Kesehatan

Dinas Kesehatan NTB Pakai AI Deteksi Kasus TBC

Mataram (NTBSatu) – Pemprov NTB memperketat penanganan penyakit tuberkulosis (TBC). Upaya ini ditempuh lewat penguatan strategi Active Case Finding dalam penemuan kasus aktif serta penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD). Tujuannya, agar pelacakan dan pengobatan penderita berjalan optimal.

Kepala Dinas Kesehatan NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri mengungkapkan, capaian penemuan kasus TBC di wilayah NTB masih terbilang rendah. Ia menyebut, angkanya berada di bawah 60 persen dari estimasi proyeksi sekitar 19.000 kasus.

“Penemuan kasus ini memang masih di bawah 60 persen. Pada 2025 lalu, penemuannya baru sekitar 54 persen. Ini yang terus kita dorong agar bisa menembus angka di atas 80 persen,” kata Fikri di Mataram, Rabu, 30 September 2026.

IKLAN

Untuk mengejar target tersebut, Fikri membeberkan Pemprov NTB mengalokasikan anggaran khusus pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Perubahan untuk pengadaan cartridge alat tes diagnostik TBC.

Fikri menyebut, upaya ini berjalan beriringan dengan penguatan program inovasi Gebrak TB yang menyasar desa berdaya dan kantong kemiskinan ekstrem.

“Tahun ini kami anggarkan pembelian cartridge di anggaran perubahan. Ini vital karena skrining makin masif. Begitu temuan kasus meningkat, kebutuhan diagnostik dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) otomatis melonjak,” jelasnya.

IKLAN

Penjangkauan kasus di tingkat tapak juga mendapat sokongan alat rontgen portabel berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dari pemerintah pusat. Perangkat ini sudah disiagakan di dua wilayah prioritas, yakni Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Timur.

Lewat alat ini, petugas medis dapat mendatangi kantor-kantor desa untuk memindai kelompok masyarakat berisiko. “Rontgen bisa dibawa langsung ke lapangan. Begitu ada indikasi curiga TBC, hasilnya langsung dibaca oleh sistem AI yang terhubung,” tambah Fikri.

Skrining Naik, Stigma Jadi Ganjalan

Strategi penggabungan skrining TBC dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) turut mendongkrak partisipasi warga. Dinas Kesehatan NTB mencatatat sepanjang Juli hingga September 2026, angka skrining tercatat naik 12 hingga 15 persen.

Ia menambahkan, tantangan di lapangan belum sepenuhnya usai. Ia menyebut tingkat kesembuhan pasien yang terdeteksi sudah berada di atas 80 persen, stigma negatif di tengah masyarakat masih menjadi ganjalan utama.

“Kalau untuk pengobatan, pasien yang kami temukan rata-rata berhasil mendapat pengobatan di atas 80 persen. Kendalanya ada pada stigma masyarakat masih banyak yang malu dan enggan berobat. Kami berharap media ikut membantu mengedukasi warga,” tuturnya. (Japriani)

Artikel Terkait