaik bagi setiap tamu.

Program tersebut juga mempertegas peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis industri dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memperkuat daya saing sektor pariwisata Indonesia. (*)

Atim Laili

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait