Sembalun Mountain Marathon Festival Libatkan Pelari dari 22 Negara, Targetkan 1.500 Peserta
Lombok Timur (NTBSatu) – Sembalun Mountain Marathon Festival (SMMF) kembali hadir di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, event sport tourism tersebut menargetkan 1.500 peserta dari dalam dan luar negeri.
Ketua Pelaksana SMMF, Hamka Abdul Malik mengatakan, panitia akan menggelar rangkaian kegiatan selama tiga hari, mulai 18 hingga 20 September 2026. Namun, puncak kegiatan berlangsung pada 19-20 September.
“Akan diselenggarakan mulai tanggal 18 sampai 20 September. Tapi puncak acaranya itu mulai 19 sampai hari Minggu lah, tanggal 20 itu,” ujarnya, Senin, 7 September 2026.
Hingga Senin, 7 September 2026, sekitar 900 peserta telah mendaftar. Data panitia mencatat 720 peserta berasal dari dalam negeri, sedangkan 180 peserta lainnya berasal dari mancanegara.
Para peserta internasional tersebut berasal dari 22 negara. Dari seluruh peserta yang sudah mendaftar, komposisinya mencapai 58,3 persen laki-laki dan 41,7 persen perempuan.
Hamka mengatakan, panitia masih membuka pendaftaran untuk mengejar target 1.500 peserta. Menurutnya, panitia telah membuka pendaftaran sejak beberapa bulan lalu.
“Tahun lalu sekitar 900 peserta. Untuk tahun ini kita targetkan 1.500,” ujarnya.
SMMF 2026 menghadirkan lima kategori lomba. Peserta dapat memilih Fun Run 7K, Half Marathon 21K, Marathon 42K, Kaldera Kids Run, dan Porter Challenge.
Hamka menjelaskan, SMMF tidak hanya mengandalkan lomba lari sebagai daya tarik utama. Panitia membawa konsep sport tourism yang menggabungkan olahraga dengan pariwisata dan pemberdayaan masyarakat.
Peserta akan melewati berbagai karakter wilayah Sembalun, mulai dari jalan raya, persawahan, perkebunan hingga lereng perbukitan.
Untuk kategori Marathon 42K, misalnya, peserta akan menempuh jalur trail yang dominan berada di kawasan perbukitan. Rute tersebut tidak membawa peserta sampai ke puncak Gunung Rinjani.
“Konsep sport tourism itu mestinya melibatkan semua pihak di situ. Orang bilangnya lomba lari, tetapi tidak hanya itu yang kita branding,” ujarnya.
Panitia juga mendorong masyarakat dan komunitas lokal mengambil peran dalam event tersebut. Hamka berharap manfaat kegiatan tidak hanya terasa selama pelaksanaan SMMF, tetapi berlanjut sepanjang tahun.
Menurutnya, pelaku UMKM, komunitas dan masyarakat lokal perlu mendapat ruang untuk terlibat. Panitia juga ingin membangun kolaborasi dengan sponsor agar dukungan terhadap masyarakat tidak berhenti pada penyelenggaraan event.
“Jadi acaranya setahun sekali, tetapi dampaknya berkelanjutan sepanjang tahun. Misalnya dari sisi UMKM dan pemberdayaan masyarakat,” katanya.
Pemkab Lombok Timur Siapkan Dukungan
Sekretaris Daerah Lombok Timur, M. Juaini Taofik mengatakan, Pemkab Lombok Timur mendukung pelaksanaan SMMF 2026.
Pemkab Lombok Timur akan menyesuaikan dukungan dengan kemampuan daerah.
Selain anggaran, pemerintah daerah menyiapkan sejumlah fasilitas dan sumber daya manusia untuk menunjang kegiatan.
“Kita punya terop, sound system, ambulans, SDM kesehatan, SAR, petugas perhubungan. Itu akan kita gerakkan untuk mendukungnya,” kata Juaini.
Juaini menilai, SMMF menunjukkan perkembangan dibanding pelaksanaan pertama. Tahun ini panitia menargetkan peserta lebih banyak dan menghadirkan semakin banyak pelari dari luar negeri.
Pemkab juga melihat event tersebut sebagai peluang untuk meningkatkan pergerakan ekonomi masyarakat Sembalun.
Rangkaian kegiatan selama tiga hari dapat mendorong peserta dan wisatawan memperpanjang masa tinggal.
Wisatawan yang sebelumnya hanya menginap satu malam berpeluang menambah waktu kunjungan karena SMMF menghadirkan berbagai kegiatan hingga Minggu.
“Harapan kita, event ini memberikan dampak terhadap masyarakat sekitar. Orang punya produk, orang berbelanja, sehingga pergerakan ekonominya bisa meningkat,” ujarnya.
Juaini berharap, SMMF terus berkembang sebagai event lokal yang mampu menarik wisatawan sekaligus menggerakkan potensi masyarakat Sembalun.
Hamka pun mengajak masyarakat ikut mendukung penyelenggaraan SMMF 2026. Ia menyebut, event tersebut sebagai produk lokal yang lahir dari masyarakat Sembalun dan Lombok Timur.
“Ini adalah produk lokal, pure. Ini adalah kebahagiaan masyarakat, tidak hanya di Sembalun, tetapi masyarakat Lombok Timur khususnya, Pulau Lombok, bahkan NTB,” pungkasnya. (*)




