Tiga SPPG di Sumbawa Dihentikan Sementara Akibat Kasus Keracunan dan Konflik Internal
Dampak ke Penerima Manfaat
Rusmayadi mengakui, dampak penghentian ini cukup signifikan karena menyentuh masyarakat. Terutama, anak-anak penerima manfaat program pemenuhan gizi.
“Kita dari Satgas berharap persoalan ini segera selesai. Karena kalau tidak operasional, tentu masyarakat yang terdampak,” ujarnya.
Ia menambahkan, Empang sebelumnya juga pernah mengalami kasus serupa. “Empang dulu sempat terjadi keracunan juga, baru satu kali, sama seperti Lunyuk,” ungkapnya.
Pemerintah daerah berharap, proses perbaikan dapat rampung sebelum aktivitas sekolah kembali normal usai Ramadan. Namun, Rusmayadi realistis target tersebut bisa saja meleset.
“Harapan kita, sebelum anak-anak masuk sekolah setelah puasa, semuanya sudah selesai. Tapi mungkin tidak cepat terkejar, bisa jadi selesai setelah Lebaran,” katanya.
Saat ini, pemerintah masih menghitung jumlah pasti penerima manfaat di tiga wilayah tersebut yang terdampak penghentian layanan.
“Belum saya cek secara rinci berapa jumlah penerima di Empang, Tarano, dan Lunyuk. Tapi jelas ada dampaknya,” tambahnya.
Dengan tersisanya delapan dari 11 SPPG yang aktif, Pemkab Sumbawa kini berpacu dengan waktu untuk memastikan pelayanan pemenuhan gizi kembali berjalan normal dan tidak menimbulkan dampak jangka panjang bagi anak-anak penerima manfaat. (Marwah)



