KesehatanLombok Timur

Puskesmas di Lombok Timur Belum Dapat Komando Pantau Menu SPPG

Lombok Timur (NTBSatu) – Pengawasan terhadap menu makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Lombok Timur masih menghadapi kendala. Puskesmas belum memiliki arahan langsung untuk memantau kesesuaian menu yang disajikan SPPG di wilayah kerjanya.

Ketua DPC Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Lombok Timur, Cok Iwan Jaya Mardiawan mengatakan, kondisi tersebut membuat puskesmas belum dapat menjalankan pemantauan secara maksimal.

Menurutnya, pada periode sebelumnya, puskesmas belum menerima komando dari kementerian untuk turun langsung memantau menu SPPG.

IKLAN

“Selama ini kami yang di puskesmas belum ada komando untuk memantau. Dari kementerian juga belum meminta kami untuk memantau,” ujarnya, Rabu, 9 September 2026.

Ia menyebut, kondisi itu turut memengaruhi pengawasan terhadap menu yang disajikan SPPG. Persagi mencatat masih ada menu yang belum sesuai dengan ketentuan, meski sebagian SPPG telah menjalankan menu sesuai standar.

“Masalah ketidaksesuaian menu yang ditampilkan itu masih belum kami pantau secara maksimal. Sebelumnya memang belum ada komando dari puskesmas untuk langsung menuju ke SPPG,” ujarnya.

IKLAN

Cok Iwan mengatakan, Persagi kini ingin mengambil peran lebih besar dalam pembinaan tenaga yang bekerja di SPPG. Organisasi profesi tersebut akan mendorong tenaga gizi SPPG bergabung sebagai anggota Persagi.

Menurutnya, keanggotaan itu penting agar tenaga gizi SPPG memiliki wadah untuk berkoordinasi dan meningkatkan kapasitas profesional. Persagi juga dapat membagikan informasi mengenai pelatihan yang relevan kepada para anggotanya.

“Kalau mereka menjadi anggota Persagi, ilmu-ilmu dan informasi tentang pelatihan akan kami share di sana,” katanya.

Puskesmas Mulai Bina SPPG pada 2027

Selain Persagi, puskesmas juga akan mendapat peran dalam pembinaan SPPG. Cok Iwan menyebut, Kementerian Kesehatan menyiapkan pembinaan rutin bagi SPPG melalui puskesmas mulai tahun 2027.

Puskesmas nantinya melakukan pembinaan setiap tiga bulan di wilayah kerja masing-masing. Persagi juga akan ikut mendampingi proses tersebut.

“Untuk tahun 2027 ada kegiatan khusus dari puskesmas melalui Kementerian Kesehatan. Setiap tiga bulan kami akan melakukan pembinaan berkelanjutan,” jelasnya.

Cok Iwan menilai, pembinaan penting untuk menekan risiko kesalahan dalam pelaksanaan penyediaan makanan. Menurutnya, persoalan teknis dalam proses penyediaan makanan dapat muncul kapan saja.

Karena itu, Persagi ingin memastikan tenaga gizi SPPG mendapat pendampingan dan peningkatan kapasitas secara berkelanjutan. Langkah tersebut juga diharapkan dapat mengurangi persoalan teknis yang berpotensi menjadi sorotan publik.

Saat ini, jumlah anggota Persagi Lombok Timur mencapai sekitar 300 orang. Namun, tenaga yang bekerja di SPPG dan sudah bergabung sebagai anggota Persagi baru sekitar 12 orang.

Persagi menargetkan seluruh tenaga gizi yang bekerja di SPPG bergabung ke dalam organisasi profesi tersebut hingga 2028. Target itu menjadi bagian dari upaya Persagi memperluas pembinaan dan pendampingan terhadap tenaga gizi di SPPG. (*)

Artikel Terkait