Tak Ada SPBU, Harga BBM Eceran di Sembalun Melambung
Lombok Timur (NTBSatu) – Ketiadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, membuat warga bergantung pada penjualan BBM eceran. Kondisi ini membuat harga BBM di kawasan tersebut lebih tinggi daripada harga di SPBU.
Harga Pertamax di sejumlah penjual eceran mencapai Rp20 ribu per liter. Sementara Pertalite dijual sekitar Rp16 ribu per liter.
Kenaikan harga tersebut menjadi beban tambahan bagi masyarakat, terutama petani. Mereka membutuhkan BBM bukan hanya untuk kendaraan, tetapi juga untuk menunjang pekerjaan di lahan pertanian.
Eki, salah seorang petani asal Sembalun, mengatakan kebutuhan BBM cukup tinggi, terutama ketika memasuki musim kemarau.
Petani menggunakan bahan bakar untuk mengoperasikan mesin pompa air guna mengalirkan air ke lahan.
Selain pompa air, petani juga membutuhkan BBM untuk menjalankan mesin rotari. Kondisi tersebut membuat kenaikan harga BBM turut meningkatkan biaya operasional pertanian.
“Dulu harganya eceran Rp12 ribu. Saya heran, pas Pertamax naik kok Pertalite juga ikut naik. Apalagi harga Pertamax di pom bensin sekitar Rp15.900, sedangkan di sini satu liter atau satu botol dijual Rp20 ribu,” ujarnya, Minggu, 23 Agustus 2026.
Menurut Eki, masyarakat tidak selalu bisa membeli BBM langsung ke SPBU karena jaraknya cukup jauh. Kondisi itu membuat warga memilih membeli BBM eceran ketika membutuhkan bahan bakar untuk kendaraan maupun keperluan pertanian.
“Kalau mau beli ke SPBU memang harganya lebih murah, tetapi jaraknya cukup jauh. Untuk kebutuhan sehari-hari, akhirnya kami lebih memilih beli eceran meskipun harganya lebih mahal,” ujarnya.
Jarak SPBU dari kawasan Sembalun berkisar 19 hingga 25 kilometer. Warga harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk mendapatkan BBM dengan harga yang lebih rendah.
Persoalan harga BBM tersebut turut dirasakan wisatawan yang berkunjung ke Sembalun.
Wisatawan Keluhkan Hal Serupa
Mahmudi, salah seorang wisatawan, mengaku terkejut ketika mengetahui harga Pertamax mencapai Rp20 ribu per liter.
“Saya cukup kaget, karena di bawah atau di luar Sembalun harganya tidak semahal ini. Pertalite masih ada yang Rp12 ribu, paling Rp13 sampai Rp14 ribu. Kalau Pertamax sekitar Rp17 sampai Rp18 ribu,” ujarnya.
Menurutnya, perbedaan harga cukup terasa dibandingkan wilayah lain.
Ia berharap, masyarakat maupun wisatawan bisa mendapatkan BBM dengan harga yang lebih terjangkau selama berada di Sembalun.
Bagi petani, BBM menjadi salah satu kebutuhan penting dalam menjalankan aktivitas pertanian. Sementara bagi wisatawan, bahan bakar menjadi kebutuhan selama melakukan perjalanan menuju sejumlah destinasi di kawasan Sembalun.
Warga berharap, pemerintah dan pihak terkait mencari solusi atas persoalan tersebut.
Mereka menilai, akses BBM dengan harga yang lebih wajar dapat membantu menekan beban pengeluaran masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi dan pariwisata di Sembalun. (*)




