BERITA LOKALDaerah NTB

18 Tahun Menderita di Lombok, Norida Akmal Ayob Akhirnya Pulang ke Pelukan Ibu

Lombok Tengah (NTBSatu) – Setelah melewati dua dekade, akhirnya Norida Akmal Ayob (45) bisa kembali ke kampung halamannya, di Kampung Bukit Sapi, Lenggong, Malaysia, pada pertengahan Februari 2026.

Norida menjalani kehidupannya selama 18 tahun di Desa Ubung, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, dengan kondisi ekonomi yang kurang baik.

Kisah Norida bermula pada tahun 2005, saat ia memutuskan menikah di Thailand, dengan seorang pria asal Lombok Tengah. Dua tahun berselang, ia meutuskan mengikuti sang suami ke kampung halamannya.

Dari keterangannya, Norida mengaku mengalami tantangan domestik yang berat. Ia juga mengaku sempat mengalami isu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), hingga suaminya menikah lagi.

“Saya mendapat perlakuan seperti itu (kekerasan) dan dia pun sudah menikah lagi dengan orang lain. Selama setahun terakhir setelah berpisah, saya harus berjuang sendiri mencari nafkah,” katanya mengutip media Malaysia Bernama, Selasa, 17 Februari 2026.

Norida mengaku berpisah dengan suaminya setahun sebelum kepulangannya ke Malaysia. Di waktu terakhir, ia mengaku berada dalam posisi rentan secara ekonomi dan administratif.

Dengan masalah administratif yang ia hadapi, Norida mengaku terpaksa hanya bekerja sebagai penyapu jalan. Pihak keluarga di Malaysia membenarkan kabar ini.

“Kami tahu dia bekerja sebagai penyapu jalan di sana demi menyambung hidup. Sebagai ibu, hati saya hancur mendengar anak saya harus hidup sesusah itu di negeri orang, padahal dia punya keluarga di sini,” ujarnya.

Setelah lama menghadapi kehidupan yang sulit, akhirnya Norida memiliki harapan baru untuk kembali ke Malaysia. Proses pemulangannya cukup rumit, mengingat dokumen keimigrasian yang tidak ia perbarui (overstay).

Tinggalkan Anak Bungsunya di Lombok

Datuk Mohd Razlan Rafii bersama pemerintah negara bagian Perak, akhirnya melakukan proses repatriasi. Hingga akhirnya bisa memulangkan Norida kembali ke Malaysia.

Meski bahagia bisa berkumpul bersama keluarga, Norida justru merasa khawatir karena meninggalkan anak bungsunya, bersama keluarga mantan suaminya.

“Saya bersyukur bisa pulang, tapi hati saya berat meninggalkan anak di sana. Dia sudah besar, dan saya berharap suatu hari nanti kami bisa berkumpul lagi di sini dalam keadaan yang lebih baik,” ujar Norida.

Sebagai bentuk tanggung jawab, Menteri Besar Perak, Datuk Seri Saarani Mohamad, memastikan wanita ini mendapat penanganan yang layak, agar bisa mandiri secara ekonomi.

Kasus Norida Akmal Ayob, menjadi pengingat bagi banyak pihak tentang rentannya posisi perempuan, dalam pusaran migrasi dan pernikahan lintas batas yang tanpa perlindungan hukum. (Inda)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button