NTB

NTB Kedua Tertinggi Penyakit Katarak, Kenali Ciri cirinya

Mataram (NTB Satu) – Menurut survei Dinas Kesehatan yang dianjurkan oleh World Health Organization (WHO), Provinsi NTB menjadi daerah nomor dua tertinggi di Indonesia yang mengalami kebutaan sebesar empat persen. Sementara, tingkat kebutaan akibat katarak mencapai 78 persen.

Pendataan yang berdasarkan perhitungan secara prevalensi tersebut dinilai cukup tinggi. Pasalnya, tingkat kebutaan akibat katarak pada negara-negara di Asia Tenggara, tidak sebanyak yang dialami NTB.

Direktur Rumah Sakit Mata (RSM) NTB, dr. Sriana Wulansari Sp.M., mengatakan, bila melakukan pembandingan jumlah penduduk provinsi yang lain dengan jumlah penduduk yang ada di NTB, maka penduduk NTB yang mengalami kebutaan tidak terlalu besar. Sebab, penduduk NTB berjumlah kurang lebih sebanyak 5 juta jiwa. Selain itu, Sriana menganjurkan agar masyarakat lebih sadar tentang serba-serbi katarak.

“Secara prevalensi, NTB memang disebut cukup tinggi. Tapi, apakah NTB yang paling besar jumlah penderita kebutaan akibat katarak, tentu tidak,” ungkap Sriana, ditemui NTB Satu di RSM NTB, Kamis, 21 Juli 2022.

Dinas Kesehatan NTB melakukan proses survei menggunakan metode Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB). RAAB merupakan survei untuk gangguan penglihatan dan pelayanan perawatan mata berbasis populasi pada penduduk berusia diatas 50 tahun.

“Dari hasil yang ditunjukkan RAAB, penyebab terbesar kebutaan di NTB adalah katarak, bahkan mencapai 78 persen,” terang Sriana.

Menurut WHO, Indonesia memang menjadi negara dengan penduduk yang paling awal menderita katarak. Hal tersebut disinyalir terjadi lantaran Indonesia dilalui garis khatulistiwa.

Katarak disebabkan oleh paparan sinar ultraviolet yang tinggi. Oleh karena itu, nelayan dan petani cenderung lebih rentan terpapar katarak. Tipikal manusia yang paling banyak mengalami kebutaan akibat katarak adalah orang yang berumur di atas 50 tahun.

“Selain itu, sinar biru pada gadget juga disebut turut menyebabkan katarak. Maka, penduduk Indonesia yang berusia 40 ke atas sudah dapat terpapar katarak,” jelas Sriana.

Tingkat orang terpapar katarak paling tinggi di NTB terletak di Kabupaten Lombok Timur. Sebab, penduduk NTB banyak yang berasal dari Kabupaten Lombok Timur. Sampai saat ini, beberapa dokter mata telah tersebar di berbagai kota dan kabupaten di NTB.

“Sejauh ini, dokter mata belum tersedia hanya di daerah Kabupaten Sumbawa Barat dan Kabupaten Dompu,” ujar Sriana.

Di dalam lingkup RSM NTB, Dinas Kesehatan NTB memiliki empat dokter spesialis mata. Sriana menyatakan bakal terus berupaya menambah dokter spesialis mata. Hal tersebut dilakukan agar pasien tidak perlu dirujuk ke luar daerah, hanya perlu berobat di NTB.

Tingkat kebutaan di panggung nasional hanya tiga persen. Sementara NTB, tercatat sebanyak empat persen. Menurut perhitungan prevalen, NTB sebenarnya berada di atas tingkat nasional.

“Tahun 2030, kebutaan yang disebabkan oleh katarak ditargetkan menurun dari yang tadinya 78 persen, menurun hingga 25 persen,” sebut Sriana.

Untuk meminimalisir kebutaan akibat katarak, Sriana menyarankan kepada masyarakat agar senantiasa mengenakan kacamata hitam. Memberikan edukasi kepada masyarakat juga penting. Selain itu, memerangi backlock katarak juga perlu dilakukan.

Masyarakat harus makin dibuat sadar tentang kebutaan akibat katarak. Selain itu, selama tidak terdapat penyakit lain, masyarakat harus disadarkan bahwa penyakit katarak dapat dioperasi kemudian membuat pengelihatan kembali menjadi jernih. Operasi katarak hanya menghabiskan waktu selama 15 menit.

“Apalagi, sekarang telah tersedia BPJS. Jadi, masyarakat jangan ragu untuk selalu mampir di berbagai rumah sakit mata atau layanan untuk melakukan pengecekan,” saran Sriana.

Salah satu upaya untuk membendung kebutaan akibat katarak, Dinas Kesehatan NTB telah melakukan proses skrining awal di tingkat Posyandu Keluarga. Apabila terdapat orang yang tidak mampu melihat dalam jarak sejauh lima meter, harus segera diperiksakan di Vision Centre.

“Jadi, masyarakat yang tidak bisa melihat dalam jarak 5 meter, harus periksa di Vision Centre. Ke depannya, kami menargetkan paling tidak terdapat tiga Vision Centre di per masing-masing kota dan kabupaten,” ungkap Sriana.

Terhadap generasi muda, Sriana menyarankan agar selalu hidup sehat dan jangan merokok. Karena, saraf mata dapat rusak akibat nikotin yang terkandung di dalam rokok. Selain itu, pembatasan penggunaan gadget juga sangat penting.

“Apabila penggunaan gadget dirasa sudah terlalu lama, istirahatlah dulu selama 20 detik dan melihat objek yang jaraknya lebih dari enam meter, terpapar sinar matahari yang berlebihan juga harus dihindari,” pungkas Sriana. (GSR)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button