Polisi Selidiki Robohnya Kelas SMAN 7 Mataram
Mataram (NTBSatu) – Polisi menyelidiki robohnya dua ruang kelas di SMAN 7 Mataram, Selasa siang, 19 Mei 2026. Dalam peristiwa itu, lima siswa menjadi korban. Satu di antaranya harus mendapat perawatan ke rumah sakit, karena mengalami syok berat setelah sempat terjebak di dalam bangunan yang ambruk.
Kapolsek Ampenan, AKP Muhammad Ryanto mengatakan, pihaknya langsung turun melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Kegiatan itu bersama Tim Identifikasi Polresta Mataram.
“Kemarin kami langsung olah TKP bersama Tim Identifikasi Polresta Mataram,” katanya, Rabu, 20 Mei 2026.
Selain olah TKP, polisi juga telah memeriksa sejumlah saksi. Mulai dari korban, Kepala SMAN 7 Mataram Ridha Rosalina, hingga pihak sarana dan prasarana sekolah.
Dari hasil identifikasi awal, polisi menemukan adanya kerusakan pada pilar penyangga atap bangunan. Dugaannya, pilar kayu tersebut tidak mampu menopang beban genteng beton.
Ia menerangkan, bangunan tersebut dibangun pada tahun 2004 dan pernah direnovasi pada 2018. Meski begitu, polisi belum menemukan adanya unsur kelalaian dalam insiden tersebut.
“Untuk unsur kelalaian dan lainnya belum kami temukan,” ujarnya.
Kepala SMAN 7 Mataram, Ridha Rosalina sebelumnya mengaku mendengar suara gemuruh keras. Ia kala itu berada di ruang kerjanya dan hendak menunaikan salat Zuhur.
“Sekitar pukul 12.30 Wita saya sedang di ruangan bersiap mau salat Zuhur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh keras. Semua langsung kaget dan keluar,” bebernya.
Bangunan yang roboh merupakan ruang kelas XI A2. Sementara itu, satu ruangan di sebelahnya yang sudah tidak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Ridha mengaku, sempat memeriksa kondisi bangunan pada pagi hari sebelum kejadian. Saat itu, ia tidak melihat adanya tanda-tanda kerusakan serius.
Menurutnya, pihak sekolah sebelumnya sudah menutup akses salah satu ruangan yang dianggap berisiko. Langkah itu untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak sekolah inginkan.
“Kami khawatir sehingga ruangan itu sudah ditutup dan tidak dipakai belajar. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak terkait. Tapi ternyata kejadian seperti ini tetap terjadi,” tutupnya. (*)




