Lobi Dana Global, Pemkot Mataram Bidik Norwegia hingga Australia untuk Atasi Krisis Sampah
Mataram (NTBSatu) – Terhimpit keterbatasan fiskal, Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram membidik pendanaan internasional demi mengakselerasi proyek infrastruktur strategis, khususnya di sektor sanitasi dan pengelolaan sampah.
Langkah ini menjadi strategi keluar dari ketergantungan pada APBD, sekaligus memperkuat daya tahan kota terhadap berbagai tantangan lingkungan.
Kepala Bappeda Kota Mataram, Lalu Bramantyo Ganeru mengatakan, inovasi dalam mencari sumber pembiayaan kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
“Kondisi fiskal daerah membuat kami tidak bisa hanya bergantung pada APBD. Kami harus kreatif membuka peluang pendanaan global agar program strategis tetap berjalan,” ujar Bramantyo, Kamis, 16 April 2026.
Pemkot Mataram kini aktif menjalin komunikasi dengan berbagai pihak internasional. Salah satunya dengan Norwegia untuk kerja sama pengelolaan sampah berbasis teknologi.
Tak hanya itu, kolaborasi riset juga digarap bersama universitas di Sydney, Australia, serta Universitas Indonesia, guna memperkuat sistem sanitasi saat banjir.
Di sisi lain, Pemkot Mataram juga mengajukan proposal anggaran sebesar Rp90 miliar ke Pemerintah Pusat. Dana ini akan berfokus pada transformasi TPST Kebon Talo menjadi fasilitas pengolahan sampah modern berteknologi tinggi.
“Kami ingin TPST Kebon Talo naik kelas, bukan sekadar tempat olah sampah, tetapi menjadi pusat pengolahan yang punya nilai ekonomi dan standar industri,” jelas Bramantyo.
Tak berhenti di pengolahan, Pemkot Mataram juga mendorong hilirisasi sampah. TPST Kebon Talo ditargetkan mampu memasok bahan baku co-firing untuk PLTU. Namun, kualitas produksi menjadi kunci agar tidak merusak sistem pembangkit listrik.
Selain itu, proyek infrastruktur lain turut masuk radar pendanaan, mulai dari pembangunan breakwater di Pantai Ampenan hingga penyusunan master plan drainase untuk solusi banjir jangka panjang.
“Kami harap sistem sanitasi dan pengelolaan sampah tetap berjalan optimal tanpa membebani keuangan daerah. Karena itu, dukungan global menjadi krusial,” tambahnya. (*)



