Psikolog: Ego dan Pengaruh Gaya Hidup, Anak Terjebak Prostitusi

Mataram (NTBSatu) – Fenomena prostitusi kalangan pelajar tak ubahnya penyakit kangker, tanpa disadari terus menjalar ke organ kehidupan sosial. Lambat laun menjadi penyakit masyarakat.
Pola yang dijalankan, melalui dalam jaringan (daring) menggunakan aplikasi tertentu. Skema ini populer dengan istilah open BO (Booking Order). Pola lain, lebih konvensional, komunikasi antar jaringan yang sudah profesional atau melalui mucikari.
Psikolog dari Universitas Mataram (Unram), Pujiarohman, M.Psi., mengungkap, satu di antara faktor adalah, kurangnya pengawasan orang tua.
Dalam dunia psikologi, sambungnya, terdapat sebuah konsep yang disebut psikoanalisis. Ada istilah fiksasi di dalamnya, yakni orang dengan usia saat itu mundur ke tahapan yang tidak selesai saat perkembangan awal.
“Di bagian mana mundur?. Yang pertama, ada namanya fase oral. Segala macam kepuasan dari mulut, mulai di umur 0 sampai 1 tahun. Ketika ada kondisi yang tidak selesai pada tahapan tersebut, seseorang akhirnya merasa menjadi orang yang kekurangan kasih sayang. Kurang perhatian,” jelasnya kepada NTBSatu, Jumat, 4 Juli 2025.
Ada tahapan kedua namanya falik, usia 3 sampai 6 tahun. Pada usia tersebut, kepuasan seseorang sangat dipengaruhi oleh keluarganya. Tujuannya, ketika keluarganya mampu memuaskannya, dia akan menjadi orang yang punya kontrol baik pada diri sendiri.
“Dua ini, kurangnya kasih sayang, kontrol yang baik atau tidak baik dalam fase-fase itu terlewati begitu aja, akhinya mempengaruhi keseimbangan ego,” lanjut Puji, sapaannya.
Ia menerangkan bahwa manusia itu punya struktur yakni id, ego, superego. Id adalah nafsu, keinginan, harapan, kebutuhan. Superego adalah aturan, nilai yang ada di sekitar.
Misalnya, lapar adalah kebutuhan manusia. Tetapi aturan mengatakan, ketika lapar maka harus minta izin kalau tidak punya uang atau makanan kepada orang yang punya. Ketika ide tidak sejalan dengan superego, egonya menjadi sembarangan.
“Sama, seks itu kebutuhan manusia, tetapi di aturan masyarakat, seks itu boleh setelah menikah. Nah tidak seimbang perilaku, muncul kondisi terjadi perilaku seks bebas. Akhirnya lari ke mana ketika keputusan egonya tidak bagus, perilaku-perilaku psikopatologis gangguan, kriminal, karena egonya tidak seimbang,” ungkapnya.
Sehingga dalam konsep psikoanalisis, tambahnya, alasan inilah yang menjadi penyebab dasar pelajar bisa terlibat.
“Apa semua orang-orang yang mengalami kondisi tidak terpenuhi masa oralnya, akhirnya semua melakukan perilaku prostitusi? Tidak semua. Kembali lagi kepada supergo-nya, kontrol sosialnya. Ketika dua-duanya (id dan superego) jebol, tidak terpenuhi, muncul itu,” tambah Puji.
Ego dan Gaya Hidup
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unram ini juga menyebut, alasan ekonomi merupakan bagian permukaan seseorang melakukan perilaku prostitusi.
“Kepingin tampil keren, oke, gaul, posting di sosial media adalah sesutau yang kulit. Dalam psikologi, persona, topeng-topeng,” terang Puji.
Sehingga, ia menegaskan kembali, “topeng-topeng” tersebut muncul karena ada akar yang menyebabkan itu sangat besar terjadi.
“Artinya, apakah ketika orang tuanya tidak men-support, mereka menjadi seseorang yang prostitut? Tidak semua. Karena di sini ada kontrol value dari sosialnya. Siapa sosialnya anak ini, dari kecil ada orang tua,” tuturnya.
Lebih lanjut, ketika berbicara peran orang tua, kata Puji, realitas saat ini apakah semua orang telah melaksanakan tugas dan kewajibannya. Banyak orang tua akhirnya mengatakan mencari uang untuk anaknya.
“Tetapi satu hal yang perlu diingat bahwa posisi materi itu penting, tetapi tidak pernah menggantikan posisi kasih sayang, cinta. Karena itu adalah id terbesar manusia. Ketika dari kecil merasa tidak diperhatikan, tidak mendapat kasih sayang, tidak dipedulikan, dia akan mencari itu di luar sana dengan ‘topeng’,” bebernya.
Bahakan di banyak sekali jurnal penelitian mengatakan, orang-orang akhirnya cenderung menjadi korban kekerasan seksual yang ujungnya prostitusi karena kurangnya figur ayah dalam keluarga.
“Itu membuat seseorang menjadi tidak peka dengan alarm bahaya. Ketika ada sesuatu yang bahaya, dia tetap merasa itu tidak bahaya, karena tidak ada teguran, ketegasan,” ucapnya.
