Hidupkan Warisan Nusantara, Lace Lab Kenalkan Pakaian Tradisional dengan Konsep Modern
Mataram (NTBSatu) – Berdiri sejak Februari 2026, Lace Lab merupakan house of brands yang menaungi empat jenama fesyen yaitu Jaleela, Mera and Jenar, Mmots, dan Sehasta Rasa. Keempatnya merupakan jenama lokal yang berasal dan diproduksi di Pulau Lombok.
Sebelum kehadiran Lace Lab, keempat jenama sudah lebih dulu masyarakat kenal sebagai merek lokal yang memiliki pasar cukup luas hingga ke luar Pulau Lombok. Seluruh tenaga kerja yang diserap merupakan tenaga kerja lokal dengan sebagian besar adalah perempuan.
Produk yang dipasarkan di Lace Lab merupakan produk pakaian tradisional, yang telah diberikan sentuhan modern. Supervisor Lace Lab, Elsa Manora Anggi mengatakan, visi dari Lace Lab sendiri adalah ingin merayakan tradisi dan menghidupkan warisan nusantara.
“Kami ingin tetap menghidupkan tradisi warisan nusantara melalui produksi pakaian tradisional. Kemudian, kami memadukan desain tradisional dengan modern untuk menyesuaikan kebutuhan pasar, serta mengikuti tren yang sedang berkembang. Kami selalu update dengan tren fesyen, berharap produk semi tradisional kami ini juga bisa tetap diminati oleh anak muda,” jelas Elsa kepada NTBSatu, Rabu, 15 April 2026.
Keempat jenama tersebut memiliki ciri khas yang menjadi keunggulan masing masing. Sehingga, menjadikan siap bersaing dengan jenama besar dari luar daerah bahkan impor.
Keunggulan Masing-masing Jenama
Jaleela berfokus pada pakaian yang digunakan untuk acara formal seperti wisuda, lamaran, dan pesta pernikahan. Mera and Jenar memiliki desain yang lebih simpel dan dapat digunakan untuk sehari-hari, serta menargetkan pasar ke anak muda.
Sehasta Rasa memiliki desain dan payet yang lebih mewah dan eksklusif, dengan tampilan yang lebih dewasa. Sehasta Rasa menargetkan pasar usia 30 tahun ke atas. Mmots sendiri didesain untuk pemakaian sehari hari, sehingga produknya lebih beragam mulai dari semi kebaya modern, kemeja, hingga celana panjang.
Lace Lab juga menawarkan pilihan special custom bagi para pelanggan yang ingin menyesuaikan kebaya impian dipadukan dengan ciri khas model atau bahan yang dimiliki jenama. Special custom ini dapat dilakukan secara langsung di toko Lace Lab dengan desainer dari Lace Lab.
Selain sebagai house of brands, Lace Lab juga berencana agar ke depannya dapat menjadi culture space dengan rutin menjadwalkan workshop yang memiliki nilai edukasi terhadap warisan nusantara.
“Kami sangat terbuka untuk kolaborasi dengan komunitas atau brand (jenama, red) lain dalam pengadaan workshop. Seperti menjahit, berkain, dan perayaan hari-hari besar seperti hari batik dan hari kartini,” ungkap Elsa.
Ubah Stigma Berkebaya
Melalui penyesuaian produk pakaian tradisional dengan tren pasar, terlebih dengan dukungan kegiatan-kegiatan yang sedang menjadi tren sekaligus memberikan edukasi kepada generasi muda, Lace Lab berharap dapat mengubah stigma “berkebaya hanya untuk orang tua” atau “kebaya hanya bisa digunakan saat perayaan acara besar”.
“Kami menekankan di strategi marketing (pemasaran, red) untuk dapat menjangkau generasi muda. Mulai dari pengelolaan sosial media, bekerja sama dengan influencer lokal maupun nasional. Mengadakan campaign berkebaya dan mengadakan workshop yang bertujuan untuk membuka pikiran generasi muda, berkebaya tidak membuat kita kelihatan tua dan tetap bisa modis,” ujar Elsa.
Berlokasi di Jalan Adisucipto, Kota Mataram, Lace Lab memberikan pengalaman berbelanja pakaian tradisional dengan yang konsep modern. Tampilan toko dibuat eksklusif dan estetik. Mulai dari pintu masuk, pengunjung sudah dapat melihat bangunan yang dibangun dengan konsep minimalis modern hingga memberikan kenyamanan ketika berbelanja.
“Mimpi kami semoga ke depannya kami tetap bisa eksis di bidang fesyen ini. Membangun komunitas berkain dan menjadi salah satu destinasi wisata di NTB. Karena selain berjualan produk, kami juga memberikan pengalaman dan edukasi mengenai warisan nusantara di sini. Dengan segala produk dan usaha kami dalam melestarikan warisan nusantara, kami berharap dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk mencintai dan bangga menggunakan warisan nusantara,” jelas Elsa. (Nadya)



