KulinerLombok Timur

Dari Jualan di Sekolah hingga Sekuntum Snack

Lombok Timur (NTBSatu) – Kelayu, Lombok Timur, dikenal sebagai salah satu sentra jajanan kering di Lombok. Di kawasan ini, Sekuntum Snack menjadi salah satu produsen jajanan kering yang cukup dikenal dan mampu bertahan hingga kini.

Di balik usaha tersebut ada Rihul Jannah, perempuan yang sejak kecil sudah akrab dengan aktivitas berjualan. Jauh sebelum Sekuntum Snack berkembang dan produknya menjangkau berbagai wilayah di Pulau Lombok, Rihul lebih dulu membawa jajanan kering di dalam tas sekolahnya.

Dari balik tas sekolahnya, Rihul menyimpan dua hal sekaligus. Buku pelajaran dan jajanan kering yang ia jual kepada teman-temannya.

IKLAN

Kebiasaan itu ia jalani sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, Rihul membantu sang ibu mencari penghasilan dengan menjual jajanan sambil tetap mengikuti kegiatan belajar.

Rihul tumbuh bersama ibunya sebagai keluarga tanpa sosok ayah. Kondisi tersebut membuat keduanya belajar mandiri sejak lama.

“Saya dari SD sudah bungkus-bungkus di orang. Sambil sekolah saya juga jualan. Barang dagangan saya masuk tas, terutama yang kering,” ujarnya, Senin sore, 28 September 2026.

IKLAN

Kebiasaan itu tidak berhenti ketika Rihul memasuki SMP. Ia tetap membawa dagangan ke sekolah hingga duduk di bangku SMA dan kemudian melanjutkan kuliah.

Rihul tidak sekadar menjual. Ia juga belajar membuat jajanan kering dari keluarganya. Kemampuan itu turun dari sang nenek yang lebih dulu membuat kerupuk dan berbagai makanan ringan.

Dari pengalaman tersebut, Rihul bersama ibunya mulai mengembangkan produksi sendiri. Mereka tidak lagi hanya menjual produk orang lain, tetapi membuat jajanan kering untuk dipasarkan.

Perjalanan usaha mulai menemukan arah ketika Rihul duduk di bangku SMA. Pemerintah saat itu mengumpulkan pedagang bakulan dalam kelompok usaha kecil dan memberikan pembinaan.

Rihul bersama kelompoknya mendapat pendampingan, pelatihan, hingga dukungan modal tanpa agunan. Program tersebut mempertemukan mereka dengan pembinaan dari bidang pertanian dan UMKM.

“Dari situ kami terus berproduksi. Saya kuliah juga masih produksi. Bahkan saat sudah bekerja sebagai tenaga honorer, usaha ini tetap saya jalankan,” ujarnya.

Pengampas Buka Pasar

Produksi yang terus berjalan sempat menghadapi persoalan lain. Rihul kesulitan memasarkan jajanan dalam jumlah besar.

Situasi itu perlahan berubah ketika sejumlah pengampas atau distributor mulai datang langsung ke rumahnya. Mereka mengambil produk Sekuntum Snack untuk kemudian menjualnya ke berbagai wilayah.

Rihul menjaga rasa dan kualitas produknya. Dari satu pelanggan, informasi tentang produknya menyebar ke pengampas lain.

Kini, sekitar lima hingga enam pengampas rutin mengambil produk dari tempat produksinya. Beberapa lainnya datang secara berkala.

Jangkauan pemasarannya juga meluas. Produk Sekuntum Snack tidak hanya beredar di sekitar Kelayu, tetapi menjangkau Lombok Tengah, Lombok Utara hingga Sumbawa.

“Kalau yang sering datang sekitar lima atau enam orang. Tapi yang baru juga banyak. Ada yang ke Lombok Tengah, ke utara, sampai Lombok Utara. Sumbawa juga ada,” katanya.