Pasalnya. figur ayah ini harapannya memberikan rule-rule (aturan-aturan) itu. Ini tidak hanya terjadi pada kekerasan seksual di anak-anak perempuan, laki-laki juga seperti itu.
“Selain tidak mampu mengetahui tanda bahaya, orang-orang yang kekuragan figur ayah tadi akhirnya menjadi orang yang tidak asertif, kesusahan bilang tidak. Walaupun di kepalanya bilang ini tidak benar, tetapi dia tidak bertindak, tidak bisa ngomong. Jadi orang yang ndak enakan, itulah yang terjadi,” jelasnya.
Puji menyampaikan, dalam kacamata kekerasan seksual, ada salah satu istilah namanya freezing, tubuhnya membuku tidak bisa ngapa-ngapain.
“Orang-orang pada bilang, kenapa ndak ngelawan. Bukannya tidak mau ngelawan, di kepalanya sudah teriak ini tidak benar. Tetapi badannya kaku, ototnya kaku, tidak bisa ngomong,” tambahnya.
Hal ini pun sejalan dengan kronologis dalam kasus seorang kakak tega “menjual” adiknya ke pria hidung belang itu. Karena, sang kakak lebih dulu masuk dalam dunia “gelap” tersebut akibat tidak mendapatkan rasa aman, kasih sayang dari orang tua.
“Karena dia tidak mendapatkan keamanan, sehingga mencari ke luar, Awalnya bisa jadi melakukan relaksasi seksual sama teman-temannya. Tetapi melihat peluang, ketika sama teman ndak dibayar, sama ini dibayar, ada benefit lain yang didapat. Berkembang akhirnya kondisi mental value-nya tentang hubungan seks,” ungkap Puji.
Kenyamanan yang didapatkan terus-menerus itu, sambungnya, masuk ke dalam memorinya sehingga membuat punya kewajiban melakukannnya.
“Jadi tidak sekadar kebutuhan akan seks, uang, tetapi rasa nyaman,” sebutnya.
Dorong Sikap Pemerintah
Sehingga, ia mendorong untuk melakukan perubahan sistem ke depan berdasarkan konsep psikologi ekologis. Pihak yang bertanggung jawab utama ini adalah pemerintah.
“Pemerintah begitu banyak punya tools, ambil contoh sekolah karena mereka anak-anak sekolah. Tetapi pertanyaan besarnya, sudah sejauh mana kita mengkomunikasian perilaku-perilaku berisiko kepada anak-anak di sekolah?,” ujar Puji.
Menurutnya, kondisi pendidikan masih hanya fokus sama akademik. Yang notabene, tidak semua pelajaran yang dipelajari terpakai untuk kehidupan saat ini.
“Hanya saja kondisi ini tidak mengajarkan mereka keterampilan akan kehidupan. Salah satu hal penting adalah pendidikan kesehatan,” terangnya.
Puji pun mendorong dinas pendidikan untuk memperkuat hal tersebut melalui guru Bimbingan Konseling (BK).
Tetapi, guru BK di sekolah masih terdapat beberapa catatan. Mislanya, pendidikannya, karena banyak guru yang bukan lulusan konseling menjadi guru BK.
Kemudian, jumlahnya, aturannya 1 guru banding 150 siswa. “Sekarang bisa dicek dalam satu sekolah dengan segitu banyak siswa, kadang cuman satu, dua. Ndak cukup,” ujar Puji.
Maka perlu adanya peningkatan kapasitas dan jumlah guru BK, sarannya, di level SMP dan SMP. “Di SD juga harus dibuatkan peran. Memang tidak ada guru BK, tetapi harus ada pihak tertentu yang bisa dididik menjadi guru BK,” tambahnya.
Selain dinas pendidikan, dinas kominfo dapat dilibatkan sebagai pihak yang mengontrol informasi beredar.
Puji menanyakan, pernahkah kemudian pemerintah berpikir untuk mengisi sosial media dengan informasi yang positif. Seperti saat ini semua informasi mengalir, mau jelek, bagus, apapun itu yang mengisi otak masyarakat.
“Coba bergerak menggandeng bidang-bidang yang expert, hiasi dengan informasi positif. Pemda lewat Kominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika, red) juga bermain sosial media untuk membagi tentang pendidikan kesehatan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya sistem pentahelix dalam menuntaskan masalah ini. Contohnya, penggunaan media resmi pemerintah, media luar, dan keterlibatan akademisi.
“Ini jadi PR (Pekerjaan Rumah) juga buat teman-teman yang mau menikah. Agar tidak hanya mempersiapkan gedung, resepsi yang hanya berlangsung sehari, dua hari. Tetapi ada hal yang lebih penting di sepanjang hidup bersama pasangan, kesiapan mental,” tegas Puji.
Sebab, jangan sampai menikah hanya untuk memenuhi kebutuhan yang tidak didapat saat masih kecil. Sehingga yang terjadi harapan besar akan pasangan.
“Nanti ternyata dalam realitas pasangan tidak bisa memberikan sesuai harapan, kecewa, konflik, perceraian terjadi,” tutunya. (*)