Asap Pembakaran Lahan Ganggu Pengalaman Wisata di Mandalika
Lombok Tengah (NTBSatu) – Asap dari pembakaran lahan yang marak terjadi di sekitar kawasan The Mandalika mulai mengganggu kenyamanan wisatawan yang datang berkunjung kesana.
Mereka mengaku kepulan asap kerap muncul hampir setiap hari, terutama di sekitar Pantai Tanjung Aan hingga jalur bypass menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.
Seorang wisatawan, Danu mengatakan, pembakaran lahan sudah menjadi pemandangan yang sering ia temui setiap kali melintas menuju kawasan wisata tersebut belakangan ini.
“Setiap kita pergi ke Kuta itu, wajib ada pembakaran lahan. Yang paling sering itu di wilayah Pantai Aan,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 1 Juli 2026.
Menurutnya, asap dari pembakaran lahan sangat mengganggu aktivitas masyarakat maupun wisatawan. Padahal, Mandalika merupakan kawasan pariwisata yang menjadi tujuan wisata kelas dunia.
“Sangat mengganggu aktivitas, apalagi ini kawasan pariwisata kelas dunia. Ada sirkuit juga di sana,” katanya.
Ia mengatakan, kepulan asap beberapa kali mengganggu momen wisata. Salah satunya saat menikmati matahari terbenam di kawasan Pantai Aan.
“Waktu itu kami lagi menikmati sunset, tiba-tiba ada kebakaran lahan di samping. Asapnya lumayan mengganggu tempat kami,” ungkapnya.
Asap juga Sampai di Bypass
Selain di sekitar Pantai Aan, asap juga sering menyelimuti jalur bypass yang menjadi akses utama menuju kawasan Mandalika. Kondisi itu dinilai membahayakan pengguna jalan sekaligus mengurangi kenyamanan wisatawan yang datang berlibur.
“Di jalan bypass itu banyak bukit. Kami sering lewat sana, dan asap-asapnya sangat mengganggu saat berkendara,” ujarnya.
Ia menjelaskan pembakaran lahan kerap terjadi karena banyaknya lahan pertanian jagung di sekitar kawasan tersebut. Namun, menurutnya, kebiasaan itu perlu segera dihentikan karena berdampak terhadap citra destinasi wisata.
Ia juga berharap pemerintah memperkuat upaya pencegahan kebakaran lahan, termasuk menambah armada dan pos pemadam kebakaran di kawasan Mandalika. Menurutnya, keberadaan satu pos dengan satu unit mobil pemadam belum cukup jika kebakaran terjadi di beberapa lokasi dalam waktu bersamaan.
“Kalau ada dua kebakaran sekaligus, tentu akan kesulitan. Semoga pemerintah bisa menambah unit pemadam kebakaran di sana,” harapnya. (*)




