Iklim NTB Diprediksi Memburuk, Ilmuwan Ingatkan Pemerintah Aktif Lakukan Mitigasi
Mataram (NTBSatu) – Ancaman krisis iklim di Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak lagi bersifat abstrak atau sekadar prediksi ilmiah jangka panjang. Fenomena cuaca ekstrem yang terjadi berulang, mulai dari hujan lebat dengan angin kencang, banjir rob, abrasi pantai, hingga gelombang laut tinggi, menjadi sinyal nyata kondisi iklim di NTB memasuki fase yang semakin berisiko.
Para ilmuwan sudah sering mengingatkan akan kondisi tersebut. Ilmuwan juga kerap memperingati tanpa langkah mitigasi yang serius dan terencana, dampak Iklim ini akan jauh lebih mahal secara sosial, ekonomi, dan ekologis.
Pakar Ilmu Kebumian dan Perubahan Iklim UIN Mataram, Irwan, Ph.D., menegaskan, kenaikan suhu udara memiliki hubungan langsung dengan peningkatan ekstremitas cuaca. Secara ilmiah, katanya, setiap kenaikan suhu udara akan memicu eskalasi risiko bencana hidrometeorologi.
“Hubungan antara kenaikan suhu udara dan kenaikan muka air laut itu linear. Ketika suhu naik, intensitas hujan ekstrem juga meningkat. Secara global, kenaikan suhu satu derajat Celsius saja bisa meningkatkan potensi cuaca ekstrem hingga sekitar tujuh persen,” jelas Irwan kepada NTBSatu, Kamis, 22 Januari 2026.
Artinya, kondisi cuaca ekstrem yang terjadi tahun ini bukanlah puncak, melainkan awal dari tren yang akan terus meningkat. “Tahun depan akan lebih ekstrem dibanding tahun ini. Bahkan dalam hitungan bulan pun, misalnya Februari dan Maret, intensitas hujan dan angin berpotensi lebih berbahaya,” tegas Dosen UIN Mataram tersebut.
Awan Badai Menyelimuti NTB
Berdasarkan analisis citra satelit terkini, Irwan memaparkan wilayah Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa hingga Nusa Tenggara Timur saat ini diselimuti awan Cumulonimbus yang sangat tebal dan tinggi. Awan jenis ini dikenal sebagai pembawa hujan deras, petir, dan angin badai.
“Puncak awan Cumulonimbus ini sangat dingin dan mengandung uap air dalam jumlah besar. Dampaknya adalah hujan dengan intensitas sangat lebat disertai angin kencang, seperti yang kita rasakan dalam beberapa hari terakhir,” jelas Ilmuwan lulusan Universitas Tohoku, Jepang tersebut.

Di bagian Selatan Lombok hingga NTT, Irwan juga mengidentifikasi terbentuknya gumpalan awan berpola pusaran atau spiral. Fenomena ini berkaitan dengan siklon tropis, yang dipicu oleh downdraft atau embusan angin ke bawah yang kuat dari awan badai.
“Kondisi siklon tropis ini masih terpantau hingga sekitar Minggu, 25 Januari 2026. Selama itu pula potensi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi tetap sangat besar,” ujarnya.
Salah satu dampak paling berbahaya dari siklon tropis adalah terangkatnya permukaan air laut. Akibatnya, gelombang laut membesar dan air laut bisa meluap ke daratan pesisir, sebagaimana terjadi pada peristiwa banjir rob di Pantai Ampenan dan kawasan pesisir lainnya di NTB kemarin.
Pesisir NTB dalam Kondisi Rentan
Irwan menilai wilayah pesisir NTB, khususnya Lombok bagian Barat dan Kota Mataram, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Faktor utamanya adalah elevasi permukaan daratan yang relatif rendah, kemudian curah hujan tinggi dan kenaikan muka air laut.
“Rusaknya kawasan pesisir tidak hanya disebabkan oleh satu faktor. Kenaikan muka air laut, curah hujan ekstrem, gelombang tinggi, dan abrasi pantai semuanya saling berkaitan dalam satu siklus hidrologi,” jelasnya.
Menurutnya, abrasi pantai yang semakin parah menandakan bahwa mitigasi pesisir selama ini belum berjalan optimal. “Problem-nya (masalahnya, red), di banyak wilayah pesisir NTB, mitigasi struktural maupun non-struktural masih sangat minim,” kritiknya.
Dalam konteks solusi, Irwan menekankan pentingnya pendekatan berbasis alam (nature-based solutions). Salah satu rekomendasi utamanya adalah pengembangan hutan bakau atau mangrove di kawasan pesisir yang rawan abrasi.
“Bakau itu secara alami menjadi bumper gelombang. Akar dan batangnya mampu memecah energi ombak, sekaligus menyerap karbon. Ini jauh lebih murah dan berkelanjutan dibanding beton atau batu pemecah gelombang,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, pemecah gelombang berbahan beton memang bisa menjadi solusi jangka pendek, namun biayanya sangat mahal dan daya tahannya terbatas. “Beton bisa retak dan hancur jika terus-menerus dihantam gelombang besar. Selain mahal, sifatnya juga lokal, hanya melindungi area tertentu,” kata Irwan.
Sebaliknya, hutan bakau memiliki manfaat berlapis: menahan abrasi, menjadi habitat biota laut, menyerap karbon, dan menjaga daya tarik wisata pesisir. “Pantai adalah core business pariwisata NTB. Kalau dipasangi beton semua, daya tarik alaminya justru rusak,” tegasnya.
Pemerintah Dinilai Hanya Reaktif
Irwan melontarkan kritik tajam terhadap pola kebijakan pemerintah yang ia nilai masih reaktif. Artinya, pemerintah selalu lebih banyak fokus pada penanggulangan bencana selama ini.
Namun, pemerintah lupa dengan mencegahnya akan lebih meminimalisir biaya. “Kita cenderung bergerak setelah bencana terjadi. Padahal biaya mitigasi jauh lebih murah dibanding biaya pemulihan,” ujarnya.
Ia mencontohkan kerugian akibat bencana besar lainnya seperti di Sumatera yang pemulihannya mencapai puluhan triliun rupiah. “Kalau anggaran sebesar itu digunakan untuk mitigasi sejak awal, dampaknya bisa dicegah,” katanya.
Menurut Irwan, pemerintah daerah harus mulai berani mengalokasikan anggaran mitigasi iklim sebagai prioritas, bukan sekadar pos pelengkap. Menurutnya, pencegahan harusnya menjadi langkah penting sebelum bencana besar lainnya datang.
Jika tidak, maka akan banyak kerugian lain yang bisa masyarakat hadapi. Mulai dari kerugian ekonomi akibat matinya sektor pariwisata apabila bencana, lalu rusaknya infrastruktur pesisir, dan kerugian materil akan jauh lebih besar.
“Pemerintah harus bergerak sebelum masyarakat hancur, bukan setelahnya. Perubahan iklim ini nyata, dan NTB berada di garis depan risikonya,” tutupnya. (Zani)



