Kemiskinan Ekstrem di Bintaro: Jeratan Judi Online, Lemahnya Literasi Keuangan, hingga Dampak Abrasi
Abrasi dan Cuaca Ekstrem Perparah Kondisi
Di tengah upaya pembenahan data dan edukasi keuangan, warga pesisir juga harus menghadapi ancaman gelombang tinggi awal tahun.
Abdul Kadir (54), nelayan asal Kampung Bugis yang lahir pada 1972, menceritakan kuatnya arus laut yang menerjang permukiman dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, abrasi kali ini merupakan yang terparah sepanjang hidupnya.
“Kondisi air pasang ini sangat besar. Puncaknya malam Kamis itu, air naik tinggi sekali sampai masuk ke dalam rumah warga,” jelasnya.
Akibat cuaca ekstrem dan gelombang tinggi, nelayan tidak bisa melaut selama beberapa hari. Perahu-perahu bahkan terpaksa diungsikan ke Senggigi demi keamanan.
“Sudah beberapa hari nelayan di sini tidak bisa melaut karena ombak terlalu berbahaya. Sekarang kami hanya mengandalkan bantuan sembako yang mulai disalurkan pemerintah,” tambah Abdul Kadir.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga menggantungkan hidup pada pinjaman perbankan, terutama kredit dari Bank BRI.
Rata-rata nelayan mengambil kredit antara Rp50 juta hingga Rp100 juta untuk modal membeli kapal atau usaha.
Namun dalam praktiknya, tidak sedikit dana kredit tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, terutama saat tidak bisa melaut.
“Rata-rata mereka ambil kredit Rp50 sampai Rp100 juta untuk modal kapal atau usaha, tapi kebanyakan terpakai untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya. (*)