Salah satu pengampas bahkan bisa mengambil hingga 1.500 bungkus produk dalam sekali datang. Produk lain mencapai sekitar 900 bungkus dalam satu kali pengambilan.

Rihul kini mengembangkan sekitar 25 jenis jajanan kering. Beberapa produk yang paling banyak diminati antara lain belinjo, jagung marning dan semprong.

Produksi berlangsung hampir setiap hari. Dua pekerja saja bisa mengolah sekitar 40 kilogram dan 25 kilogram bahan dalam sehari.

Bagi Rihul, usaha itu tidak hanya memberi penghasilan bagi dirinya dan keluarga. Sekuntum Snack juga membuka ruang kerja bagi warga sekitar.

“Yang membantu itu ada sekitar dua puluhan lebih, mungkin tiga puluhan. Mereka dari sekitar sini,” ujarnya.

Mayoritas pekerja yang Rihul libatkan merupakan perempuan. Mereka mengerjakan proses produksi hingga pengemasan, sementara pekerjaan tertentu seperti menggoreng dan pekerjaan lapangan juga melibatkan laki-laki.

Rihul melihat usaha tersebut memberi dampak langsung bagi pekerjanya. Salah seorang pekerja yang sudah belasan tahun bergabung bahkan mampu memperbaiki rumah, membeli sepeda motor, hingga membiayai anaknya kuliah dari penghasilan pekerjaan tersebut.

Bertahan dengan Rasa

Rihul mulai mengenalkan produk Sekuntum Snack secara lebih luas sekitar 1998–1999. Hampir tiga dekade kemudian, ia masih mempertahankan pola usaha yang sama: menjaga rasa, kualitas dan pelayanan.

Persaingan menjadi tantangan yang terus muncul. Banyak produsen makanan ringan baru bermunculan. Sebagian reseller juga sempat berpindah ke produk lain.

Namun, sejumlah pelanggan akhirnya kembali membeli produk Sekuntum Snack.

Rihul percaya kualitas menjadi alasan utama pelanggan tetap bertahan. Ia sendiri rutin memeriksa hasil produksi, mulai dari rasa, warna hingga kerapian kemasan.

“Saya harus tahu rasanya. Kalau adonannya kurang, saya tahu. Kalau bungkusannya kurang rapi, saya juga tahu. Semua harus kita kontrol,” katanya.

Kebiasaan itu tumbuh dari pengalaman panjang. Saat masih muda, Rihul kerap mencoba berbagai resep dan mengalami kegagalan sebelum menemukan rasa yang sesuai.

Ia juga tidak ingin pekerjanya mengurangi bahan demi mengejar keuntungan. Ketika harga tepung, minyak dan bahan lainnya naik, Rihul memilih mengatur pembelian bahan baku dan menekan tingkat kerusakan produksi.

“Kita lebih teliti dengan pekerjaannya supaya jangan terlalu banyak yang hancur. Sekarang bahan mahal, itu salah satu caranya,” ujarnya.

Nama Sekuntum sendiri memiliki filosofi tersendiri bagi Rihul. Ia mengambil gambaran sekuntum bunga yang meski hanya satu kuntum, aromanya mampu menyebar ke berbagai arah.

Filosofi itu pula yang ia bawa dalam perjalanan usahanya. Dari sebuah produksi kecil di Kelayu, aroma jajanan Sekuntum Snack kini menyebar melalui tangan para pengampas ke berbagai wilayah.

Bagi Rihul, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mudah. Namun, ia memilih tetap menjalankan usaha dengan konsisten.

“Jangan setengah-setengah. Apa pun risikonya kita hadapi. Kita harus percaya diri dan menikmati apa yang kita kerjakan,” katanya.

Dari tas sekolah yang dulu ia isi dengan jajanan, Rihul kini berdiri di tengah usaha yang mempekerjakan puluhan orang.

Sekuntum Snack tumbuh bukan hanya sebagai sumber penghasilan keluarga, tetapi juga menjadi ruang bagi warga sekitar untuk ikut mencari nafkah. (*)

Artikel Terkait